Petikan Pertama
Al-Maktubat · hlm. 271
ذَاكَ الْعَالَمَ الْكَب۪يرَ...الخٓ Yakni: Alam terbesar yang disebut alam raya, dan alam terkecil yang merupakan miniaturnya yaitu manusia, menunjukkan bukti-bukti keesaan afâqî (kosmis) dan anfusî (dalam diri) yang tertulis dengan pena kudrat dan takdir. Ya, contoh seni teratur di alam raya, dalam skala kecil, ada pada manusia. Sebagaimana seni pada lingkaran besar itu bersaksi atas Sang Pembuat Yang Esa, demikian pula seni mikroskopis dalam skala kecil pada manusia ini pun mengisyaratkan Pembuat itu, dan menunjukkan keesaan-Nya. Dan sebagaimana manusia adalah surat rabbâni yang teramat bermakna, kasidah takdir yang teratur.. demikian pula alam raya ini adalah kasidah takdir yang teratur, yang tertulis dengan pena takdir yang sama, tetapi dalam skala besar. Mungkinkah pada cap keesaan di wajah manusia — yang memandang seluruh manusia dengan tak terhingga tanda pembeda — dan pada stempel keesaan di atas alam raya yang mempertemukan segenap wujud bahu-membahu, tangan-bertangan, kepala-berkepala, ada campur tangan sesuatu selain Wâhid Ahad?