Rumus Ketiga
Al-Maktubat · hlm. 336
Segala sesuatu tak pergi menuju kefanaan dan ketiadaan, melainkan berpindah dari lingkaran kudrat ke lingkaran ilmu; dari alam syahadah menuju alam gaib; dari alam perubahan dan kefanaan, tertuju menuju alam cahaya dan kekekalan. Menurut pandangan hakikat, keindahan dan kesempurnaan pada segala sesuatu adalah milik asma Ilahi, dan merupakan ukiran serta manifestasinya. Karena asma itu kekal dan manifestasinya abadi; maka tentulah ukiran-ukirannya diperbarui, disegarkan, dan diperindah. Ia tak pergi menuju ketiadaan dan kefanaan; melainkan hanya penampakan lahiriahnya yang berubah, sedangkan hakikat dan mahiyah serta hakikat misalinya — yang menjadi sumber keindahan dan wadah limpahan kesempurnaan — adalah kekal. Yang tak berruh, keindahannya secara langsung milik asma Ilahi; kemuliaan bagi mereka, pujian atas nama mereka, keindahan milik mereka, dan kecintaan tertuju kepada mereka. Bergantinya cermin-cermin itu tak mendatangkan kerugian bagi mereka. Adapun jika ia berruh, tetapi bukan dari golongan berakal, maka kefanaan dan perpisahannya bukanlah ketiadaan dan kefanaan; melainkan ia terlepas dari wujud jasmani dan dari hiruk-pikuk tugas kehidupan, lalu menyerahkan buah-buah tugas yang diperolehnya kepada ruh-ruhnya yang kekal; dan ruh-ruh kekal itu pun berlanjut dengan bersandar pada suatu asma Ilahi, bahkan pergi menuju kebahagiaan yang layak baginya. Adapun jika yang berruh itu dari golongan berakal; maka pada dasarnya itu adalah suatu perjalanan menuju alam kekekalan — yang menjadi sumber kebahagiaan abadi serta kesempurnaan lahir dan maknawi — dan menuju kediaman serta negeri lain dari Sang Pembuat Yang Mahabijaksana, seperti alam barzah, alam misal, dan alam ruh yang lebih indah dan lebih bercahaya daripada dunia; bukan suatu kematian dan ketiadaan, kefanaan dan perpisahan, melainkan berjumpa dengan kesempurnaan.