Risale-i NurAl-Maktubat

Tipu Daya Pertama

Al-Maktubat · hlm. 477

Setan dari kalangan manusia, berdasarkan pelajaran yang diambilnya dari setan jin; hendak menipu para pelayan Hizbul Qur'an yang penuh pengorbanan melalui hubbul jâh (cinta kedudukan) dan memalingkan mereka dari khidmat yang suci itu serta jihad maknawi yang luhur itu. Yakni:

Pada manusia, pada umumnya terdapat hasrat — parsial maupun universal — dalam setiap individu ahli dunia untuk apa yang disebut hubbul jâh, yakni ketamakan akan ketenaran dan mengagungkan diri, dan apa yang disebut kemasyhuran serta kehormatan, yakni tampil di hadapan orang dengan riya dan menjadi pemilik kedudukan dalam pandangan umum. Bahkan demi hasrat itu, perasaan cinta ketenaran menggiringnya sampai derajat mengorbankan nyawanya. Bagi ahli akhirat perasaan ini amat berbahaya, bagi ahli dunia pun amat penuh gejolak; ia adalah sumber banyak akhlak buruk dan urat manusia yang paling lemah. Yakni: untuk menangkap seorang manusia dan menariknya kepada diri; dengan membelai perasaan itu ia mengikatnya kepada diri, dan dengannya pula ia mengalahkannya. Yang paling kutakutkan tentang saudara-saudaraku adalah kemungkinan ahli ilhad memanfaatkan urat lemah mereka ini. Keadaan ini membuatku banyak berpikir. Sebagian sahabatku yang malang, yang tak sejati, telah mereka tarik dengan cara itu, dan secara maknawi mereka lemparkan ke bahaya.

{(Catatan kaki): Orang-orang malang itu menyangka diri mereka aman dengan pikiran "Kalbu kami bersama Ustaz." Padahal ucapan seseorang yang memberi kekuatan pada arus ahli ilhad dan terperdaya oleh propaganda mereka — bahkan yang berada dalam bahaya dipakai sebagai mata-mata tanpa ia sadari — bahwa "Kalbuku bersih. Setia pada jalan Ustazku," menyerupai perumpamaan ini: seseorang saat salat tak dapat menahan angin di perutnya, angin itu keluar; terjadi hadas. Tatkala dikatakan kepadanya "Salatmu batal", ia berkata: "Mengapa salatku batal, kalbuku bersih."}

Wahai saudara-saudaraku dan wahai kawan-kawanku dalam khidmat Al-Qur'an! Kepada mata-mata ahli dunia yang licik yang datang dari sisi hubbul jâh ini, atau kepada para propagandis ahli kesesatan, atau kepada murid-murid setan, katakanlah: "Pertama, rida Ilahi, perhatian Rahmani, dan penerimaan Rabbani adalah suatu maqam yang, dibandingkan dengannya, perhatian dan pujian manusia berkedudukan bagai satu zarah. Jika ada perhatian rahmat, itu cukup. Perhatian manusia; dari segi ia adalah pantulan dan bayangan perhatian rahmat itu, ia diterima; jika tidak, ia bukanlah sesuatu yang patut dihasratkan.. karena ia padam di pintu kubur, tak bernilai sepeser pun!"

Jika perasaan hubbul jâh tak dapat dibungkam dan dihilangkan, maka wajahnya perlu dipalingkan ke arah lain. Yakni:

Demi pahala ukhrawi, dengan niat meraih doa mereka, dan berdasarkan rahasia dalam perumpamaan yang akan datang dari segi pengaruh baik khidmat, mungkin perasaan itu memiliki suatu sisi yang sah. Misalnya: pada suatu masa Masjid Ayasofya penuh dengan tokoh-tokoh yang diberkahi dan mulia dari ahli keutamaan dan kesempurnaan, sementara di serambi dan pintu ada satu-dua anak nakal dan orang tak beradab yang keluyuran, dan di atas serta dekat jendela masjid ada penonton asing pemuja hiburan. Jika seseorang masuk ke masjid itu dan masuk ke tengah jamaah itu; jika ia membaca satu asyir (bagian) dari Al-Qur'an dengan suara indah dan cara yang manis, ketika itu pandangan ribuan ahli hakikat berpaling kepadanya, dengan perhatian yang baik dan doa maknawi, mereka memberinya suatu pahala. Hanya saja, hal itu tak akan menyenangkan anak-anak nakal, para mulhid keluyuran, dan satu-dua orang asing. Adapun jika saat masuk ke masjid yang diberkahi dan ke tengah jamaah yang mahaagung itu orang tersebut malah berteriak-teriak menyanyikan lagu-lagu rendah dan cabul tak beradab, menari dan melompat-lompat; ketika itu ia akan membuat anak-anak nakal itu tertawa, menyenangkan orang tak beradab itu karena mendorong mereka kepada kecabulan, dan menarik senyum sinis orang-orang asing yang bersukacita melihat cela Islam. Namun ia akan menarik pandangan kebencian dan penghinaan dari seluruh individu jamaah yang mahaagung dan diberkahi itu. Ia akan tampak hina dalam pandangan mereka sampai derajat jatuh ke asfala sâfilîn (serendah-rendahnya).

