Persoalan Ketiga
Al-Maktubat · hlm. 373
Paham kebangsaan pada abad ini telah amat maju. Terutama para penindas Eropa yang licik membangkitkannya di kalangan umat Islam dalam bentuk yang negatif; supaya mereka mencabik-cabik lalu menelan umat Islam.
Lagi pula pada paham kebangsaan ada suatu cita rasa nafsani; ada suatu kelezatan yang penuh kelalaian; ada suatu kekuatan yang membawa kesialan. Karena itu, kepada mereka yang di zaman ini sibuk dengan kehidupan sosial tak dikatakan "Tinggalkanlah paham kebangsaan!" Namun paham kebangsaan itu dua bagian. Satu bagian negatif, membawa kesialan, merugikan; ia diberi makan dengan menelan yang lain, berlanjut dengan memusuhi yang lain, dan bersikap waspada. Ini menjadi sebab perseteruan dan kekacauan. Karena itulah dalam hadis mulia dinyatakan: َاْلاِسْلاَمِيَّةُ جَبَّتِ الْعَصَبِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةَ Dan Al-Qur'an pun berfirman: اِذْ جَعَلَ الَّذ۪ينَ كَفَرُوا ف۪ى قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَك۪ينَتَهُ عَلٰى رَسُولِه۪ وَعَلَى الْمُؤْمِن۪ينَ وَاَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوٰى وَكَانُٓوا اَحَقَّ بِهَا وَاَهْلَهَا وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَل۪يمًا
Maka hadis mulia ini dan ayat mulia ini secara pasti tak menerima kebangsaan negatif dan paham keunsuran. Karena kebangsaan Islam yang positif lagi suci tak menyisakan kebutuhan padanya.
Ya, gerangan unsur mana yang berjumlah tiga ratus lima puluh juta? Dan paham keunsuran itu, alih-alih Islam, dapatkah memberi pemiliknya sekian banyak saudara — bahkan saudara abadi? Ya, kebangsaan negatif secara sejarah telah menampakkan banyak kerugian.
Antara lain: karena Bani Umayyah mencampuradukkan sedikit paham kebangsaan ke dalam politik mereka, mereka membuat Alam Islam merajuk, dan mereka sendiri pun menanggung banyak bencana. Lagi pula karena bangsa-bangsa Eropa pada abad ini sangat mengedepankan paham keunsuran, selain permusuhan abadi yang penuh kesialan antara Prancis dan Jerman; peristiwa dahsyat dalam Perang Dunia pun menunjukkan betapa merugikannya kebangsaan negatif bagi jenis manusia. Dan pada awal Kebebasan (Hürriyet) di negeri kita — seperti "perpecahan bangsa" yang disebut "kekacauan bahasa bangsa" pada masa runtuhnya benteng Babil, dan berpencarnya mereka karena perpecahan itu — dengan paham kebangsaan negatif, terbentuklah banyak perkumpulan bernama "klub" — dipelopori Rum dan Armenia — yang menjadi sebab perpecahan kalbu, berupa perhimpunan para nasionalis yang beragam. Dan keadaan mereka yang hingga kini masuk ke tenggorokan bangsa asing serta yang berantakan menunjukkan kerugian kebangsaan negatif.
Adapun kini, di antara unsur dan kabilah Islam yang paling saling membutuhkan, paling saling terzalimi, paling saling fakir, dan tertindas di bawah dominasi asing, memandang asing satu sama lain dengan paham kebangsaan dan menganggap satu sama lain sebagai musuh adalah suatu bencana yang tak terlukiskan. Persis dengan suatu kegilaan — bagai membelakangi ular-ular mengerikan demi menghadapi gigitan seekor lalat — pada saat ketamakan Eropa yang tak kenal kenyang, bagai naga besar, membuka cakarnya; alih-alih mengindahkan mereka, bahkan secara maknawi menolong mereka, lalu memelihara permusuhan dengan paham keunsuran negatif terhadap sesama warga di provinsi timur atau saudara seagama di sebelah selatan, dan mengambil sikap bermusuhan terhadap mereka — di samping banyak kerugian dan bahayanya; di antara individu selatan itu tak ada musuh yang perlu dihadapi. Ada cahaya Al-Qur'an yang datang dari selatan, sinar Islam telah datang; ia ada di dalam diri kita dan terdapat di mana-mana.
Maka memusuhi saudara seagama itu; secara tak langsung menyentuh Islam dan Al-Qur'an. Adapun memusuhi Islam dan Al-Qur'an adalah semacam permusuhan terhadap kehidupan dunia dan kehidupan akhirat seluruh warga ini. Merobohkan batu-batu fondasi dua kehidupan dengan dalih "aku hendak berkhidmat kepada kehidupan sosial atas nama semangat kebangsaan"; itu bukan semangat kebangsaan, melainkan kebodohan!