Risalah Syukur
Al-Maktubat · hlm. 422
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya, dengan berulang, dengan ayat seperti اَفَلاَ يَشْكُرُونَ ❊ اَفَلاَ يَشْكُرُونَ ❊ وَسَنَجْزِى الشَّاكِر۪ينَ ❊ لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلاَز۪يدَنَّكُمْ ❊ بَلِ اللّٰهَ فَاعْبُدْ وَ كُنْ مِنَ الشَّاكِر۪ينَ menunjukkan bahwa: pekerjaan terpenting yang diminta Sang Khâliq Yang Rahmân dari hamba-Nya adalah syukur. Dalam Furqan Yang Hakîm Ia menyeru kepada syukur dengan amat penting. Dan Ia menunjukkan ketiadaan syukur dalam bentuk pendustaan dan pengingkaran nikmat, lalu dengan firman فَبِاَىِّ اٰلآَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ dalam Surah Ar-Rahmân Ia mengancam dengan ayat ini secara keras dan mengerikan tiga puluh satu kali. Ia menunjukkan bahwa ketiadaan syukur adalah suatu pendustaan dan pengingkaran.
Ya, sebagaimana Al-Qur'an al-Hakîm menunjukkan syukur sebagai hasil penciptaan; demikian pula alam semesta ini yang merupakan Al-Qur'an Besar pun menunjukkan bahwa yang terpenting dari hasil penciptaan alam adalah syukur. Karena jika alam semesta diperhatikan, tampak bahwa susunan alam semesta dibentuk dengan cara yang akan membuahkan syukur, setiap sesuatu sampai derajat tertentu memandang syukur dan tertuju kepadanya. Seolah buah terpenting pohon penciptaan ini adalah syukur. Dan hasil paling luhur yang dikeluarkan pabrik alam semesta ini adalah syukur. Karena dalam penciptaan alam kita melihat bahwa makhluk alam dibentuk dalam bentuk suatu lingkaran, dan di dalamnya sebagai titik pusat diciptakan kehidupan. Seluruh makhluk memandang kehidupan, berkhidmat kepada kehidupan, menumbuhkan keperluan kehidupan. Artinya, Zat yang menciptakan alam semesta memilih kehidupan itu darinya.
Kemudian kita melihat bahwa Ia menciptakan alam yang hidup dalam bentuk suatu lingkaran, lalu menempatkan manusia di titik pusat. Seakan tujuan yang dimaksud dari yang hidup berpusat padanya; Ia mengumpulkan seluruh yang hidup di sekelilingnya, menjadikannya pelayan dan tunduk kepadanya, menjadikannya penguasa atas mereka. Artinya, Sang Khâliq Dzul-Jalâl memilih manusia di antara yang hidup, mengehendaki dan memilihnya di alam.
Kemudian kita melihat bahwa alam kemanusiaan, bahkan mungkin alam hewan pun, dibentuk berkedudukan sebagai suatu lingkaran, dan di titik pusat ditempatkan rezeki. Ia membuat seluruh jenis manusia bahkan hewan seakan jatuh cinta pada rezeki, menjadikan mereka umumnya pelayan dan tunduk kepada rezeki. Yang menguasai mereka adalah rezeki. Rezeki pun Ia jadikan suatu khazanah yang sedemikian luas dan kaya sehingga mencakup nikmat yang tak terhingga. Bahkan untuk mengenali rasa satu jenis saja dari banyak jenis rezeki, pada lidah dengan suatu piranti bernama daya perasa, ditempatkan timbangan-timbangan halus sebanyak makanan. Artinya, hakikat yang paling ajaib, paling kaya, paling aneh, paling manis, paling mencakup, dan paling indah di dalam alam semesta ada pada rezeki.
Kini kita melihat bahwa: sebagaimana segala sesuatu berkumpul di sekeliling rezeki, memandangnya; demikian pula rezeki dengan seluruh jenisnya, secara maknawi dan material, dengan keadaan dan ucapan, tegak dengan syukur, terjadi dengan syukur, menumbuhkan syukur, menunjukkan syukur. Karena selera dan kerinduan pada rezeki adalah semacam syukur fitri. Dan berlezat serta kenikmatan pun adalah syukur tak sadar yang ada pada seluruh hewan. Hanya manusia, dengan kesesatan dan kekufuran, mengubah mahiyah syukur fitri itu; dari syukur ia pergi ke syirik.
Lagi pula pada nikmat yang berupa rezeki, rupa yang amat indah dan berhias, aroma yang amat indah, dan rasa yang amat indah; adalah para penyeru syukur, menyeru yang hidup kepada kegairahan, dan dengan kegairahan mendorong kepada semacam kekaguman dan penghormatan, membuat suatu syukur maknawi. Dan menarik pandangan yang berkesadaran kepada perhatian, mendorongnya kepada kekaguman. Ia mendorongnya menghormati nikmat; dengannya membimbingnya kepada syukur dengan ucapan dan perbuatan, membuatnya bersyukur, dan membuatnya merasakan kelezatan serta cita rasa yang paling luhur dan manis di dalam syukur. Yakni menunjukkan bahwa rezeki dan nikmat yang lezat ini, di samping kelezatan lahiriahnya yang singkat dan sementara, dengan syukur menghasilkan kasih Rahmani yang membawa kelezatan dan cita rasa hakiki lagi tak terhingga yang tetap. Yakni: membuat memikirkan kasih Sang Mâlik Yang Karîm pemilik khazanah rahmat yang tak terhingga lezatnya, lalu secara maknawi membuat merasakan suatu cita rasa kekal surga di dunia ini pula. Maka rezeki, dengan perantaraan syukur, menjadi khazanah yang sedemikian berharga dan kaya lagi mencakup, sedangkan dengan ketiadaan syukur ia jatuh ke derajat tertinggi kejatuhan.
