Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 386
Seluruh Kalimat dan seluruh Surat menunjukkan jalan raya itu. Untuk sekarang, sebagaimana kalian minta, kami akan mengisyaratkan secara ringkas kepada suatu hujahnya yang agung serta bukti yang luas dan panjang. Yaitu:
Di alam, setiap sesuatu menyerahkan seluruh sesuatu kepada Khâliq-nya sendiri. Dan di dunia, setiap jejak menunjukkan bahwa seluruh jejak adalah jejak pembuatnya sendiri. Dan di alam semesta, setiap perbuatan penciptaan membuktikan bahwa seluruh perbuatan penciptaan adalah perbuatan pelakunya sendiri. Dan setiap nama yang bertajalli pada makhluk mengisyaratkan bahwa seluruh asma adalah nama dan gelar Yang Dinamai-nya sendiri. Artinya, setiap sesuatu secara langsung adalah suatu bukti keesaan dan suatu jendela makrifat Ilahi. Ya, setiap jejak — terutama jika ia hidup — adalah suatu miniatur kecil alam semesta, suatu benih alam, dan suatu buah bola Bumi. Jika demikian, yang menciptakan miniatur kecil itu, benih itu, dan buah itu, bagaimanapun adalah Ia pula yang menciptakan seluruh alam semesta. Karena pencipta buah tak mungkin selain pencipta pohonnya. Jika demikian, sebagaimana setiap jejak menyerahkan seluruh jejak kepada pembuatnya.. setiap perbuatan pun menyandarkan seluruh perbuatan kepada pelakunya. Karena kita melihat bahwa setiap perbuatan penciptaan tampak sebagai ujung suatu kanun penciptaan yang luas hingga meliputi kebanyakan makhluk, dan panjang dari zarah hingga matahari-matahari. Artinya, siapa pun pemilik perbuatan penciptaan parsial itu, ia haruslah pelaku seluruh perbuatan yang terikat dengan kanun menyeluruh yang meliputi makhluk itu dan membentang dari zarah hingga matahari. Ya, yang menghidupkan seekor lalat, akan menjadi Zat yang menciptakan seluruh serangga dan hewan kecil serta menghidupkan Bumi. Dan siapa yang memutar zarah bagai penari mevlevi, ia haruslah Zat yang sama yang menggerakkan makhluk secara berantai, hingga mengedarkan Matahari beserta planet-planetnya. Karena kanun adalah suatu rangkaian, perbuatan terikat dengannya.
Artinya, sebagaimana setiap jejak menyerahkan seluruh jejak kepada pembuatnya, dan setiap perbuatan penciptaan memberikan seluruh perbuatan kepada pelakunya; persis demikian pula: setiap nama yang bertajalli di alam semesta menyandarkan seluruh nama kepada Yang Dinamai-nya sendiri dan membuktikan bahwa ia adalah gelar-gelar-Nya. Karena asma yang bertajalli di alam semesta saling masuk satu sama lain bagai lingkaran-lingkaran yang bersarang dan bagai tujuh warna dalam cahaya, saling menolong, saling menyempurnakan jejak, dan saling menghias. Misalnya: tatkala nama Muhyî bertajalli pada suatu benda dan pada saat memberi kehidupan, nama Hakîm pun bertajalli, menata dengan hikmah jasad yang menjadi sarang bagi yang hidup itu. Pada saat yang sama nama Karîm pun bertajalli; ia menghias sarangnya. Pada saat yang sama tampak pula tajalli nama Rahîm; ia menyiapkan dengan kasih sayang kebutuhan jasad itu. Pada saat yang sama tampak tajalli nama Razzâq; ia memberi rezeki lahir dan maknawi yang diperlukan bagi kelangsungan yang hidup itu dengan cara yang tak diduga. Dan demikianlah... Artinya, milik siapa nama Muhyî, milik-Nya pula nama Hakîm yang bercahaya dan meliputi di alam semesta, dan milik-Nya pula nama Rahîm yang mentarbiah seluruh makhluk dengan kasih sayang, dan nama Razzâq yang memberi makan seluruh yang hidup dengan kemurahan pun adalah nama dan gelar-Nya. Dan demikianlah...
Artinya, setiap nama, setiap perbuatan, setiap jejak adalah suatu bukti keesaan sedemikian; suatu meterai keesaan dan suatu stempel keahadan yang menunjukkan bahwa seluruh kalimat yang tertulis di halaman-halaman alam semesta dan baris-baris abad — yang disebut makhluk — adalah ukiran pena penulisnya. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مَنْ قَالَ ﴿اَفْضَلُ مَا قُلْتُ اَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْل۪ى لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ﴾ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَصَحْبِه۪ وَسَلِّمْ