Risale-i NurAl-Maktubat

Petikan Ketiga

Al-Maktubat · hlm. 272

اِنْشَٓائُهُ لِذَاكَ...الخ Maknanya ialah: Sang Mâlikul Mulk Dzul-Jalâl telah membangun alam terbesar, khususnya wajah bumi, dalam bentuk sedemikian rupa sehingga; di dalamnya ada lingkaran tak terhingga yang saling bertumpang, setiap lingkaran laksana sebuah ladang, dari waktu ke waktu, musim ke musim, abad ke abad; Ia menanam, menuai, dan memanen. Ia terus-menerus memperkerjakan dan mengatur kerajaan-Nya. Ia menjadikan alam zarah — lingkaran terbesar — sebuah ladang, lalu dengan kudrat dan hikmah-Nya Ia menanam, menuai, dan memanen padanya hasil seluas alam raya setiap saat. Ia mengirimnya dari alam kesaksian ke alam gaib, dari lingkaran kudrat ke lingkaran ilmu. Kemudian Ia menjadikan wajah bumi — lingkaran menengah — sebuah ladang sedemikian rupa sehingga; dari musim ke musim Ia menanam, menuai, dan memanen alam-alam serta jenis-jenis di dalamnya. Hasil maknawinya pun Ia kirim ke alam gaib, ukhrawi, misali, dan maknawi. Sebuah kebun — lingkaran yang lebih kecil — pun Ia penuhi ratusan bahkan ribuan kali dengan kudrat, lalu Ia kosongkan dengan hikmah. Dari sebuah makhluk hidup — lingkaran yang lebih kecil lagi, misalnya sebatang pohon atau seorang manusia — Ia memanen seratus kali sebanyak dirinya. Berarti Sang Mâlikul Mulk Dzul-Jalâl membangun setiap sesuatu — kecil-besar, parsial-menyeluruh — laksana sebuah model, mengenakan padanya tenunan seni-Nya yang berukir dengan ratusan cara dan ukiran yang senantiasa baru; menampakkan kilau asma-Nya dan mukjizat kudrat-Nya. Ia membangun setiap sesuatu di kerajaan-Nya laksana sebuah lembar; pada setiap lembar Ia menuliskan surat-surat-Nya yang bermakna dengan ratusan cara; menampakkan ayat-ayat hikmah-Nya, dan membacakannya kepada makhluk berkesadaran. Beserta membangun alam terbesar ini dalam bentuk kerajaan, Ia menciptakan manusia ini pula dalam bentuk sedemikian rupa, memberinya perkakas, alat, indra, dan perasaan, khususnya nafsu, hawa, kebutuhan, selera, ketamakan, dan tuntutan, sehingga menjadikannya seorang hamba yang membutuhkan seluruh kerajaan di kerajaan luas itu.

Nah, mungkinkah ada yang dapat berkuasa atas kerajaan itu dan menjadi tuan atas hamba itu, selain Sang Mâlikul Mulk Dzul-Jalâl yang menjadikan seluruhnya — dari alam zarah yang teramat besar hingga seekor lalat — sebagai kerajaan dan ladang, serta menjadikan manusia kecil sebagai pengawas, pemeriksa, petani, saudagar, penyeru, hamba, dan milik atas kerajaan besar itu, dan menjadikannya tamu terhormat serta lawan bicara yang dicintai bagi diri-Nya?