Risale-i NurAl-Maktubat

Persoalan Keenam

Al-Maktubat · hlm. 378

Kepada mereka yang melampaui batas dalam kebangsaan negatif dan paham keunsuran, kami berkata:

Pertama: muka dunia ini, terutama negeri kita, sejak zaman dahulu di samping mengalami banyak migrasi dan perubahan; setelah Pusat Pemerintahan Islam terbentuk di tanah air ini, banyak dari bangsa lain bagai laron menjatuhkan diri ke dalamnya lalu bermukim. Maka dalam keadaan ini, seandainya Lauh Mahfuz dibuka, barulah unsur-unsur hakiki dapat dipisahkan satu sama lain. Jika demikian, membangun gerakan dan semangat di atas paham keunsuran hakiki adalah tak bermakna dan amat merugikan. Karena itulah, salah seorang pemimpin nasionalis negatif dan pemuja keunsuran, yang amat acuh terhadap agama, terpaksa berkata: "Jika bahasa dan agama satu, maka bangsa satu." Karena demikian, yang dipandang bukanlah keunsuran hakiki; melainkan hubungan bahasa, agama, dan tanah air. Jika ketiganya satu, ia memang bangsa yang kuat; jika salah satunya kurang, ia tetap masuk dalam lingkup kebangsaan.

Kedua:

Kami akan menerangkan sebagai contoh dua faedah dari ratusan faedah yang diberikan kebangsaan suci Islam kepada kehidupan sosial putra tanah air ini:

Pertama: yang membuat negara Islam ini — tatkala hanya berpenduduk dua puluh sampai tiga puluh juta — memelihara kehidupan dan keberadaannya menghadapi seluruh negara besar Eropa, adalah pikiran yang datang dari cahaya Al-Qur'an dalam tentara negara ini: "Jika aku mati, aku syahid; jika aku membunuh, aku gazi." Dengan kegairahan dan kecintaan yang sempurna ia menyambut kematian sambil tersenyum ke wajahnya. Ia senantiasa menggetarkan Eropa. Gerangan, hal apa di dunia yang dapat ditunjukkan untuk menimbulkan pengorbanan luhur seperti itu dalam ruh para prajurit yang berpikiran sederhana dan berkalbu jernih? Semangat kebangsaan apa yang dapat menggantikannya? Dan yang dapat membuat seseorang mengorbankan kehidupan dan seluruh dunianya dengan cinta?

Kedua: kapan pun naga-naga Eropa (negara-negara besar) menampar negara Islam ini, mereka membuat tiga ratus lima puluh juta Muslim menangis dan mengaduh. Dan para pemilik jajahan itu menahan tangan mereka agar tak membuat mereka mengaduh dan merintih; saat mengangkat tangan, mereka menurunkannya kembali. Kekuatan pelindung maknawi yang tetap — yang dari segi apa pun tak dapat diremehkan — kekuatan mana yang dapat menggantikannya? Tunjukkanlah! Ya, kekuatan pelindung maknawi yang agung itu, janganlah dibuat tersinggung dengan kebangsaan negatif dan semangat yang penuh kesombongan!