Persoalan Keempat
Al-Maktubat · hlm. 375
Kebangsaan positif lahir dari kebutuhan internal kehidupan sosial; ia menjadi sebab saling menolong dan bersatu padu; ia menjamin suatu kekuatan yang bermanfaat; ia menjadi sarana yang lebih menguatkan ukhuwah Islamiah.
Paham kebangsaan positif ini hendaknya menjadi pelayan Islam, menjadi bentengnya, menjadi baju besinya.. bukan menggantikannya. Karena di dalam ukhuwah yang diberikan Islam terdapat seribu ukhuwah; di alam kekekalan dan alam barzah, ukhuwah itu tetap kekal. Karena itu, betapa pun kuatnya ukhuwah kebangsaan, ia dapat menjadi salah satu tabirnya. Jika tidak, menggantikannya di tempatnya adalah suatu kejahatan bodoh — bagai meletakkan batu-batu benteng di tempat khazanah intan di dalam benteng, lalu membuang intan-intan itu ke luar.
Maka wahai putra-putri tanah air ini yang merupakan ahli Al-Qur'an! Bukan enam ratus tahun, melainkan seribu tahun sejak masa Bani Abbasiyah, sebagai pembawa panji Al-Qur'an al-Hakîm, kalian telah menantang seluruh dunia dan mengumumkan Al-Qur'an. Kalian menjadikan kebangsaan kalian benteng bagi Al-Qur'an dan Islam. Kalian membungkam seluruh dunia, menolak serangan-serangan dahsyat, hingga menjadi mishdaq yang indah bagi ayat يَاْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُٓ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِن۪ينَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِر۪ينَ يُجَاهِدُونَ ف۪ى سَبِيلِ اللّٰهِ. Kini janganlah kalian mengikuti tipu daya Eropa dan munafik berwatak asing, dan hendaklah kalian menghindar serta takut menjadi mishdaq bagi seruan di awal ayat itu!