Risale-i NurAl-Maktubat

Kesimpulannya

Al-Maktubat · hlm. 337

Karena Sang Pembuat Dzul-Jalâl ada dan kekal, dan sifat serta asma-Nya abadi lagi sermedi; maka tentulah manifestasi dan ukiran asma itu diperbarui dalam suatu kekekalan maknawi; ia bukanlah penghancuran dan kefanaan, bukan pula pemusnahan dan kesirnaan. Telah dimaklumi bahwa manusia dari segi kemanusiaannya berkaitan dengan kebanyakan makhluk. Ia berlezat dengan kebahagiaan mereka dan menderita dengan kebinasaan mereka. Terutama dengan yang hidup, khususnya dengan jenis manusia, dan khususnya dengan derita ahli kesempurnaan yang ia cintai dan ia kagumi, ia lebih menderita; dan dengan kebahagiaan mereka, ia lebih berbahagia. Bahkan seperti seorang ibu yang penuh kasih, ia mengorbankan kebahagiaan dan ketenangannya sendiri demi kebahagiaan mereka.

Maka setiap mukmin, sesuai derajatnya, dengan cahaya Al-Qur'an dan rahasia iman, dapat berbahagia dengan kebahagiaan seluruh makhluk, dengan kekekalan mereka, dengan terlepasnya mereka dari kehampaan, dan dengan menjadinya mereka surat-surat rabbani yang berharga; ia dapat meraih cahaya sebesar dunia. Setiap orang memanfaatkan cahaya ini sesuai derajatnya. Adapun jika ia ahli kesesatan; maka beserta deritanya sendiri, ia menderita dengan kebinasaan, kefanaan, dan pemusnahan lahiriah seluruh makhluk, serta — jika ia berruh — dengan derita mereka. Yakni, kekufurannya memenuhi dunianya dengan ketiadaan, lalu menumpahkannya ke atas kepalanya sendiri; sebelum pergi ke neraka, ia telah pergi ke neraka.