Risale-i NurAl-Maktubat

Peristiwa Keempat

Al-Maktubat · hlm. 185

Dengan kemasyhuran yang mendekati mutawatir maknawi, dan sebagai sebab turunnya ayat اِنَّا جَعَلْنَا ف۪ى اَعْنَاقِهِمْ اَغْلاَلاً فَهِىَ اِلَى اْلاَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ ❊ وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ اَيْد۪يهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لاَ يُبْصِرُونَ menurut mayoritas ahli tafsir, para allâmah ahli tafsir serta para imam ahli hadis mengabarkan bahwa: Abu Jahal telah bersumpah, "Jika aku melihat Muhammad صلى الله عليه وسلم sedang bersujud, akan kupukul ia dengan batu ini." Ia pun mengambil sebuah batu besar lalu pergi. Ketika ia melihat beliau tengah bersujud, saat ia mengangkat batu itu hendak memukul, kedua tangannya terpaku di atas. Setelah Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم selesai dari salatnya lalu bangkit, barulah tangan Abu Jahal terlepas. Adapun terlepasnya itu; entah dengan izin Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, atau karena tidak diperlukan lagi.

Dan pula, dari kabilah Abu Jahal — dalam suatu riwayat — Walîd bin Mughîrah, juga hendak memukul Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, mengambil sebuah batu besar lalu pergi untuk memukul beliau saat sedang bersujud; namun matanya tertutup. Ia tidak melihat Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم di Masjidil Haram, lalu ia kembali. Ia pun tidak melihat orang-orang yang mengutusnya, hanya suara mereka yang ia dengar. Hingga tatkala Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم keluar dari salat, karena tidak diperlukan lagi, matanya pun kembali terbuka.

Dan pula, dengan riwayat sahih, mereka mengabarkan dari Abu Bakar ash-Shiddîq bahwa: Setelah surah تَبَّتْ يَدَا اَب۪ى لَهَبٍ turun, istri Abu Lahab yang digelari "Hammâlat al-Hathab" (pembawa kayu bakar), yang bernama Ummu Jamîl, mengambil sebuah batu lalu datang ke Masjidil Haram. Kala itu Abu Bakar dan Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم sedang duduk di sana. Matanya melihat Abu Bakar ash-Shiddîq, lalu ia bertanya: "Wahai Abu Bakar! Di manakah temanmu? Aku telah mendengar bahwa ia menghinaku dengan syair. Seandainya aku melihatnya, akan kupukul mulutnya dengan batu ini." Padahal Nabi صلى الله عليه وسلم berada di sisinya, namun ia tidak melihat beliau. Sudah tentu seorang Sultan Laulâka yang berada dalam penjagaan Ilahi tidak akan dapat dilihat oleh tukang kayu bakar Neraka semacam ini, sekalipun ia masuk ke hadapan beliau. Mustahil (batu itu) mengenai mulut beliau!..