Rahasia Pertama
Al-Maktubat · hlm. 293
Bahwa kewajiban wujud dan ketertelanjangan menjadi sebab kemudahan tak terhingga adalah rahasia yang teramat dalam. Kami akan mendekatkannya kepada pemahaman dengan sebuah perumpamaan. Demikian: derajat wujud berbeda-beda. Dan alam-alam wujud berlainan. Karena berlainan, sebutir zarah dari sebuah tingkat wujud yang mengakar setara dengan sebuah gunung dari tingkat wujud yang lebih ringan darinya, dan menampung gunung itu. Misalnya: daya ingat sebesar biji sawi di kepala — yang termasuk alam kesaksian — menampung wujud sebesar sebuah perpustakaan dari alam makna. Dan sebuah cermin sebesar kuku — yang termasuk alam luar — menampung sebuah kota besar dari tingkat alam misal wujud. Dan seandainya cermin serta daya ingat dari alam luar itu memiliki kesadaran dan daya cipta, dengan kekuatan wujud luarnya yang sebesar zarah, ia dapat melakukan pengaturan dan perubahan tak terhingga pada wujud maknawi dan misali itu. Berarti semakin wujud mengakar, semakin bertambah kekuatannya; sedikit menjadi laksana banyak. Khususnya setelah wujud memperoleh kemantapan sempurna, jika ia terlepas dari materi dan tak masuk ke dalam ikatan; ketika itu satu kilau parsialnya dapat memutar banyak alam dari tingkat wujud lain yang ringan.
Nah, وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى Sang Pembuat Dzul-Jalâl alam raya ini adalah Wâjib al-Wujûd. Yakni: wujud-Nya zati, azali, abadi, ketiadaan-Nya mustahil, kesirnaan-Nya muhal, dan Ia adalah tingkat wujud yang paling mengakar, paling asasi, paling kuat, lagi paling sempurna. Tingkat wujud lain, dibanding wujud-Nya, laksana bayangan yang teramat lemah. Dan wujud wajib demikian mengakar lagi hakiki, dan wujud makhluk demikian ringan lagi lemah, sehingga banyak ahli tahkik seperti Muhyiddin Ibnu Arabi menurunkan tingkat wujud lain ke derajat waham dan khayal; mereka berkata لاَ مَوْجُودَ اِلاَّ هُوَ. Yakni: dibanding wujud wajib, sesuatu yang lain tak layak disebut wujud; mereka menghukumi bahwa yang lain tak layak menyandang gelar wujud.
Nah, dibanding kudrat Wâjib al-Wujûd yang wajib sekaligus zati; wujud segenap makhluk yang baharu sekaligus sementara, dan ketetapan makhluk yang tak stabil sekaligus tak berkekuatan; sudah pasti teramat mudah lagi ringan. Menghidupkan dan mengadili seluruh ruh pada kebangkitan teragung; semudah daun, bunga, dan buah yang Ia bangkitkan dan sebarkan pada satu musim semi, bahkan di satu kebun, bahkan di satu pohon.