Risale-i NurAl-Maktubat

Perumpamaan Pertama

Al-Maktubat · hlm. 299

Misalnya sebutir zarah bening lagi mengilap, seandainya tinggal sendirian dengan dirinya, tak dapat menampung cahaya sebesar kepala korek dan tak dapat menjadi sumbernya. Ia hanya dapat memiliki cahaya parsial sekadar jasad dan kuiditasnya sendiri, laksana zarah kecil. Namun jika zarah itu terhubung kepada matahari lalu membuka mata memandangnya; ketika itu ia dapat menampung matahari raksasa itu beserta cahayanya, tujuh warnanya, panasnya, bahkan jaraknya, dan memperoleh semacam manifestasi teragung. Berarti jika zarah itu tinggal sendirian, ia hanya dapat berbuat sebesar sebutir zarah. Jika ia dianggap petugas, milik, dan cermin matahari; ia dapat menunjukkan sebagian contoh parsial dari tindakan matahari, laksana matahari.

Nah, وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى setiap wujud, bahkan setiap zarah, jika disandarkan kepada kemajemukan, syirik, sebab, tabiat, dan dirinya sendiri; ketika itu setiap zarah, setiap wujud, harus memiliki sebuah ilmu meliputi dan kudrat mutlak, atau di dalamnya harus terbentuk mesin serta percetakan maknawi tak terhingga; agar ia dapat menjalankan tugas menakjubkan yang diserahkan kepadanya. Jika zarah itu disandarkan kepada Wâhid Ahad; ketika itu setiap ciptaan, setiap zarah, menjadi milik-Nya, menjadi petugas-Nya. Keterhubungan ini menjadikannya tempat manifestasi. Dengan penampakan dan keterhubungan ini, ia bersandar pada ilmu dan kudrat tak terhingga. Dengan kekuatan Khâliq-nya, dengan rahasia keterhubungan dan sandaran itu, ia menjalankan pekerjaan dan tugas jutaan kali lebih besar daripada kekuatan zatinya.