Persoalan Ketujuh (Sebuah Persoalan yang Penuh Ibrah)
Al-Maktubat · hlm. 392
[Aku terpaksa menerangkan suatu kemuliaan rabbani dan perlindungan Ilahi yang murni berkaitan dengan khidmat Al-Qur'an — dengan petunjuk tujuh tanda yang akan menguatkan kekuatan maknawi — kepada sebagian sahabatku yang terpapar waham dan jatuh ke keputusasaan, agar aku menyelamatkan sebagian sahabatku yang berurat lemah itu. Empat dari tujuh tanda itu; tatkala mereka sahabat, mereka mengambil sikap bermusuhan — bukan terhadap pribadiku, melainkan dari segi kekhidmatanku kepada Al-Qur'an — semata demi suatu maksud duniawi; lalu mereka menerima tamparan berupa kebalikan maksud itu. Adapun tiga dari tujuh tanda itu, mereka sahabat sejati dan senantiasa sahabat; namun untuk sementara mereka tak menunjukkan sikap kesatria yang dituntut persahabatan, supaya mereka meraih perhatian ahli dunia dan suatu maksud duniawi serta merasa aman. Padahal tiga sahabatku itu, sayangnya, masing-masing menerima suatu teguran berupa kebalikan maksud mereka.]
Dari empat sahabat lahiriah pertama yang kemudian menunjukkan sikap bermusuhan:
Pertama: seorang direktur, dengan beberapa perantara, memohon. Ia meminta satu naskah dari Kelimat Kesepuluh. Kuberikan kepadanya. Adapun ia, demi kenaikan pangkat, meninggalkan persahabatanku dan mengambil sikap bermusuhan. Ia menyerahkannya kepada gubernur dalam bentuk keluhan dan laporan. Sebagai suatu jejak kemuliaan khidmat Al-Qur'an, bukannya naik pangkat, ia justru dipecat.
Kedua: seorang direktur lain, tatkala sahabat, demi kehormatan atasannya dan dengan pikiran meraih perhatian ahli dunia, mengambil sikap menyaingi dan bermusuhan — bukan terhadap pribadiku, melainkan dari segi kekhidmatanku; ia menerima tamparan berupa kebalikan maksudnya. Dalam suatu perkara yang tak diduga, ia dihukum dua setengah tahun. Kemudian ia meminta doa dari seorang pengabdi Al-Qur'an. Insya Allah mungkin ia akan selamat, karena telah didoakan untuknya.
Ketiga: seorang guru, tatkala tampak sahabat, aku pun memandangnya sahabat. Kemudian, untuk pindah dan menetap di Barla, ia memilih sikap bermusuhan; ia menerima tamparan berupa kebalikan maksudnya. Ia dilempar dari keguruan ke kemiliteran. Ia dijauhkan dari Barla.
Keempat: seorang guru (karena kulihat ia hafiz dan taat) kutunjukkan persahabatan yang tulus dengan niat bahwa ia akan bersahabat denganku dalam khidmat Al-Qur'an. Kemudian ia, untuk meraih perhatian ahli dunia, mengambil sikap yang amat dingin dan penakut terhadap kami hanya karena satu kata seorang pejabat. Kemudian ia menerima tamparan berupa kebalikan maksudnya. Ia menerima teguran keras dari inspekturnya dan dipecat.
Maka sebagaimana empat orang ini menerima tamparan demikian karena mengambil sikap bermusuhan, tiga sahabatku pun — karena tak menunjukkan sikap kesatria yang dituntut persahabatan sejati — disadarkan dengan kebalikan maksud mereka, bukan berupa tamparan, melainkan semacam peringatan:
Pertama: seorang tokoh terhormat yang merupakan muridku yang amat penting, sungguh-sungguh, dan hakiki, senantiasa menulis dan menyebarkan Kalimat. Dengan datangnya seorang pejabat besar yang kacau dan terjadinya suatu peristiwa; ia menyembunyikan Kalimat yang ia tulis, dan untuk sementara meninggalkan penyalinan. Supaya ia tak mengalami kesulitan dari ahli dunia dan tak menanggung kesukaran serta aman dari kejahatan mereka. Padahal sebagai suatu jejak kesalahan akibat penghentian sementara khidmat Al-Qur'an itu, suatu bala berupa hukuman seribu lira selama setahun terus-menerus ditempatkan di depan matanya. Tatkala ia berniat menyalin dan kembali ke keadaan lamanya; ia terbebas dari dakwaan itu, dan segala puji bagi Allah, memperoleh kebebasan. Bersama kefakiran keadaannya, ia selamat dari seribu lira.
Kedua: seorang sahabatku yang sejak lima tahun kesatria, sungguh-sungguh, dan pemberani, untuk meraih prasangka baik dan perhatian ahli dunia serta seorang atasan yang baru datang, meski ia tetanggaku, tanpa berpikir dan tanpa sengaja selama beberapa bulan tak menemuiku. Bahkan pada Idul Fitri dan Ramadan pun ia tak mampir. Padahal dengan kebalikan maksudnya, perkara desa berakhir, pengaruhnya patah.
Ketiga: seorang hafiz yang menemuiku sekali-dua kali seminggu telah menjadi imam. Untuk mengenakan sorban, ia meninggalkanku dua bulan. Bahkan pada Idul Fitri ia tak datang menemuiku. Berbeda dengan harapan, dengan kebalikan maksudnya, meski ia menjadi imam tujuh-delapan bulan, secara tak biasa ia tak diizinkan mengenakan sorban.
Maka kejadian semacam ini banyak. Namun agar tak melukai hati sebagian orang, aku tak menyebutkannya. Betapa pun ini masing-masing tanda yang lemah, tetapi pada kumpulannya terasa suatu kekuatan. Dengannya timbul keyakinan bahwa bukan terhadap pribadiku — karena aku tak memandang nafsuku layak akan kemuliaan apa pun — melainkan dari titik khidmat Al-Qur'an, murni dari segi itu, kami berkhidmat di bawah suatu kemuliaan Ilahi dan perlindungan rabbani. Sahabat-sahabatku hendaknya memikirkan ini, jangan terjerat waham. Karena ini suatu kemuliaan Ilahi bagi kekhidmatanku, dan karena ia sebab syukur, bukan sebab bangga, dan karena ada firman وَ اَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ.. berdasarkan rahasia ini, aku menerangkannya secara khusus kepada sahabat-sahabatku.