Surat Kedua Puluh Tiga
Al-Maktubat · hlm. 575
Surat ini memiliki beberapa pembahasan. Sebagai ganti pembahasan-pembahasan lain, satu pembahasan yang halus dan sarat makna ditulis apa adanya. Yakni:
Suatu nuktah luhur, halus, penuh kabar gembira, dan mukjizat dari ayat تَوَفَّن۪ى مُسْلِمًا وَ اَلْحِقْن۪ى بِالصَّالِح۪ينَ yang mengabarkan penutup kisah Yusuf (A.S.) — kisah terbaik (ahsanul qashash) — adalah ini: pahitnya dan derita kabar kesirnaan dan perpisahan di akhir kisah-kisah lain yang penuh sukacita dan kebahagiaan; membuat pahit dan mematahkan kenikmatan khayali yang diambil dari kisah itu. Terutama mengabarkan kematian dan perpisahan pada saat mengabarkan bahwa (tokoh) berada dalam kesempurnaan sukacita dan kebahagiaan, lebih menyakitkan. Ia membuat para pendengar berkata "Aduh". Padahal ayat ini mengabarkan kematian Hazrat Yusuf (A.S.) — pada saat paling bahagia dan penuh sukacita secara duniawi, yaitu bagian paling cemerlang kisah Yusuf: menjadi Aziz Mesir, berjumpa dengan ayah dan ibunya, serta saling mencintai dan mengenali dengan saudara-saudaranya — dengan cara sedemikian, dan berkata: "Untuk mencapai suatu keadaan yang lebih bahagia dan cemerlang daripada keadaan yang penuh sukacita dan kebahagiaan ini, Hazrat Yusuf Alaihissalâm meminta wafatnya dari Allah, dan ia wafat, ia meraih kebahagiaan itu." Artinya, ada suatu kebahagiaan yang lebih memikat dan keadaan yang lebih penuh sukacita daripada kebahagiaan lezat duniawi itu di balik kubur; sehingga seorang yang melihat hakikat seperti Hazrat Yusuf Alaihissalâm, di tengah keadaan yang amat lezat itu, meminta kematian yang amat pahit, agar ia meraih kebahagiaan yang lain itu. Maka kagumlah pada balâghah Al-Qur'an al-Hakîm ini, lihatlah bagaimana ia mengabarkan penutup kisah Yusuf (A.S.). Ia menambahkan bagi para pendengar kabar itu bukan derita dan sesal; melainkan suatu kabar gembira, suatu sukacita. Dan ia membimbing bahwa: bekerjalah untuk (kehidupan) di balik kubur! Kebahagiaan dan kenikmatan hakiki ada di sana.
Lagi pula ia menunjukkan keshiddiqan luhur Hazrat Yusuf Alaihissalâm dan berkata: "Keadaan dunia yang paling cemerlang dan paling penuh sukacita pun tak memberinya kelalaian, tak memikatnya; ia tetap menginginkan akhirat."