Risale-i NurAl-Maktubat

Perumpamaan Kedua

Al-Maktubat · hlm. 300

Misalnya ada dua bersaudara. Yang satu pemberani, mengandalkan dirinya. Yang lain berjiwa pengabdian, pecinta bangsa. Pada masa perang, orang yang mengandalkan dirinya tak terhubung kepada negara, ingin bekerja dengan dirinya sendiri. Ia terpaksa memanggul sumber kekuatannya di pinggangnya. Ia terpaksa menyeret perlengkapan dan amunisinya sekadar kekuatannya sendiri. Sekadar kekuatan pribadi yang kecil itu, ia hanya dapat melawan seorang kopral pasukan musuh; lebih dari itu tak sanggup. Saudara yang satunya tak mengandalkan dirinya dan mengetahui dirinya lemah tanpa kekuatan.. ia terhubung kepada raja, terdaftar menjadi prajurit. Dengan keterhubungan itu, sebuah pasukan raksasa menjadi titik sandaran baginya. Dan dengan sandaran itu, di belakangnya, dengan kekuatan maknawi sebuah pasukan yang dapat dihimpun berkat usaha raja, ia terjun ke perang. Hingga ia berjumpa seorang panglima besar syah di dalam pasukan musuh yang terkalahkan; atas nama rajanya sendiri ia berkata "Aku menawanmu, ayo!" Ia menawan dan membawanya. Rahasia dan hikmah keadaan ini ialah:

Yang pertama, yang bertindak sendiri, karena terpaksa memanggul sumber kekuatan dan perlengkapannya sendiri, hanya dapat berbuat teramat sedikit. Adapun sang petugas ini; tak terpaksa memanggul sumber kekuatannya, melainkan pasukan dan raja yang memanggulnya. Laksana menghubungkan mesin kecil ke kawat telegraf dan telepon yang telah ada dengan sebuah kawat kecil, orang ini dengan keterhubungan itu menghubungkan dirinya kepada kekuatan tak terhingga itu.

Nah, وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى jika setiap makhluk, setiap zarah disandarkan langsung kepada Wâhid Ahad dan mereka terhubung kepada-Nya; ketika itu, dengan kekuatan keterhubungan itu dan dengan daya serta perintah Tuannya; seekor semut merobohkan istana Fir'aun di atas kepalanya dan menjungkirbalikkannya.. seekor lalat membinasakan Namrud dan melemparkannya ke neraka.. sebuah mikroba memasukkan seorang zalim paling perkasa ke kubur.. sebutir benih cemara sebesar biji gandum menjadi bengkel dan mesin sebatang pohon cemara sebesar gunung.. sebutir zarah udara dapat bekerja dengan teratur lagi indah pada beragam pekerjaan dan pembentukan seluruh bunga serta buah. Seluruh kemudahan ini, dengan mata kepala, berasal dari kepetugasan dan keterhubungan. Jika pekerjaan berubah menjadi kekacauan, dibiarkan kepada sebab, kemajemukan, dan dirinya sendiri, lalu ditempuh jalan syirik, ketika itu segala sesuatu hanya dapat bekerja sekadar jasad dan kesadarannya.