Risale-i NurAl-Maktubat

Segi Kedua

Al-Maktubat · hlm. 309

Menurut pandangan hikmah pun ia adalah kezaliman. Karena telah dimaklumi bahwa permusuhan dan kecintaan itu berlawanan, laksana cahaya dan kegelapan; keduanya tak dapat berhimpun dalam makna hakikinya secara bersamaan.

Jika kecintaan itu — sesuai keunggulan sebab-sebabnya — benar-benar hakiki dalam sebuah kalbu, maka pada saat itu permusuhan menjadi majasi; ia berubah menjadi rasa iba. Ya, seorang mukmin mencintai saudaranya dan memang harus mencintainya. Namun terhadap keburukannya, ia hanya merasa iba. Ia berupaya memperbaikinya bukan dengan paksaan, melainkan dengan kelembutan. Karena itulah, dengan nash hadis dinyatakan: "Seorang mukmin tak boleh saling merajuk dan memutus percakapan dengan mukmin lain lebih dari tiga hari."

Adapun jika sebab-sebab permusuhan menang, dan permusuhan hadir dalam sebuah kalbu dengan hakikatnya, maka pada saat itu kecintaan menjadi majasi; ia berubah menjadi kepura-puraan dan penjilatan.

Wahai orang yang tak berbelas kasih! Kini perhatikanlah, betapa besar kezaliman kebencian dan permusuhan terhadap saudara mukminmu. Sebab, sebagaimana jika engkau berkata bahwa batu-batu kecil yang hina lebih penting daripada Ka'bah dan lebih besar daripada Gunung Uhud, engkau melakukan kebodohan yang buruk; demikian pula persis: sementara begitu banyak sifat keislaman — seperti iman yang mulianya setara kehormatan Ka'bah, dan keislaman yang agungnya setara kebesaran Gunung Uhud — menuntut kecintaan dan kesatuan, maka mengutamakan sebagian aib yang berkedudukan bagai batu-batu hina, yang menjadi sebab permusuhan terhadap mukmin, di atas iman dan keislaman, adalah sebuah ketidakadilan, kebodohan, dan kezaliman yang amat besar — engkau akan memahaminya jika akalmu masih ada!..

Ya, tauhid imani niscaya menuntut penyatuan kalbu. Dan kesatuan akidah pun mengharuskan kesatuan sosial. Ya, engkau tak dapat mengingkari bahwa dengan berada bersama seseorang dalam satu batalion, engkau merasakan ikatan persahabatan terhadapnya; dan karena berada bersama di bawah perintah seorang komandan, engkau menganggapnya suatu hubungan kawan seperjuangan; serta dengan berada bersama dalam satu negeri, engkau merasakan hubungan persaudaraan. Padahal dengan cahaya dan kesadaran yang diberikan iman, serta dengan ikatan-ikatan kesatuan, tali-tali persatuan, dan hubungan-hubungan persaudaraan sebanyak asma Ilahi yang ditunjukkan dan diberitahukannya kepadamu — terdapat pertautan yang jauh lebih kuat. Misalnya:

Khâliq kalian berdua satu, Mâlik kalian satu, Ma'bûd kalian satu, Pemberi rezeki kalian satu.. satu demi satu hingga seribu. Lalu Nabi kalian صلى الله عليه وسلم satu, agama kalian satu, kiblat kalian satu.. satu demi satu hingga seratus. Kemudian desa kalian satu, negara kalian satu, negeri kalian satu.. satu demi satu hingga sepuluh. Sementara sekian banyak "satu-satu" ini menuntut kesatuan dan tauhid, kesepakatan dan persatuan, kecintaan dan persaudaraan, dan sementara ada rantai-rantai maknawi yang mengikat alam semesta beserta bola-bola langit satu sama lain — maka mengutamakan hal-hal remeh lagi rapuh bagai sarang laba-laba, yang menjadi sebab perpecahan dan kemunafikan, kebencian dan permusuhan, lalu memusuhi mukmin dengan permusuhan hakiki serta menautkan kebencian: betapa besar ia merupakan pelecehan terhadap ikatan kesatuan itu, penghinaan terhadap sebab-sebab kecintaan itu, dan betapa besar kezaliman serta kesewenangan terhadap hubungan-hubungan persaudaraan itu — engkau akan memahaminya jika kalbumu belum mati dan akalmu belum padam!