Risale-i NurAl-Maktubat

Reşha Keempat Belas

Al-Maktubat · hlm. 237

Al-Qur'an Yang Mahabijaksana — yang menjadi gudang mukjizat dan mukjizat teragung — membuktikan kenabian Ahmadiyah dan keesaan Ilahi dengan pasti sedemikian rupa, sehingga tak menyisakan kebutuhan pada bukti lain. Kami pun mengisyaratkan pengenalannya dan satu-dua kilau kemukjizatannya yang telah menjadi sasaran kritik.

Nah, Al-Qur'an Yang Mahabijaksana yang memperkenalkan Rabb kita kepada kita ini adalah: terjemahan azali dari kitab besar alam raya ini… penyingkap khazanah asma Ilahi yang tersembunyi pada lembar-lembar bumi dan langit… kunci hakikat yang terpendam di bawah baris-baris peristiwa… khazanah kelembutan Rahmâni dan seruan azali yang datang dari sisi alam gaib di balik tabir alam kesaksian ini… mentari, fondasi, dan geometri alam maknawi keislaman ini, peta alam-alam ukhrawi… penjelas yang menerangkan, tafsir yang menjelaskan, bukti yang bertutur, dan penerjemah yang terang bagi Zat, sifat, dan keadaan Ilahi… pendidik, hikmah hakiki, pembimbing, dan penunjuk bagi alam insaniyah ini… sekaligus kitab hikmah dan syariat, kitab doa dan ubudiyah, kitab perintah dan seruan, serta kitab zikir dan makrifat; sebuah "Perpustakaan Suci" yang menghadirkan sebuah kitab bagi setiap kebutuhan maknawi manusia, dan sebuah risalah yang layak bagi masyrab setiap wali dan shiddiq, asfiya dan muhaqqiq dari beragam jalan dan aliran.

Pandanglah kilau kemukjizatan pada pengulangan-pengulangannya yang disangka sebagai kekurangan: karena Al-Qur'an sekaligus kitab zikir, kitab doa, dan kitab seruan, maka pengulangan di dalamnya justru terpuji, bahkan sangat diperlukan lagi paling fasih. Tidaklah seperti sangkaan ahli kekurangan… Sebab keadaan zikir ialah pencerahan melalui pengulangan; keadaan doa ialah pengukuhan melalui pengulangan; keadaan perintah dan seruan ialah penegasan melalui pengulangan. Lagi pula, tak setiap orang setiap waktu sanggup membaca seluruh Al-Qur'an, tetapi umumnya sanggup membaca satu surah. Karena itu, maksud-maksud terpenting Al-Qur'an disisipkan pada kebanyakan surah panjang, sehingga setiap surah menjadi laksana Al-Qur'an kecil. Berarti, agar tak seorang pun terhalang, sebagian maksud seperti Tauhid, Kebangkitan, dan Kisah Musa diulang.

Dan sebagaimana kebutuhan jasmani, kebutuhan maknawi pun beragam. Sebagiannya manusia perlukan setiap tarikan napas (seperti udara bagi jasad, dan "Hû" bagi ruh). Sebagiannya setiap jam (seperti Bismillah), dan seterusnya… Berarti pengulangan ayat lahir dari berulangnya kebutuhan. Ia mengulang untuk mengisyaratkan kebutuhan itu, membangkitkan dan menggugahnya, serta menggerakkan kerinduan dan selera.

Dan Al-Qur'an adalah pendiri. Ia adalah asas sebuah agama yang terang, fondasi alam keislaman ini, dan jawaban atas pertanyaan berulang dari beragam lapisan — dengan mengubah kehidupan sosial manusia. Bagi yang mendirikan, pengulangan diperlukan untuk memantapkan; pengulangan diperlukan untuk menegaskan; pengukuhan, tahkik, dan pengulangan diperlukan untuk meneguhkan. Dan ia berbicara tentang masalah-masalah agung dan hakikat-hakikat halus sedemikian rupa, sehingga untuk menanamkannya ke dalam kalbu semua orang, sering kali diperlukan pengulangan dalam beragam bentuk. Namun demikian, ia hanya pengulangan secara lahir. Adapun secara makna, setiap ayat memiliki banyak makna, banyak faedah, banyak segi dan tingkatan. Pada setiap tempat ia disebutkan untuk makna, faedah, dan maksud yang berbeda.

