Petikan Keenam
Al-Maktubat · hlm. 274
حِشْمَتُهُ فِى ذَاكَ...الخ Maknanya ialah: Yakni, sebagaimana keagungan rububiyah yang tampak pada keseluruhan alam raya membuktikan dan menunjukkan keesaan Ilahi; demikian pula nikmat rabbâni yang memberikan rezeki yang telah ditakar kepada bagian-bagian kecil makhluk hidup, membuktikan dan menunjukkan keesaan (ahadiyah) Ilahi. Adapun wâhidiyah berarti seluruh wujud itu milik Yang Satu, memandang Yang Satu, dan ciptaan Yang Satu. Adapun ahadiyah berarti pada setiap sesuatu tampak sebagian besar asma Khâliq segala sesuatu. Misalnya cahaya matahari, dari sisi meliputi seluruh wajah bumi, menunjukkan contoh wâhidiyah. Dan adanya cahaya, panas, tujuh warna dalam cahaya, serta semacam bayangan matahari pada setiap bagian bening dan tetes air, menunjukkan contoh ahadiyah. Dan pada setiap sesuatu, khususnya pada makhluk hidup dan khususnya pada setiap manusia; dari sisi tampaknya sebagian besar asma Sang Pembuat padanya, menunjukkan ahadiyah.
Nah, petikan ini mengisyaratkan bahwa: keagungan rububiyah yang berkuasa di alam raya, yang menjadikan matahari raksasa sebagai pelayan, lampu, dan tungku bagi makhluk hidup di muka bumi; bumi raksasa sebagai buaian, kediaman, dan tempat perniagaan bagi mereka; api sebagai juru masak dan sahabat yang hadir di mana-mana; awan sebagai penyaring dan penyusu; gunung sebagai gudang dan lumbung; udara sebagai napas bagi makhluk hidup dan kipas bagi jiwa; dan air sebagai inang yang menyusui mereka yang baru masuk ke kehidupan dan pemberi minum air kehidupan bagi hewan — rububiyah Ilahi ini menunjukkan keesaan Ilahi dengan cara yang teramat jelas. Ya, siapa selain Khâliq Yang Wâhid yang menjadikan matahari sebagai pelayan yang ditundukkan bagi penghuni bumi? Dan siapa selain Wâhid Ahad itu yang menggenggam udara di tangan-Nya, menugaskannya dengan banyak tugas, dan menjadikannya pelayan yang gesit di muka bumi? Dan siapa yang berhak selain Wâhid Ahad itu untuk menjadikan api sebagai juru masak, dan membuat setitik zarah api sebesar kepala korek menelan ribuan pikul benda, dan seterusnya… Setiap benda, setiap unsur, setiap benda langit, dari sisi keagungan rububiyah itu, menunjukkan Wâhid Dzul-Jalâl.
Nah, sebagaimana wâhidiyah tampak dari sisi kemuliaan dan keagungan, demikian pula nikmat dan karunia dari sisi keindahan dan rahmat mengumumkan keesaan (ahadiyah) Ilahi. Sebab pada makhluk hidup, khususnya pada manusia, di dalam seni yang teramat menghimpun; ada perkakas dan alat yang akan memahami, menerima, dan meminta beragam nikmat tak terhingga, sehingga ia menjadi tempat manifestasi kilau seluruh asma yang tampak di segenap alam raya. Laksana sebuah titik fokus, ia menampakkan seluruh asma'ul husna sekaligus dengan cermin kuiditasnya, dan dengannya mengumumkan keesaan Ilahi.