Risale-i NurAl-Maktubat

Persoalan Keenam

Al-Maktubat · hlm. 389

Ketiga: pada Pembahasan Pertama yang bernama perdebatan dengan setan, sebagian ungkapan tentang jalan setan terasa amat kasar. Meski telah diperhalus dengan kata "Sekali-kali tidak, sekali-kali tidak!" dan dengan ikatan berupa pengandaian yang mustahil, ia masih membuatku gemetar. Kemudian pada bagian yang dikirim kepada kalian ada beberapa perhalusan kecil; dapatkah kalian mengoreksi naskah kalian dengannya? Aku mewakilkan penilaian kepada kalian; ungkapan yang kalian pandang tak perlu dapat kalian buang.

Saudaraku yang mulia, pembahasan itu amat penting. Karena guru ahli zindik adalah setan. Jika setan tak dibungkam, para peniruannya tak akan yakin. Karena Al-Qur'an al-Hakîm menyebutkan ungkapan kasar orang-orang kafir untuk menolaknya, aku diberi suatu keberanian; sehingga demi menunjukkan kerapuhan total jalan setani ini, aku menggunakan dengan gemetar — dalam bentuk pengandaian yang mustahil — ungkapan-ungkapan dungu yang terpaksa diterima golongan setan sesuai tuntutan jalan mereka, dan yang mau tak mau secara maknawi akan mereka ucapkan dengan lisan jalan mereka. Namun dengan penggunaan itu, kami menyudutkan mereka ke dasar sumur, menguasai seluruh medan atas nama Al-Qur'an, dan menyingkap kepalsuan mereka.

Pandanglah kemenangan ini di dalam perumpamaan berikut. Misalnya: kita andaikan sebuah menara amat tinggi yang kepalanya menyentuh langit, dan di bawah menara itu digali sebuah sumur hingga ke pusat bola Bumi. Maka seorang tokoh yang azannya terdengar seluruh penduduk negeri; untuk membuktikan di posisi mana ia berada — dari kepala menara hingga dasar sumur — dua kelompok berdebat. Kelompok pertama berkata: "Ia di kepala menara, mengumandangkan azan ke alam semesta. Karena kita mendengar azannya; ia hidup, luhur. Sekalipun tak setiap orang melihatnya di tempat tinggi itu; setiap orang, sesuai derajatnya, melihatnya di suatu maqam, di suatu anak tangga saat ia naik dan turun, dan dengannya mengetahui bahwa ia naik ke atas, dan di mana pun ia tampak, ia pemilik maqam yang tinggi." Adapun golongan setani lagi dungu berkata: "Tidak, maqamnya bukan kepala menara; di mana pun ia tampak, maqamnya adalah dasar sumur." Padahal tak seorang pun pernah melihatnya di dasar sumur, dan tak dapat melihatnya. Seandainya ia berat bagai batu dan tak berikhtiar, tentu ia akan berada di dasar sumur, dan seseorang akan melihatnya.

Kini medan perang dua kelompok yang berlawanan ini adalah jarak panjang dari kepala menara hingga dasar sumur. Jamaah ahli cahaya yang disebut Hizbullah menunjukkan tokoh muazin itu di kepala menara kepada mereka yang berpandangan tinggi. Dan kepada mereka yang pandangannya tak naik ke derajat itu dan yang pandangannya terbatas, mereka menunjukkan muazin teragung itu di suatu anak tangga sesuai derajat mereka. Suatu tanda kecil sudah cukup bagi mereka dan membuktikan bahwa tokoh itu bukan benda mati bagai batu, melainkan seorang insan kamil yang naik ke atas kapan saja ia mau, tampak, dan mengumandangkan azan. Adapun golongan lain yang disebut golongan setan berkata: "Entah tunjukkan ia di kepala menara kepada setiap orang, atau maqamnya adalah dasar sumur." demikian mereka menghukumi secara dungu. Karena kedunguan mereka, mereka tak tahu bahwa tak ditunjukkannya ia di kepala menara kepada setiap orang berasal dari tak naiknya pandangan setiap orang ke sana. Lagi pula dengan cara kilah, mereka hendak menguasai seluruh jarak kecuali kepala menara.

Maka untuk menyelesaikan perdebatan dua jamaah itu, seseorang tampil dan berkata kepada golongan setan itu: Wahai golongan celaka! Jika maqam muazin teragung itu adalah dasar sumur; ia haruslah mati, tak berkekuatan, bagai batu. Dan yang tampak di anak tangga sumur dan derajat menara haruslah bukan dia. Karena kalian melihatnya demikian; tentu ia tak akan tak berkekuatan, tak berhakikat, dan mati. Kepala menara akan menjadi maqamnya. Jika demikian, entah kalian tunjukkan ia di dasar sumur — yang dengan cara apa pun tak dapat kalian tunjukkan, dan tak dapat kalian buat siapa pun mendengar bahwa ia berada di sana — atau diamlah! Medan pembelaan kalian adalah dasar sumur. Adapun medan lain dan jarak panjang itu adalah medan jamaah yang diberkahi ini; di mana pun mereka menunjukkan tokoh itu selain di dasar sumur, mereka memenangkan dakwaan.

Maka bagai perumpamaan ini, pembahasan perdebatan setani mengambil jarak panjang dari Arasy ke bumi dari tangan golongan setan, memaksa dan menyudutkan golongan setan. Ia meninggalkan bagi mereka posisi yang paling tak masuk akal, paling mustahil, dan paling dibenci. Ia menjejalkan mereka ke suatu lubang paling sempit yang tak dapat dimasuki siapa pun, dan menguasai seluruh jarak atas nama Al-Qur'an.

Jika dikatakan kepada mereka: "Bagaimana Al-Qur'an?" Mereka berkata: "Ia sebuah kitab manusia yang indah dan memberi pelajaran akhlak." Saat itu dikatakan kepada mereka: Kalau begitu ia perkataan Allah, dan kalian terpaksa menerimanya demikian. Karena menurut jalan kalian, kalian tak dapat mengatakan "Indah"!

Dan jika dikatakan kepada mereka: "Bagaimana kalian mengenal Nabi صلى الله عليه وسلم?" Mereka berkata: "Seorang yang baik akhlaknya, amat cerdas." Saat itu akan dikatakan kepada mereka: "Kalau begitu berimanlah. Karena jika ia baik akhlaknya dan cerdas, bagaimanapun ia Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Karena ucapan 'indah' kalian ini tak berada dalam batas kalian; menurut jalan kalian, kalian tak dapat mengatakannya." Dan demikianlah... Segi-segi hakikat lain dapat diterapkan pada isyarat-isyarat lain dalam perumpamaan itu.

Maka berdasarkan rahasia ini, Pembahasan Pertama yang berupa perdebatan dengan setan itu tak membuat ahli iman butuh mengetahui mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم dan mempelajari bukti-bukti pastinya untuk memelihara iman mereka. Suatu tanda kecil, suatu dalil kecil, menyelamatkan iman mereka. Bahwa ia tak berada di dasar sumur, di dasar safilin — setiap keadaan Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم, setiap tabiat Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم, setiap sikap Nabawi صلى الله عليه وسلم berkedudukan sebagai suatu mukjizat, membuktikan bahwa ia memiliki suatu maqam di puncak 'illiyyin.