Perumpamaan Kedua
Al-Maktubat · hlm. 91
Misalnya, seandainya pada keempat dinding sebuah rumah terdapat empat buah cermin setinggi badan, maka betapapun rumah itu terpantul di dalam masing-masing cermin bersama tiga cermin lainnya, tiap-tiap cermin tetap mengandung segala sesuatu di dalam dirinya menurut bentuk dan warnanya sendiri; ia laksana sebuah rumah mitsâli yang khas bagi dirinya. Sekarang, seandainya dua orang masuk ke rumah itu; yang seorang memandang kepada satu cermin saja, lalu berkata, "Segala sesuatu ada di dalam cermin ini." Tatkala ia mendengar tentang cermin-cermin yang lain dan tentang bentuk-bentuk di dalam cermin-cermin itu, ia menerapkan apa yang didengarnya itu pada sebuah sudut kecil dari satu cermin tersebut — yang telah menjadi bayangan dua tingkat, yang hakikatnya telah mengecil dan berubah. Dan ia berkata, "Beginilah aku melihatnya, maka demikianlah hakikatnya." Orang yang satu lagi berkata kepadanya, "Ya, engkau memang melihat; dan apa yang engkau lihat itu benar. Akan tetapi, pada kenyataannya dan pada dirinya sendiri (nafsul-amri), bentuk hakiki dari hakikat itu tidaklah demikian. Ada cermin-cermin lain, seperti cermin yang engkau perhatikan itu; benda-benda itu tidaklah sekecil yang engkau lihat, dan bukan pula bayangan dari bayangan."
Demikianlah, tiap-tiap asma Ilahi menghendaki cermin tersendiri, satu demi satu. Dan misalnya: karena ar-Rahmân dan ar-Razzâq itu hakiki dan asli, keduanya menghendaki adanya makhluk yang layak bagi keduanya, yang membutuhkan rezeki dan kasih sayang. Sebagaimana ar-Rahmân menghendaki adanya makhluk-makhluk bernyawa yang hakiki dan yang membutuhkan rezeki di dalam sebuah dunia yang hakiki, demikian pula ar-Rahîm menghendaki adanya sebuah surga yang hakiki. Seandainya hanya nama al-Maujûd, Wâjib al-Wujûd, dan Wâhid-Ahad yang dianggap hakiki, sedangkan nama-nama yang lain diperlakukan sebatas menjadi bayangan di dalam nama-nama itu, maka hal itu menjadi suatu kezaliman terhadap asma-asma tersebut.
Demikianlah, dari rahasia inilah maka jalan raya agung itu sudah pasti merupakan jalan para pemilik wilâyah kubrâ, yaitu para sahabat, ashfiyâ, tabiin, para imam Ahli Bait, dan para imam mujtahid — yang merupakan murid-murid lapisan pertama Al-Qur'an secara langsung. سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُاَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى مَنْ اَرْسَلْتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَم۪ينَ وَ عَلٰٓى اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ اَجْمَع۪ينَ
--