Risale-i NurAl-Maktubat

Tingkatan Kehidupan Keempat

Al-Maktubat · hlm. 2

Yaitu kehidupan para syuhada. Berdasarkan nash Al-Qur'an, para syuhada memiliki suatu tingkatan kehidupan yang berada di atas ahli kubur. Ya, karena para syuhada telah mengorbankan kehidupan duniawi mereka di jalan yang haq, maka Allah Ta'ala dengan kesempurnaan kemurahan-Nya menganugerahkan kepada mereka di Alam Barzakh suatu kehidupan yang menyerupai kehidupan duniawi, akan tetapi tanpa duka dan tanpa derita. Mereka tidak menyangka diri mereka telah mati.. mereka hanya mengetahui bahwa diri mereka telah berpindah ke alam yang lebih baik.. mereka bersukacita dengan kesempurnaan kebahagiaan.. mereka tidak merasakan pahitnya perpisahan dalam kematian. Adapun ahli kubur, sekalipun ruh-ruh mereka kekal, mereka menyangka diri mereka telah mati. Kelezatan dan kebahagiaan yang mereka peroleh di alam Barzakh tidaklah sampai kepada kelezatan para syuhada. Sebagaimana dua orang memasuki suatu istana indah bagaikan surga di dalam mimpi. Yang seorang mengetahui bahwa ia sedang bermimpi. Kesenangan dan kelezatan yang ia peroleh amatlah kurang. Ia berpikir, "Seandainya aku terbangun, niscaya kelezatan ini akan lenyap." Yang seorang lagi tidak mengetahui bahwa ia sedang bermimpi. Ia memperoleh kelezatan yang hakiki dan kebahagiaan yang hakiki.

Demikianlah, pengambilan manfaat dari kehidupan barzakhiyah antara orang-orang mati dan para syuhada di Alam Barzakh itu sungguh berbeda. Dengan peristiwa dan riwayat yang tak terhitung banyaknya, telah tetap dan pasti bahwa para syuhada memperoleh corak kehidupan semacam ini dan bahwa mereka menyangka diri mereka masih hidup. Bahkan tingkatan kehidupan ini telah diterangi dan dibuktikan dengan banyak peristiwa, seperti penghulu para syuhada, Hadhrat Hamzah Radhiyallâhu 'Anhu, yang dengan peristiwa yang berulang kali melindungi orang-orang yang berlindung kepadanya serta mengurus dan menyelesaikan urusan-urusan duniawi mereka. Bahkan — aku sendiri — memiliki seorang keponakan sekaligus muridku bernama Ubaid. Setelah ia gugur sebagai syahid di sisiku dan menggantikan tempatku, tatkala aku berada dalam tawanan pada jarak perjalanan tiga bulan, sedang aku tidak mengetahui tempat pemakamannya, dalam suatu mimpi yang benar aku memasuki kuburnya yang berupa sebuah tempat tinggal di bawah bumi. Aku melihatnya dalam tingkatan kehidupan para syuhada. Ternyata ia menyangka aku telah mati. Ia mengatakan bahwa ia telah banyak menangis untukku. Ia menyangka dirinya masih hidup; akan tetapi karena ia menghindar dari serbuan Rusia, ia membuat bagi dirinya sebuah tempat tinggal yang indah di bawah tanah. Nah, mimpi yang bersifat parsial ini, dengan sejumlah syarat dan tanda, telah memberiku keyakinan sampai ke derajat penyaksian terhadap hakikat yang telah lalu itu.