Risale-i NurAl-Maktubat

Sumber ketiga, yaitu manifestasi ahadiyah:

Al-Maktubat · hlm. 291

Yakni karena Sang Pembuat Dzul-Jalâl bukan jasad dan bukan jasmani, maka zaman dan tempat tak dapat mengikat-Nya. Dan wujud serta tempat tak dapat mencampuri penyaksian dan kehadiran-Nya. Dan perantara serta benda tak dapat menabiri perbuatan-Nya. Pada perhatian-Nya tak ada keterbagian dan pemisahan. Satu benda tak menghalangi benda lain. Ia melakukan perbuatan tak terhingga laksana satu perbuatan. Karena itulah; sebagaimana Ia menyisipkan sebatang pohon raksasa secara maknawi ke dalam sebutir benih, Ia dapat menyisipkan sebuah alam ke dalam satu individu. Seluruh alam diputar di tangan kudrat-Nya laksana satu individu. Rahasia ini, sebagaimana kami uraikan pada Kalimat lain, kami katakan: sebagaimana bayangan matahari — yang dari sisi kebercahayaan hingga suatu derajat tak terikat — menjelma pada setiap benda mengilap yang terang. Jika ribuan, jutaan cermin berhadapan dengan cahayanya, kilau bayangannya ada dengan sendirinya pada setiap cermin tanpa terbagi, laksana pada satu cermin. Jika cermin memiliki kemampuan, matahari dapat menunjukkan jejaknya padanya dengan keagungannya. Satu benda tak menghalangi benda lain. Ribuan semudah satu, dan ke ribuan tempat semudah ke satu tempat ia masuk. Setiap tempat menjadi tempat manifestasi kilau matahari itu sebanyak ribuan tempat.

Nah, وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى Sang Pembuat Dzul-Jalâl alam raya ini, dengan seluruh sifat-Nya yang berupa cahaya dan seluruh asma-Nya yang bercahaya, dengan rahasia perhatian ahadiyah, memiliki manifestasi sedemikian rupa sehingga; meski tak berada di tempat mana pun, Ia hadir lagi menyaksikan di setiap tempat. Pada perhatian-Nya tak ada keterbagian. Pada saat yang sama, di setiap tempat, tanpa beban, tanpa berdesakan, Ia melakukan setiap pekerjaan.

Nah, dengan rahasia bantuan wâhidiyah, kemudahan kesatuan, dan manifestasi ahadiyah inilah; tatkala segenap wujud diserahkan kepada satu Sang Pembuat; seluruh wujud itu semudah dan senyaman satu wujud. Dan setiap wujud dapat seberharga seluruh wujud dari sisi keindahan seni. Sebagaimana adanya kehalusan seni tak terhingga pada setiap individu di tengah keberlimpahan wujud tak terhingga menunjukkan hakikat ini. Jika wujud itu tak diserahkan langsung kepada satu Sang Pembuat; ketika itu setiap wujud menjadi sesulit seluruh wujud, dan seluruh wujud jatuh ke nilai satu wujud. Dalam keadaan itu, entah tak ada sesuatu pun yang terwujud, atau kalaupun terwujud, ia akan tak berharga, jatuh menjadi hampa.

Nah, dari rahasia inilah: kaum Sofis — yang paling jauh menyimpang di antara ahli filsafat — karena memalingkan wajah dari jalan haq, memandang jalan kekufuran dan kesesatan; mereka melihat bahwa: jalan syirik seratus ribu kali lebih sulit daripada jalan haq dan jalan tauhid, teramat tak masuk akal. Karena itu, mereka terpaksa mengingkari wujud segala sesuatu dan mengundurkan diri dari akal.