Risale-i NurAl-Maktubat

Persoalan Kelima

Al-Maktubat · hlm. 376

Bangsa-bangsa yang bangkit di Asia berpegang pada paham kebangsaan, dan bergerak dengan meniru Eropa dalam segala segi, bahkan mengorbankan banyak kesucian di jalan itu. Padahal postur nilai setiap bangsa menuntut pakaian yang berbeda. Sekalipun sejenis kain, coraknya haruslah berbeda-beda. Kepada seorang wanita tak dikenakan pakaian polisi. Sebagaimana kepada seorang guru tua tak dikenakan pakaian wanita ala tango.. "Peniruan membabi buta pun sering kali menjadi kekonyolan." Karena:

Pertama: jika Eropa adalah sebuah toko, sebuah barak; maka Asia berkedudukan sebagai sebuah ladang, sebuah masjid. Seorang pemilik toko pergi berdansa, seorang petani tak dapat. Keadaan barak dan keadaan masjid tak sama.

Lagi pula, kemunculan kebanyakan nabi di Asia dan datangnya kebanyakan filsuf di Eropa adalah suatu isyarat takdir azali, bahwa yang akan menyadarkan, memajukan, dan mengatur bangsa-bangsa Asia adalah agama dan kalbu. Sedangkan filsafat dan hikmah hendaknya menolong agama dan kalbu, bukan menggantikannya.

Kedua: menganggap agama Islam serupa agama Kristen lalu bersikap acuh terhadap agama seperti Eropa adalah kesalahan yang amat besar. Pertama: Eropa memiliki agamanya. Para pembesar Eropa seperti Wilson, Lloyd George, dan Venizelos yang fanatik terhadap agama mereka bagai pendeta adalah saksi bahwa Eropa memiliki agama, bahkan dari satu segi fanatik.

Ketiga: menganggap Islam serupa agama Kristen adalah kias dengan perbedaan (qiyas ma'al-fâriq), kias yang keliru. Karena Eropa tatkala fanatik terhadap agamanya tidaklah beradab; ia meninggalkan fanatisme, lalu menjadi beradab. Lagi pula agama, di kalangan mereka, membuahkan perang saudara selama tiga ratus tahun. Karena di tangan penindas zalim ia menjadi sarana menggilas rakyat jelata, fakir, dan ahli pikir; maka pada mereka umumnya sementara timbul rasa merajuk terhadap agama. Adapun dalam Islam, sejarah menjadi saksi bahwa ia tak menjadi sebab perang saudara kecuali satu kali. Lagi pula kapan pun umat Islam sungguh-sungguh berpegang pada agama, mereka maju tinggi dibanding masa itu. Saksinya adalah Negara Islam Andalusia, guru terbesar Eropa.

Dan kapan pun jamaah Islam bersikap acuh terhadap agama, mereka jatuh ke keadaan berantakan dan merosot.

Lagi pula Islam, karena melindungi fakir dan rakyat jelata dengan ribuan persoalan penuh kasih seperti kewajiban zakat dan pengharaman riba; membangkitkan serta menyadarkan akal dan ilmu dengan kalimat seperti اَفَلاَ يَعْقِلُونَ ❊ اَفَلاَ يَتَفَكَّرُونَ ❊ اَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ; dan melindungi ahli ilmu — dari segi itu Islam senantiasa menjadi benteng dan tempat berlindung bagi fakir dan ahli ilmu. Karena itu, tak ada sebab apa pun untuk merajuk terhadap Islam.

Rahasia hikmah perbedaan Islam dengan Kristen dan agama lain adalah ini: asas Islam adalah tauhid murni; ia tak memberi pengaruh hakiki kepada perantara dan sebab, tak memberi nilai dari segi penciptaan dan maqam. Adapun Kristen, karena menerima paham velediyet (yakni bahwa Allah memiliki anak), memberi suatu nilai kepada perantara dan sebab, tak mematahkan keakuan. Ia seakan memberikan suatu manifestasi rububiyah Ilahi kepada para orang suci dan pembesar mereka. Mereka menjadi mishdaq ayat اِتَّخَذُٓوا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللّٰهِ. Karena itulah, orang-orang Kristen yang secara duniawi berada pada martabat tertinggi, di samping memelihara kesombongan dan keakuan mereka, menjadi seorang beragama yang fanatik seperti mantan Presiden Amerika Wilson. Adapun dalam Islam yang merupakan agama tauhid murni, orang-orang yang secara duniawi berada pada martabat tinggi, entah akan meninggalkan keakuan dan kesombongan, atau akan meninggalkan keberagamaan sampai derajat tertentu. Karena itu sebagian mereka bersikap acuh, bahkan menjadi tak beragama.