Segi Ketiga
Al-Maktubat · hlm. 310
Menurut rahasia ayat وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ اُخْرٰى yang menyatakan keadilan murni, menautkan permusuhan dan kebencian — yang berkedudukan menghukumi seluruh sifat tak berdosa lantaran satu sifat jahat yang ada pada seorang mukmin — betapa merupakan kezaliman tak terhingga; dan terlebih lagi, marah dan merajuk karena satu sifat buruk seorang mukmin, lalu meluaskan permusuhan itu hingga kepada kerabatnya, adalah — sebagaimana diperingatkan oleh hakikat, syariat, dan hikmah Islam melalui bentuk mubalaghah pada اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَظَلُومٌ — suatu kezaliman yang amat besar. Maka bagaimana engkau memandang dirimu benar, dan berkata, "Aku punya hak"?
Menurut pandangan hakikat, keburukan yang menjadi sebab permusuhan dan kejahatan itu pekat bagai kejahatan dan tanah; semestinya ia tak menjalar dan tak memantul kepada orang lain. Jika orang lain mengambil pelajaran darinya lalu berbuat jahat, itu persoalan lain. Adapun kebaikan yang menjadi sebab kecintaan, ia bercahaya bagai kecintaan; sudah menjadi tabiatnya untuk menjalar dan memantul. Karena itulah ucapan "Sahabat dari sahabat adalah sahabat" telah menjadi peribahasa. Dan karena itu pula ucapan "Demi satu mata yang dikenang, banyak mata dicintai" beredar di lidah orang banyak.
Maka wahai orang yang tak berbelas kasih! Sementara hakikat memandang demikian, memusuhi saudara yang tak berdosa lagi elok dan para kerabat dari orang yang tak engkau sukai: betapa ia bertentangan dengan hakikat — engkau akan memahaminya jika engkau seorang yang memandang hakikat.