Risale-i NurAl-Maktubat

Reşha Ketiga Belas

Al-Maktubat · hlm. 235

Gerangan, apakah yang diminta oleh kemuliaan jenis manusia, insan tunggal sepanjang wujud dan zaman, dan kebanggaan alam raya yang sebenar-benarnya صلى الله عليه وسلم ini — yang menggendong seluruh manusia utama anak Adam di belakangnya, berdiri di atas bumi, mengangkat tangan menghadap Arasy A'zham lalu berdoa? Lihat dan simaklah: ia meminta kebahagiaan abadi, meminta kekekalan, meminta perjumpaan, meminta surga. Dan ia memintanya bersama seluruh asma suci Ilahi yang menampakkan hukum dan keindahannya pada cermin-cermin wujud. Bahkan seandainya rahmat, inayah, hikmah, dan keadilan — serta tak terhitung sebab-sebab yang mengharuskan hal yang dipinta itu — tidak ada, niscaya satu doa sosok ini saja sudah cukup menjadi sebab dibangunnya surga ini, yang bagi kudrat-Nya seringan penciptaan musim semi kita. Ya, sebagaimana risalahnya menjadi sebab dibukanya negeri ujian ini; demikian pula ubudiyahnya menjadi sebab dibukanya negeri yang satunya. Gerangan, keteraturan menakjubkan yang tampak nyata — yang membuat ahli akal dan tahkik berkata لَيْسَ فِى اْلاِمْكَانِ اَبْدَعُ مِمَّا كَانَ — keindahan seni tanpa cacat di dalam rahmat itu, serta keindahan rububiyah yang tak bertara; mungkinkah ia menerima suatu keburukan, suatu ketiadaan belas, suatu ketidakteraturan sedemikian rupa, sehingga ia mendengar dan menunaikan dengan saksama keinginan dan suara yang paling parsial lagi paling tak penting, tetapi memandang remeh keinginan yang paling penting lagi paling perlu, lalu tak mendengarnya, tak memahaminya, dan tak melakukannya? Mahasuci Allah, seratus ribu kali Mahasuci! Keindahan semacam itu tak menerima keburukan semacam itu, dan tak menjadi buruk.

Wahai teman khayalku! Untuk sekarang cukuplah, kita harus kembali. Sebab sekalipun seratus tahun kita tinggal di jazirah ini pada masa itu, kita tetap tak akan sanggup meliputi sepenuhnya seperseratus dari keajaiban tindakan dan keanehan tugas sosok itu, dan tak akan puas menyaksikannya.

Kini marilah! Kita akan memandang satu per satu setiap abad yang di atasnya kita akan berputar. Lihatlah bagaimana setiap abad berbunga dengan limpahan yang mereka terima dari Mentari Hidayah itu! Ia memberikan jutaan buah bercahaya seperti Abu Hanifah, Syafi'i, Bayazid al-Bistami, Syah Gaylani, Syah Naqsyaband, Imam Ghazali, dan Imam Rabbani. Marilah kita menangguhkan perincian saksian kita ke waktu lain, dan membacakan sebuah salawat yang mengisyaratkan sebagian mukjizatnya yang pasti — sosok yang menampakkan mukjizat lagi pembawa hidayah itu:

عَلٰى مَنْ اُنْزِلَ عَلَيْهِ الْفُرْقَانُ الْحَك۪يمُ مِنَ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ ❊ مِنَ الْعَرْشِ الْعَظ۪يمِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَ اَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ بِعَدَدِ حَسَنَاتِ اُمَّتِه۪ عَلٰى مَنْ بَشَّرَ بِرِسَالَتِهِ التَّوْرٰيةُ وَ اْلاِنْج۪يلُ وَ الزَّبُورُ ❊ وَ بَشَّرَ بِنُبُوَّتِهِ اْلاِرْهَاصَاتُ وَ هَوَاتِفُ الْجِنِّ وَ اَوْلِيَٓاءُ اْلاِنْسِ وَ كَوَاهِنُ الْبَشَرِ ❊ وَ انْشَقَّ بِاِشَارَتِهِ الْقَمَرُ ❊ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَ سَلاَمٍ بِعَدَدِ اَنْفَاسِ اُمَّتِه۪ ❊ عَلٰى مَنْ جَٓائَتْ لِدَعْوَتِهِ الشَّجَرُ وَ نَزَلَ سُرْعَةً بِدُعَٓائِهِ الْمَطَرُ وَ اَظَلَّتْهُ الْغَمَامَةُ مِنَ الْحَرِّ ❊ وَ شَبَعَ مِنْ صَاعٍ مِنْ طَعَامِه۪ مِأَتٌ مِنَ الْبَشَرِ وَ نَبَعَ الْمَٓاءُ مِنْ بَيْنِ اَصَابِعِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ كَالْكَوْثَرِ وَ اَنْطَقَ اللّٰهُ لَهُ الضَّبَّ وَ الظَّبْىَ وَ الْجِذْعَ وَ الذِّرَاعَ وَ الْجَمَلَ وَ الْجَبَلَ وَ الْحَجَرَ وَ الْمَدَرَ صَاحِبِ الْمِعْرَاجِ وَ مَازَاغَ الْبَصَرُ ❊ سَيِّدِنَا وَ شَف۪يعِنَا مُحَمَّدٍ اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَ سَلاَمٍ بِعَدَدِ كُلِّ الْحُرُوفِ الْمُتَشَكِّلَةِ فِى الْكَلِمَاتِ الْمُتَمَثِّلَةِ بِاِذْنِ الرَّحْمٰنِ فِى مَرَايَا تَمَوُّجَاتِ الْهَوَٓاءِ عِنْدَ قِرَائَةِ كُلِّ كَلِمَةٍ مِنَ الْقُرْاٰنِ مِنْ كُلِّ قَارِءٍ مِنْ اَوَّلِ النُّزُولِ اِلٰٓى اٰخِرِ الزَّمَانِ وَ اغْفِرْلَنَا وَ ارْحَمْنَا يَٓا اِلٰهَنَا بِكُلِّ صَلاَةٍ مِنْهَا اٰم۪ينَ

[Pada sebuah risalah berbahasa Turki bernama "Şuâât-ı Ma'rifetü'n-Nebî", dan pada Surat Kesembilan Belas, serta pada Kalimat ini, telah kuterangkan secara ringkas bukti-bukti kenabian Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم yang telah kuisyaratkan. Dan di dalamnya disebutkan secara ringkas segi-segi kemukjizatan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana. Juga pada sebuah risalah berbahasa Turki bernama "Lemaat", dan pada Kelimat Kedua Puluh Lima, telah kuterangkan secara ringkas bahwa Al-Qur'an merupakan mukjizat dari empat puluh segi, dan kuisyaratkan empat puluh segi kemukjizatannya. Dari empat puluh segi itu, khusus balaghah pada susunannya (nazm) telah kutulis dalam empat puluh halaman pada sebuah tafsir berbahasa Arab bernama "Isyârât al-I'jâz". Jika engkau memerlukannya, engkau dapat merujuk kepada ketiga kitab itu.]