Risale-i NurAl-Maktubat

Reşha Kedua Belas

Al-Maktubat · hlm. 234

Maka sosok ini — sebagaimana ia adalah bukti bertutur lagi dalil jujur atas keesaan Khâliq segenap wujud, sekadar kebenarannya — demikian pula ia adalah bukti pasti lagi dalil terang atas kebangkitan dan kebahagiaan abadi. Bahkan sebagaimana sosok itu, dengan hidayahnya, menjadi sebab terwujudnya dan sarana tercapainya kebahagiaan abadi; demikian pula, dengan doa dan munajatnya, ia menjadi sebab adanya dan sarana terciptanya kebahagiaan itu. Rahasia yang telah lalu pada masalah kebangkitan, kami ulangi di sini sesuai kesempatan:

Nah lihatlah: sosok itu berdoa dalam suatu salat teragung sedemikian rupa, sehingga seakan-akan jazirah ini, bahkan bumi, turut salat dan bermunajat bersama salatnya yang agung itu. Lihat, ia bermunajat dalam suatu jemaah teragung sedemikian rupa, sehingga seakan-akan seluruh insan kamil nan bercahaya dari anak Adam — sejak zaman Adam hingga abad kita, hingga kiamat — mengikuti dan bermakmum kepadanya, lalu mengucap "âmîn" atas doanya. Lihat pula, ia berdoa untuk suatu hajat umum sedemikian rupa, sehingga bukan hanya penghuni bumi, bahkan penghuni langit, bahkan segenap wujud turut serta dalam munajatnya, seraya berkata: "Ya, wahai Rabb kami, berikanlah. Kami pun memohonnya." Dan ia bermunajat dengan begitu fakir, begitu pilu, begitu penuh cinta, begitu penuh rindu, begitu penuh rendah hati, sehingga ia membuat seluruh alam raya menangis dan turut serta dalam doanya.

Lihat! Ia berdoa untuk suatu maksud, suatu tujuan sedemikian rupa, sehingga ia mengangkat manusia dan alam, bahkan segenap makhluk, dari serendah-rendah kerendahan, dari kejatuhan, dari ketiadaan nilai dan ketiadaan guna, ke setinggi-tinggi ketinggian — yakni kepada nilai, kekekalan, dan tugas yang luhur.

Lihat! Ia memohon dan merayu dengan suatu rintihan meminta pertolongan yang tinggi dan suatu munajat memohon belas yang manis, sedemikian rupa sehingga seakan-akan ia memperdengarkannya kepada segenap wujud, langit, dan Arasy, membangkitkan gelora, lalu membuat mereka mengucap "Âmîn, Allâhumma âmîn" atas doanya. Lihat! Ia memohon hajatnya kepada seorang Qadîr Yang Maha Mendengar lagi Mulia, kepada seorang 'Alîm Yang Maha Melihat lagi Penyayang, sedemikian rupa sehingga — dengan mata kepala — Ia melihat, mendengar, mengabulkan, dan merahmati hajat serta munajat paling tersembunyi dari makhluk hidup paling tersembunyi. Sebab Ia memberikan apa yang diminta — walau dengan bahasa keadaan — dan memberikannya dengan cara yang penuh hikmah, penuh penglihatan, dan penuh rahmat, sedemikian rupa hingga tak menyisakan keraguan: pemeliharaan dan pengaturan ini khusus milik Zat Yang Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mulia, lagi Maha Penyayang.