Maka persis seperti perumpamaan ini; Alam Islam dan Asia adalah sebuah masjid yang mahaagung. Dan ahli iman serta ahli hakikat di dalamnya adalah jamaah mulia di masjid itu. Adapun anak-anak nakal itu adalah para penjilat berakal kanak-kanak. Orang tak beradab yang keluyuran itu; adalah orang-orang bermental Barat (firenk), tanpa kebangsaan, tanpa agama. Adapun penonton asing itu adalah para wartawan yang menjadi penyebar pemikiran orang asing. Setiap Muslim, terutama jika ia dari ahli keutamaan dan kesempurnaan; di masjid ini memiliki suatu kedudukan sesuai derajatnya, tampak, dan perhatian berpaling kepadanya. Jika dari sisi ikhlas dan rida Ilahi — yang merupakan suatu rahasia asasi Islam — keluar darinya gerak dan amal berkenaan dengan hukum dan hakikat suci yang diajarkan Al-Qur'an al-Hakîm, dan lisan keadaannya secara maknawi membaca ayat-ayat Al-Qur'an; ketika itu secara maknawi ia masuk dan turut serta dalam doa اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِن۪ينَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ yang menjadi wirid lisan setiap individu Alam Islam, dan ia berkaitan dengan mereka semua secara persaudaraan. Hanya saja nilainya tak tampak dalam pandangan sebagian ahli kesesatan dari jenis hewan berbahaya dan sebagian orang dungu yang berkedudukan bagai anak-anak berjenggot. Adapun jika orang itu meninggalkan seluruh leluhurnya yang ia kenal sebagai sumber kehormatan, seluruh pendahulunya yang ia ketahui sebagai sumber kebanggaan, dan jalan-jalan bercahaya salaf saleh yang secara ruhani ia terima sebagai titik sandaran, lalu menyibukkan diri dalam urusan dan gerak yang menuruti hawa, memuja hawa nafsu, riya, memuja ketenaran, dan berbuat bidah; secara maknawi ia jatuh ke kedudukan paling hina dalam pandangan seluruh ahli hakikat dan ahli iman. Menurut rahasia اِتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَاِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللّٰهِ; betapa pun awam dan bodohnya ahli iman, sekalipun akalnya tak menangkap, jika kalbunya melihat orang-orang yang mengagungkan diri semacam itu; ia memandangnya dingin, secara maknawi ia membencinya.

Maka orang yang tergila-gila pada hubbul jâh dan terjangkit pemujaan ketenaran — orang kedua — jatuh ke asfala sâfilîn dalam pandangan jamaah yang tak terhingga. Dalam pandangan sebagian gelandangan yang tak berarti, suka mengejek, dan mengoceh, ia meraih kedudukan sementara yang celaka. Menurut rahasia اَ ْلاَخِلآَّءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلاَّ الْمُتَّق۪ينَ; ia mendapati sebagian sahabat dusta yang menjadi kerugian di dunia, azab di barzakh, dan musuh di akhirat.

Adapun orang dalam keadaan pertama, andaikan ia tak mengeluarkan hubbul jâh dari kalbunya, tetapi dengan syarat menjadikan ikhlas dan rida Ilahi sebagai asas serta tak menjadikan hubbul jâh sebagai tujuan; ia meraih semacam maqam maknawi yang sah, bahkan maqam yang megah, yang memuaskan urat hubbul jâh itu dengan sempurna. Orang ini kehilangan sedikit, bahkan amat sedikit dan tak berarti; sebagai gantinya, ia mendapati banyak, bahkan amat banyak hal yang berharga dan tak merugikan. Boleh jadi ia mengusir beberapa ular dari dirinya; sebagai gantinya, ia mendapati banyak makhluk yang diberkahi sebagai teman dan berkawan akrab dengan mereka. Atau ia mengusir tawon liar yang menyengat, lalu menarik lebah — para penyaji sirup rahmat yang diberkahi — kepada dirinya. Bagai makan madu dari tangan mereka, ia mendapati sahabat-sahabat sedemikian sehingga; dengan doa mereka senantiasa, limpahan bagai air kautsar diminumkan ke ruhnya dari segenap penjuru Alam Islam dan dicatat ke buku amalnya.

Pada suatu masa, seorang kecil yang menduduki suatu kedudukan besar di dunia, tatkala menjadi bahan tertawaan dalam pandangan Alam Islam karena melakukan kesalahan besar di jalan pemujaan ketenaran, kuajarkan kepadanya makna perumpamaan yang lalu; kupukulkan ke kepalanya. Ia terguncang baik, tetapi karena aku sendiri tak dapat membebaskan diri dari hubbul jâh, peringatanku itu pun tak membangunkannya.