Persoalan Kelima
Al-Maktubat · hlm. 388
Kedua: dalam suratmu engkau menanyakan maksud lain: "Apakah semata 'Lâ ilâha illallâh' cukup? Yakni, jika seseorang tak mengucapkan 'Muhammadun Rasûlullâh', dapatkah ia menjadi ahli keselamatan?" Jawaban ini panjang. Untuk sekarang hanya sedemikian kami katakan:
Dua kalimat dari kalimat syahadat tak terpisahkan satu sama lain, saling membuktikan, saling mengandung, tak dapat tanpa yang lain. Karena Nabi صلى الله عليه وسلم adalah Penutup para Nabi, pewaris seluruh nabi; tentu ia berada di kepala seluruh jalan pencapaian. Di luar jalan raya besarnya tak dapat ada jalan hakikat dan keselamatan. Para imam seluruh ahli makrifat dan tahkik, seperti Sa'di asy-Syirazi, berkata: مُحَالَسْتْ سَعْد۪ى بَرَاهِ نَجَاتْ ❊ ظَفَرْ بُرْدَنْ جُزْ دَرْ پَىِ مُصْطَفَى
Lagi pula mereka berkata كُلُّ الطُّرُقِ مَسْدُودٌ اِلاَّ الْمِنْهَاجَ الْمُحَمَّدِىَّ. Namun kadang terjadi: meski mereka berjalan di jalan Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم, mereka tak tahu bahwa itu jalan Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم dan bahwa itu berada di dalam jalan Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم. Dan kadang terjadi: mereka tak mengenal Nabi صلى الله عليه وسلم, tetapi jalan yang mereka tempuh adalah bagian dari jalan Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم.
Dan kadang terjadi: dalam suatu keadaan tarikan (jazbah), atau suatu keadaan tenggelam (istigrak), atau suatu keadaan menyendiri dan badui, tanpa memikirkan jalan Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم, semata "Lâ ilâha illallâh" mencukupi mereka.
Namun demikian, segi yang paling penting adalah ini: "ketiadaan penerimaan" itu satu hal, "penerimaan ketiadaan" itu hal lain. Jenis ahli jazbah dan ahli uzlah ini, atau orang-orang yang tak mendengar atau tak mengetahui; mereka tak mengenal Nabi صلى الله عليه وسلم atau tak memikirkannya untuk menerimanya. Pada titik itu mereka tetap jahil. Terhadap makrifat Ilahi, mereka hanya mengetahui "Lâ ilâha illallâh". Mereka ini dapat menjadi ahli keselamatan. Namun orang-orang yang mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengetahui dakwahnya, jika tak membenarkannya, ia tak mengenal Allah. Tentang dirinya, semata kalimat "Lâ ilâha illallâh" tak dapat mengungkapkan tauhid yang menjadi sebab keselamatan. Karena keadaan itu bukan "ketiadaan penerimaan" yang jahil — yang sampai derajat tertentu menjadi sebab uzur — melainkan itu adalah "penerimaan ketiadaan" dan pengingkaran. Orang yang mengingkari Muhammad صلى الله عليه وسلم — yang dengan mukjizat dan jejaknya menjadi sumber kebanggaan alam semesta dan sumber kemuliaan jenis manusia — tentu dari segi apa pun tak dapat meraih cahaya apa pun dan tak mengenal Allah. Bagaimanapun, untuk sekarang sekian ini cukup.