Risale-i NurAl-Maktubat

Petikan Keempat

Al-Maktubat · hlm. 273

صَنْعَتُهُ فِى ذَاكَ...الخ Maknanya ialah: Seni Sang Pembuat Dzul-Jalâl di alam terbesar demikian bermakna sehingga; seni itu tampak dalam bentuk sebuah kitab, menjadikan alam raya laksana kitab besar, sehingga akal manusia mengambil perpustakaan ilmu hikmah hakiki darinya dan menuliskannya menurutnya. Dan kitab hikmah itu demikian terikat dengan hakikat dan memperoleh pertolongan dari hakikat, sehingga ia diumumkan dalam bentuk Al-Qur'an Yang Mahabijaksana — sebuah salinan Kitâb Mubîn yang agung. Dan sebagaimana seni di alam raya, karena kesempurnaan keteraturannya, mengambil bentuk kitab; shibghah (celupan) dan ukiran hikmah pada manusia pun membuka bunga seruan. Yakni seni itu demikian bermakna, halus, dan indah, sehingga perkakas pada mesin hidup itu berbicara laksana fonograf, dan dibuat berbicara. Dan Ia memberi suatu shibghah rabbâniyah dalam sebaik-baik bentuk sedemikian rupa, sehingga pada kepala material, jasmani, lagi beku itu terbuka bunga penuturan dan seruan yang maknawi, gaib, lagi hidup. Dan Ia memberi kemampuan bertutur dan berbicara pada kepala manusia itu perkakas serta bakat yang demikian luhur, sehingga Ia menyingkapkannya pada maqam yang layak menjadi lawan bicara Sang Sultan Azali, dan memberinya kemajuan. Yakni shibghah rabbâniyah pada fitrah manusia membuka bunga seruan Ilahi. Mungkinkah pada seni di segenap wujud yang mencapai derajat kitab, dan pada shibghah manusia yang mencapai maqam seruan itu, ada campur tangan selain Wâhid Ahad? Mahasuci Allah!..