Sebagaimana diterangkan dalam Kelimat Keenam: tatkala daya perasa pada lidah tertuju kepada rezeki atas nama Allah, yakni dengan tugas syukur maknawi, daya perasa pada lidah itu berkedudukan sebagai seorang inspektur yang bersyukur dan pengawas mulia yang memuji atas dapur-dapur rahmat Ilahi yang tak terhingga. Jika ia atas nama nafsu, yakni tertuju tanpa memikirkan syukur kepada Pemberi nikmat rezeki; daya perasa pada lidah itu jatuh dari maqam pengawas mulia ke derajat penjaga pabrik perut dan penjaga pintu kandang lambung. Sebagaimana pelayan rezeki ini jatuh ke derajat ini dengan ketiadaan syukur, demikian pula mahiyah rezeki dan pelayan-pelayannya yang lain pun jatuh. Mereka turun dari maqam tertinggi ke maqam terendah. Mereka jatuh ke keadaan yang berlawanan dan bertentangan dengan hikmah Sang Khâliq alam semesta.
Ukuran syukur adalah kanaah, berhemat, rida, dan kesenangan. Timbangan ketiadaan syukur adalah ketamakan, boros, ketiadaan hormat, dan memakan yang sembarang tanpa membedakan halal dan haram.
Ya, ketamakan, sebagaimana ia ketiadaan syukur, ia pun sebab keterhalangan dan sarana kehinaan. Bahkan semut yang diberkahi yang memiliki kehidupan sosial pun, seolah dengan perantaraan ketamakan tergilas di bawah kaki. Karena ia tak berkanaah, sementara beberapa butir gandum setahun mencukupi, jika dapat ia mengumpulkan ribuan butir. Seolah lebah yang diberkahi, karena kanaahnya, terbang di atas kepala. Karena berkanaah, ia mengaruniakan dan memberi makan madu kepada manusia dengan perintah Ilahi.
Ya, setelah nama zati Zat Yang Mahasuci dan nama teragung-Nya yaitu Lafzhullâh, nama teragung berikutnya yaitu Rahmân memandang rezeki, dan Ia dicapai dengan syukur pada rezeki. Lagi pula makna paling jelas dari Rahmân adalah Razzâq.
Lagi pula syukur itu ada jenisnya. Yang paling mencakup dan fihris umum dari jenis-jenis itu adalah salat.
Lagi pula di dalam syukur ada iman yang jernih, terdapat tauhid yang murni. Karena orang yang memakan sebuah apel dan berkata "Alhamdulillah", dengan syukur itu mengumumkan bahwa: "Apel itu secara langsung kenangan tangan kudrat dan secara langsung hadiah khazanah rahmat" — dengan ucapan dan keyakinan ini, ia menyerahkan setiap sesuatu — parsial maupun menyeluruh — kepada tangan kudrat-Nya. Dan ia mengetahui manifestasi rahmat pada setiap sesuatu. Ia menerangkan iman yang hakiki dan tauhid yang murni dengan syukur.
Kami akan menyebutkan hanya satu segi dari banyak segi betapa dalamnya manusia lalai jatuh ke kerugian dengan pengingkaran nikmat. Yaitu:
Jika manusia memakan suatu nikmat yang lezat, jika ia bersyukur; nikmat yang ia makan itu, dengan perantaraan syukur, menjadi suatu cahaya, menjadi buah surga ukhrawi. Dengan kelezatan yang diberikannya, dengan memikirkan bahwa ia adalah jejak kasih rahmat Allah, ia memberi kelezatan dan cita rasa yang besar lagi tetap. Ia mengirim inti dan sari maknawi serta materi maknawi semacam ini ke maqam yang luhur, dan materi material lagi rendah (ampas) dan kulit — yakni materi yang telah menyelesaikan tugasnya dan tinggal tak perlu — menjadi sisa lalu pergi berubah ke asalnya, yakni ke unsur-unsur. Jika ia tak bersyukur; kelezatan sementara itu, dengan kesirnaan meninggalkan suatu derita dan penyesalan, dan ia sendiri pun menjadi kotoran. Nikmat yang mahiyahnya intan berubah menjadi arang. Dengan syukur, rezeki yang sirna memberi kelezatan tetap dan buah kekal. Nikmat tanpa syukur berubah dari rupa yang paling indah ke rupa yang buruk. Karena bagi orang lalai itu, akibat rezeki adalah sisa setelah kelezatan sementara.
Ya, rezeki memiliki suatu rupa yang layak dicintai; dan rupa itu tampak dengan syukur. Jika tidak, cinta ahli kelalaian dan kesesatan pada rezeki adalah kehewanan. Bandingkanlah dengan ini betapa dalamnya ahli kesesatan dan kelalaian merugi.
Di antara jenis yang hidup, yang paling membutuhkan jenis rezeki adalah manusia. Allah menciptakan manusia dalam bentuk cermin yang mencakup seluruh asma-Nya, suatu mukjizat kudrat yang memiliki piranti untuk menimbang dan mengenali simpanan khazanah seluruh rahmat-Nya, dan seorang khalifah Bumi yang memiliki alat untuk menimbang kehalusan manifestasi dan seni seluruh asma-Nya. Karena itu Ia memberinya kebutuhan yang tak terhingga, membuatnya membutuhkan jenis rezeki material dan maknawi yang tak terhingga. Sarana yang mengangkat manusia — sesuai kemenyeluruhan ini — ke ahsanut taqwim yang merupakan maqam paling luhur, adalah syukur. Jika tak ada syukur, ia jatuh ke asfal safilin; ia melakukan suatu kezaliman yang besar.