Risale-i NurAl-Maktubat

Perumpamaan Ketiga

Al-Maktubat · hlm. 301

Misalnya ada dua sahabat. Mereka hendak menulis semacam geografi statistik tentang keadaan sebuah negeri yang belum pernah mereka lihat.

Yang satu terhubung kepada raja negeri itu, masuk ke kantor telegraf dan telepon. Dengan sebuah kawat kecil seharga sepuluh sen, ia menghubungkan mesin teleponnya ke kawat negara. Ia berbicara dengan setiap tempat, berkomunikasi, memperoleh informasi. Ia membuat sebuah karya berseni tentang statistik geografi yang teramat teratur lagi sempurna.

Adapun sahabat yang lain: entah ia harus berkelana lima puluh tahun terus-menerus dan dengan susah payah melihat setiap tempat serta mendengar setiap peristiwa, atau harus mengeluarkan jutaan lira dan memiliki jaringan telegraf serta telepon sepanjang negara laksana raja. Agar ia membuat karya sempurna seperti sahabat pertama.

Demikian pula: وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى jika wujud dan makhluk tak terhingga diserahkan kepada Wâhid Ahad, ketika itu dengan keterhubungan itu setiap sesuatu menjadi tempat manifestasi. Dengan penampakan manifestasi Mentari Azali itu, ia memperoleh keterhubungan dengan kaidah hikmah-Nya, undang-undang ilmiah-Nya, dan hukum-hukum kudrat-Nya. Ketika itu, dengan daya dan kekuatan Ilahi, ia memperoleh manifestasi kilau rabbâni yang laksana sebuah mata yang melihat segala sesuatu, sebuah wajah yang memandang setiap tempat, dan sebuah ucapan yang berlaku pada setiap pekerjaan. Jika keterhubungan itu terputus; sesuatu itu terputus pula dari segala sesuatu, menyempit menjadi kekecilan sekadar jasadnya. Dalam keadaan itu, ia harus memiliki uluhiyah mutlak agar dapat menjalankan pekerjaan yang ia lakukan pada keadaan pertama.