Risale-i NurAl-Maktubat

Sebuah Nuktah Penting

Al-Maktubat · hlm. 135

Sudah dimaklumi bahwa benda-benda yang lemah, semakin ia berkumpul semakin ia menguat. Tali-tali yang halus, apabila dipilin menjadi seuntai, akan menjadi tambang yang kuat. Tambang-tambang yang kuat, apabila dipilin menjadi satu, tak seorang pun sanggup memutuskannya. Demikianlah, dari lima belas macam mukjizat, hanya mukjizat pada bagian keberkahan saja, dan dari lima belas bagian bagian itu hanya satu bagian saja, yang telah kami tunjukkan dengan lima belas contoh. Masing-masing contoh, dengan sendirinya, cukup kuat untuk membuktikan kenabian. Sekalipun secara pengandaian yang mustahil kita anggap sebagian darinya tidak kuat, tetap saja kita tidak dapat menyebutnya lemah. Karena yang bersekutu dengan yang kuat, akan menjadi kuat.

Selain itu, berkumpulnya lima belas contoh ini menunjukkan sebuah mukjizat agung yang kuat, dengan tawatur maknawi yang pasti lagi tak diragukan. Kini, andaikata mukjizat agung dalam himpunan ini dipadukan dengan empat belas bagian lain dari mukjizat keberkahan yang belum disebutkan, niscaya di dalamnya akan tampak sebuah mukjizat yang lebih agung, yang mustahil diputuskan — bak memilin tambang-tambang yang kuat menjadi satu. Kemudian, tambahkanlah mukjizat yang lebih agung ini kepada himpunan empat belas macam mukjizat lainnya, niscaya engkau lihat: betapa kuat, tak tergoyahkan, lagi pasti bukti kenabian Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم yang ditunjukkannya. Demikianlah, tiang kenabian Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم adalah sebuah tiang yang kuat bak gunung, yang tersusun dari himpunan ini. Kini engkau telah memahami, betapa besar kebodohan memandang atap yang menjulang tinggi lagi kokoh itu sebagai sesuatu yang tak teguh dan dapat runtuh, hanya karena keraguan yang timbul dari salah paham terhadap perincian dan contoh-contoh. Ya, mukjizat-mukjizat mengenai keberkahan itu menunjukkan bahwa: Muhammad al-Arabi صلى الله عليه وسلم adalah petugas yang dicintai oleh Zat Yang Maha Pengasih lagi Mulia — yang memberi rezeki kepada semua dan yang menciptakan segala rezeki — seorang hamba yang amat dimuliakan, yang kepadanya dikirimkan jamuan-jamuan dari ketiadaan dan semata dari alam gaib, secara menyalahi kebiasaan, dalam beragam jenis rezeki. Sudah dimaklumi bahwa Jazirah Arab adalah tempat yang sedikit air dan pertaniannya. Karena itu penduduknya, terutama para sahabat pada permulaan Islam, mengalami kesempitan penghidupan. Mereka pun kerap kali ditimpa kehausan. Maka berdasarkan hikmah ini, mukjizat-mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم yang nyata, yang terpenting di antaranya, muncul dalam perkara makanan dan air. Keajaiban-keajaiban ini, lebih daripada sekadar menjadi dalil dan mukjizat bagi pengakuan kenabian, berdasarkan kebutuhan, berkedudukan sebagai suatu pemuliaan Ilahi, suatu anugerah Rabbani, dan suatu jamuan Rahmani bagi Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Karena mereka yang menyaksikan mukjizat-mukjizat itu telah membenarkan kenabian. Namun setiap kali mukjizat muncul, iman pun bertambah, menjadi "nûrun 'alâ nûr".