Risale-i NurAl-Maktubat

Rumus Kedua

Al-Maktubat · hlm. 334

Sebagaimana dinyatakan di akhir persoalan terakhir Surat Kedelapan Belas, salah satu hikmah bahwa Sang Khâliq Dzul-Jalâl senantiasa mengganti dan memperbarui makhluk dengan suatu aktivitas rububiyah yang menakjubkan lagi mencengangkan adalah ini: sebagaimana aktivitas dan gerak pada makhluk lahir dari suatu selera, suatu kerinduan, suatu kelezatan, suatu kecintaan. Bahkan dapat dikatakan bahwa pada setiap aktivitas terdapat sejenis kelezatan; bahkan setiap aktivitas adalah semacam kelezatan. Dan kelezatan pun tertuju kepada suatu kesempurnaan; bahkan ia semacam kesempurnaan. Karena aktivitas menunjukkan suatu kesempurnaan, suatu kelezatan, suatu keindahan; dan karena Wâjib al-Wujûd — yang merupakan Kesempurnaan Mutlak dan Yang Mahasempurna Dzul-Jalâl — dalam Zat, sifat, dan perbuatan-Nya mencakup segala jenis kesempurnaan; maka tentulah Zat Wâjib al-Wujûd itu memiliki kasih sayang suci yang tak terhingga dan kecintaan tersucikan yang tak berkesudahan — dengan cara yang layak bagi kewajiban wujud dan kesucian-Nya, sesuai dengan kemahakayaan zati dan kekayaan mutlak-Nya, serta selaras dengan kesempurnaan mutlak dan kesucian zati-Nya. Dan tentulah dari kasih sayang suci dan kecintaan tersucikan itu terdapat kegairahan suci yang tak terhingga. Dan dari kegairahan suci itu terdapat kesukaan suci yang tak terhingga. Dan dari kesukaan suci itu terdapat — jika boleh diungkapkan — kelezatan suci yang tak terhingga. Dan tentulah beserta kelezatan suci itu; oleh rahmat-Nya yang tak terhingga, di dalam aktivitas kudrat-Nya, dari keluarnya kesiapan makhluk-Nya dari daya menjadi nyata dan dari penyempurnaannya, dari kesenangan dan kesempurnaan makhluk itu — terdapat, jika boleh diungkapkan, kesenangan suci yang tak terhingga dan kebanggaan suci yang tak terhingga milik Zat Yang Rahmân dan Rahîm; yang secara tak terhingga menuntut aktivitas yang tak terhingga pula. Dan aktivitas yang tak terhingga itu pun menuntut pergantian, perubahan, peralihan, dan penghancuran yang tak terhingga. Dan perubahan serta pergantian yang tak terhingga itu pun menuntut kematian dan ketiadaan, kefanaan dan perpisahan.

Suatu ketika, faedah-faedah yang ditunjukkan hikmah manusia tentang tujuan makhluk tampak amat tak berarti dalam pandanganku. Dan darinya aku mengetahui bahwa hikmah itu menuju kesia-siaan. Karena itulah para filsuf yang melampau batas, entah jatuh ke dalam kesesatan naturalisme, atau menjadi Sofis, atau mengingkari ikhtiar dan ilmu Sang Pembuat, atau menyebut Sang Khâliq sebagai "penyebab dengan sendirinya" (mûjib bidzâtihi).

Maka pada saat itu, rahmat Ilahi mengirim nama Hakîm untuk menolongku; ia menunjukkan kepadaku tujuan-tujuan besar makhluk. Yakni, setiap makhluk adalah sepucuk surat rabbani yang ditelaah oleh seluruh yang berkesadaran. Tujuan ini mencukupiku selama setahun. Kemudian keajaiban-keajaiban dalam seni tersingkap, dan tujuan itu mulai tak mencukupi. Ditunjukkanlah tujuan lain yang jauh lebih besar. Yakni: tujuan terpenting setiap makhluk tertuju kepada Pembuatnya; yaitu mempersembahkan kesempurnaan seni-Nya, ukiran asma-Nya, tatahan hikmah-Nya, dan hadiah-hadiah rahmat-Nya ke hadapan pandangan-Nya, serta menjadi cermin bagi keindahan dan kesempurnaan-Nya — demikian kupahami. Tujuan ini cukup lama mencukupiku. Kemudian, di tengah aktivitas menakjubkan dalam seni dan penciptaan segala sesuatu, tampak mukjizat kudrat dan urusan rububiyah dalam pergantian dan perubahan yang amat cepat. Saat itu tujuan ini pun mulai tak mencukupi. Melainkan aku pahami bahwa diperlukan pula suatu penuntut dan pendorong yang sama besarnya dengan tujuan ini. Maka pada saat itu, ditunjukkanlah penuntut-penuntut dalam Rumus Kedua ini dan tujuan-tujuan dalam isyarat-isyarat yang akan datang. Dan dengan yakin diberitahukan kepadaku: "Aktivitas kudrat di alam semesta dan perjalanan serta aliran segala sesuatu sedemikian penuh makna, sehingga dengan aktivitas itu Sang Pembuat Yang Mahabijaksana membuat jenis-jenis alam semesta berbicara." Seolah-olah makhluk-makhluk langit dan bumi yang bergerak beserta geraknya adalah kata-kata dalam perbincangan mereka, dan gerak adalah suatu ucapan. Artinya, gerak dan kefanaan yang lahir dari aktivitas adalah ucapan-ucapan tasbih. Dan aktivitas di alam semesta pun adalah perbincangan alam semesta dan jenis-jenisnya secara diam-diam, serta membuat mereka berbincang.