Risale-i NurAl-Maktubat

Rumus Pertama

Al-Maktubat · hlm. 332

Sebagaimana dinyatakan pada penutup Kelimat Kedua Puluh Enam: sebagaimana seorang seniman yang mahir, untuk membuat sehelai pakaian berharga dalam bentuk bertatah permata dan berukir, menjadikan seorang miskin sebagai model dengan imbalan upah yang layak baginya — demi menunjukkan seni dan keahliannya; ia memotong, menggunting, memendekkan, dan memanjangkan pakaian itu di atas tubuh si miskin; ia pun mendudukkan, membangunkan, dan memberinya berbagai posisi. Adakah si miskin ini punya hak untuk berkata kepada seniman itu: "Mengapa engkau mengutak-atik, mengganti, dan mengubah pakaian yang memperindahku ini, dan mengapa engkau membangunkan lalu mendudukkanku, mengganggu istirahatku dengan susah payah?"

Demikian pula persis: Sang Pembuat Dzul-Jalâl, dengan menjadikan mahiyah setiap jenis makhluk sebagai model, dan untuk menunjukkan kesempurnaan seni-Nya dengan ukiran-ukiran asma-Nya; kepada setiap sesuatu — terutama yang hidup — Ia kenakan pakaian wujud yang bertatah indra, lalu di atasnya Ia buat ukiran-ukiran dengan pena qadha dan qadar; Ia tampakkan manifestasi asma-Nya. Kepada setiap makhluk pun, sebagai upah dengan cara yang layak baginya, Ia berikan suatu kesempurnaan, suatu kelezatan, suatu limpahan. Adakah sesuatu punya hak untuk berkata kepada Sang Pembuat Dzul-Jalâl — yang meraih rahasia مَالِكُ الْمُلْكِ يَتَصَرَّفُ ف۪ى مُلْكِه۪ كَيْفَ يَشَٓاءُ — "Engkau menyusahkanku. Engkau mengganggu istirahatku." Sekali-kali tidak! Ya, makhluk sama sekali tak punya hak apa pun terhadap Wâjib al-Wujûd dan tak dapat menuntut hak; melainkan hak mereka adalah senantiasa menunaikan hak dari tingkatan-tingkatan wujud yang dikaruniakan, dengan syukur dan puji. Karena semua tingkatan wujud yang dikaruniakan itu adalah kejadian nyata, yang masing-masing menuntut suatu sebab. Adapun tingkatan-tingkatan yang tak dikaruniakan adalah kemungkinan. Sedangkan kemungkinan itu ketiadaan, lagi tak terhingga. Adapun ketiadaan tak menuntut sebab. Bagi yang tak terhingga tak dapat ada sebab. Misalnya, benda tambang tak dapat berkata: "Mengapa aku tak menjadi tumbuhan?" Ia tak dapat mengeluh; melainkan haknya adalah bersyukur kepada Fâthir-nya karena meraih wujud sebagai benda tambang. Tumbuhan tak dapat mengeluh, "Mengapa aku tak menjadi hewan," melainkan haknya adalah bersyukur karena meraih kehidupan beserta wujud. Sedangkan hewan tak dapat mengeluh, "Mengapa aku tak menjadi manusia," melainkan haknya adalah bersyukur karena diberi permata ruh yang berharga beserta kehidupan dan wujud. Dan demikianlah, bandingkanlah.

Wahai manusia yang mengeluh! Engkau tak tinggal dalam ketiadaan, engkau mengenakan nikmat wujud, engkau merasakan kehidupan, engkau tak tinggal sebagai benda mati, engkau tak menjadi hewan, engkau menemukan nikmat keislaman, engkau tak tinggal dalam kesesatan, engkau melihat nikmat kesehatan dan keselamatan, dan seterusnya...

Wahai orang yang tak tahu berterima kasih! Di mana pula engkau memperoleh hak, sehingga alih-alih bersyukur atas tingkatan-tingkatan wujud yang merupakan nikmat murni dari Allah, engkau justru mengeluh kepada Allah dengan ketamakan yang batil — karena nikmat-nikmat tinggi dari jenis kemungkinan dan ketiadaan, yang tak sampai ke tanganmu dan yang tak layak bagimu, tak dikaruniakan kepadamu — lalu engkau mengingkari nikmat? Gerangan, apakah seorang yang naik ke suatu maqam berderajat tinggi laksana naik ke puncak menara, memperoleh maqam besar, dan pada setiap anak tangga melihat suatu nikmat besar — lalu ia tak bersyukur kepada Pemberi nikmat itu dan berkata: "Mengapa aku tak dapat naik lebih tinggi dari menara itu?" seraya mengeluh, menangis, dan meratap — betapa besar ketidakadilan yang ia lakukan, betapa dalam pengingkaran nikmat yang ia jatuhi, dan betapa besar kegilaan yang ia perbuat; bahkan orang-orang gila pun memahaminya.

Wahai manusia lalai, yang tak berkanaah lagi tamak, yang tak berhemat lagi boros, dan yang mengeluh tanpa hak! Ketahuilah dengan pasti: kanaah adalah syukur yang membawa keuntungan; ketamakan adalah kekufuran yang membawa kerugian. Berhemat adalah penghormatan yang indah dan bermanfaat terhadap nikmat. Sedangkan boros adalah pelecehan yang buruk dan merugikan terhadap nikmat. Jika engkau berakal, biasakanlah kanaah dan berupayalah meraih rida. Jika engkau tak sanggup menanggung, ucapkanlah "Yâ Shabûr" dan mintalah kesabaran; ridailah hakmu, jangan mengeluh. Ketahuilah kepada siapa engkau mengadu tentang siapa, lalu diamlah. Jika bagaimanapun engkau ingin mengeluh; adukanlah nafsumu kepada Allah, karena kesalahan ada padanya.