Dan penyamaran serta peringkasan Al-Qur'an pada sebagian masalah kauni adalah kilau kemukjizatan yang bersifat bimbingan. Ia tak dapat menjadi sasaran kritik sebagaimana disangka ahli ilhad, dan bukan sebab kekurangan.

Jika engkau berkata:

"Gerangan, mengapa Al-Qur'an Yang Mahabijaksana tidak membahas segenap wujud sebagaimana filsafat membahasnya? Ia membiarkan sebagian masalah ringkas, dan sebagiannya ia sampaikan dalam bentuk yang sederhana lagi lahiriah — yang membelai pandangan umum, tak melukai perasaan orang banyak, dan tak menyusahkan serta melelahkan pikiran awam?"

Sebagai jawaban kami berkata:

Filsafat telah tersesat dari jalan hakikat, karena itulah… Dan dari pelajaran serta Kumpulan Kalimat terdahulu, sudah pasti engkau telah memahami bahwa: Al-Qur'an Yang Mahabijaksana membahas alam raya ini agar memberitahukan Zat, sifat, dan asma Ilahi. Yakni, ia menjelaskan makna kitab alam raya ini agar memperkenalkan Khâliq-nya. Berarti ia memandang segenap wujud bukan demi wujud itu sendiri, melainkan demi Penciptanya. Dan ia berseru kepada semua. Adapun ilmu hikmah (filsafat) memandang segenap wujud demi wujud itu sendiri, dan khususnya berseru kepada ahli sains. Kalau begitu, selama Al-Qur'an Yang Mahabijaksana menjadikan segenap wujud sebagai dalil dan bukti, maka dalil haruslah tampak jelas dan cepat dipahami oleh pandangan umum. Dan selama Al-Qur'an Sang Pembimbing berseru kepada seluruh lapisan manusia, sedang lapisan terbanyak adalah lapisan awam, maka bimbingan menuntut agar hal-hal yang tak perlu diringkas dengan penyamaran, hal-hal yang halus didekatkan dengan perumpamaan, dan agar hal-hal yang jelas bagi pandangan lahiriah tidak diubah secara tak perlu — bahkan berbahaya — supaya orang tak terjerumus ke dalam kekeliruan.

Misalnya, kepada Matahari ia berkata: "Ia adalah pelita berputar, sebuah lampu." Sebab ia tak membahas Matahari demi Matahari, demi kuiditasnya, melainkan karena ia adalah semacam pegas keteraturan dan pusat tatanan; sedang keteraturan dan tatanan adalah cermin makrifat Sang Pembuat. Ya, ia berkata: وَ الشَّمْسُ تَجْر۪ى "Matahari berputar." Dengan ungkapan "berputar" ini, ia mengingatkan pengaturan kudrat yang teratur dalam peredaran musim dingin, musim panas, malam, dan siang, lalu memahamkan keagungan Sang Pembuat. Nah, apa pun hakikat "berputar" ini, ia tak memengaruhi keteraturan yang dimaksud — yang tertenun sekaligus tersaksikan. Dan ia berkata: وَ جَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا Dengan ungkapan "pelita" ini, ia mengingatkan bahwa alam laksana sebuah istana, benda-benda di dalamnya adalah hiasan, makanan, dan perlengkapan yang disiapkan bagi manusia dan makhluk hidup, dan Matahari adalah lampu yang ditundukkan; lalu memahamkan rahmat dan karunia Sang Khâliq.

Kini lihatlah, apa kata filsafat yang dungu lagi cerewet itu? Lihat, ia berkata: "Matahari adalah gumpalan besar cairan berapi. Ia memutar planet-planet yang terlontar darinya di sekitarnya; besarnya sekian, kuiditasnya begini dan begitu." Selain kengerian yang mencekam dan keheranan yang dahsyat, ia tak memberi ruh suatu kesempurnaan ilmiah, tak seperti pembahasan Al-Qur'an. Dengan mengiaskan pada ini, engkau memahami betapa nilai masalah-masalah filsafat yang batinnya kosong lagi lahirnya gemerlap. Jangan tertipu oleh kemilau lahiriahnya, lalu bersikap tak hormat terhadap penuturan Al-Qur'an yang teramat menampakkan mukjizat!..