Tipu Daya Kedua
Al-Maktubat · hlm. 481
Perasaan yang paling penting dan asasi pada manusia adalah perasaan takut. Para zalim yang licik banyak memanfaatkan urat takut ini. Dengannya, mereka mengekang para pengecut. Mata-mata ahli dunia dan propagandis ahli kesesatan banyak memanfaatkan urat orang awam dan terutama para ulama ini. Mereka menakut-nakuti, membangkitkan waswas mereka. Misalnya: sebagaimana untuk menjatuhkan seseorang ke bahaya di atas atap, seorang licik menunjukkan sesuatu yang tampak berbahaya dalam pandangan si penuh waswas itu, membangkitkan waswasnya, mengejar-ngejarnya hingga ke tepi atap, lalu menjatuhkannya kepala di bawah, patahlah lehernya. Persis seperti itu; dengan waswas yang amat tak berarti, mereka membuat hal-hal yang amat penting dikorbankan. Bahkan dengan berkata "jangan sampai seekor lalat menggigitku", seseorang malah masuk ke mulut ular.
Pada suatu masa — semoga Allah merahmatinya — seorang tokoh penting takut menaiki perahu. Bersamanya pada suatu petang, kami datang dari Istanbul ke jembatan. Kami harus menaiki perahu. Tak ada kereta. Kami terpaksa pergi ke Sultan Eyyüb. Aku mendesak. Ia berkata: "Aku takut, mungkin kita akan tenggelam!" Kukatakan kepadanya: "Kira-kira berapa perahu ada di Teluk Haliç ini?" Ia berkata: "Mungkin ada seribu." Kukatakan: "Berapa perahu tenggelam dalam setahun?" Ia berkata: "Satu-dua, sebagian tahun malah tak ada yang tenggelam." Kukatakan: "Berapa hari dalam setahun?" Ia berkata: "Tiga ratus enam puluh hari." Kukatakan: "Kemungkinan tenggelam yang mengusik waswasmu dan menyentuh ketakutanmu adalah satu kemungkinan dari tiga ratus enam puluh ribu kemungkinan. Orang yang takut pada kemungkinan seperti itu; bukan manusia, bahkan hewan pun tak mungkin!" Kukatakan pula kepadanya: "Kira-kira berapa tahun lagi kauperkirakan hidup?" Ia berkata: "Aku sudah tua, mungkin ada kemungkinan aku hidup sepuluh tahun lagi." Kukatakan: "Karena ajal itu tersembunyi, ada kemungkinan mati pada setiap hari; kalau begitu dalam tiga ribu enam ratus hari, setiap hari kematianmu mungkin. Maka bukan satu kemungkinan dari tiga ratus ribu seperti perahu, melainkan dengan satu kemungkinan dari tiga ribu, kematianmu hari ini mungkin; gemetarlah dan menangislah, berwasiatlah!" kataku. Ia sadar, dan dengan gemetar kunaikkan ia ke perahu. Di dalam perahu kukatakan kepadanya: "Allah memberikan urat takut untuk memelihara kehidupan, bukan untuk merusak kehidupan! Dan Ia tak memberikannya untuk menjadikan hidup berat, sukar, pedih, dan azab. Jika ketakutan itu satu dari dua, tiga, empat kemungkinan.. bahkan satu dari lima-enam kemungkinan, suatu ketakutan yang berhati-hati bisa jadi sah. Tetapi takut dengan satu kemungkinan dari dua puluh, tiga puluh, empat puluh adalah waswas, ia mengubah hidup menjadi azab."
Maka wahai saudara-saudaraku! Jika para penjilat ahli ilhad menyerbu kalian untuk menakut-nakuti dan memalingkan kalian dari jihad maknawi kalian yang suci; katakanlah kepada mereka: "Kami adalah Hizbul Qur'an. Dengan rahasia اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ اِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ, kami berada di benteng Al-Qur'an. حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ adalah tembok kokoh yang mengelilingi kami. Dengan ketakutan akan datangnya kerugian kecil pada kehidupan fana yang singkat ini — dari satu kemungkinan di antara ribuan — kalian tak dapat menggiring kami dengan kehendak kami sendiri ke suatu jalan yang akan memberi kerugian seratus persen berlipat-lipat pada kehidupan abadi kami!" Dan katakanlah: "Gerangan, dari sebab siapa — Said Nursî, kawan kami dalam khidmat Al-Qur'an serta ustaz dan kepala tukang kami dalam mengatur khidmat suci itu — adakah dari ahli hak yang menjadi sahabatnya di jalan hak seperti kami menderita kerugian? Dan siapa dari murid khususnya yang menderita bala, sehingga kami pun akan menderitanya dan gelisah karena kemungkinan menderitanya? Saudara kami ini memiliki ribuan sahabat dan saudara ukhrawi. Meskipun selama dua puluh tiga puluh tahun ia terlibat secara berpengaruh dalam kehidupan sosial dunia, kami tak mendengar seorang saudaranya menderita kerugian dari sebabnya. Terutama pada masa itu di tangannya ada gada politik. Kini sebagai ganti gada itu ada cahaya hakikat. Dahulu pada peristiwa 31 Maret memang mereka melibatkannya pula, dan menindas sebagian sahabatnya. Tetapi kemudian menjadi jelas bahwa persoalan itu ditimbulkan pihak lain. Para sahabatnya menderita bala bukan dari sebabnya, melainkan dari sebab musuh-musuhnya. Bahkan pada masa itu ia pun menyelamatkan banyak sahabatnya. Berdasarkan ini; dengan ketakutan akan satu kemungkinan bahaya — bukan dari seribu, melainkan dari ribuan — melepaskan suatu perbendaharaan abadi dari tangan kami, janganlah terlintas di benak setan-setan seperti kalian!" Demikianlah kalian harus memukul mulut para penjilat ahli kesesatan dan mengusir mereka. Dan katakanlah kepada para penjilat itu:
"Bukan satu kemungkinan dari ratusan ribu, bahkan jika kebinasaan datang dengan seratus kemungkinan dari seratus; jika kami memiliki akal sekecil zarah, kami tak akan takut, meninggalkannya, dan lari!" Karena dengan pengalaman berulang telah terlihat dan masih terlihat bahwa: bala yang datang, pertama-tama meletus di kepala mereka yang mengkhianati kakak atau ustaznya pada saat bahaya. Dan mereka dihukum tanpa belas kasih serta dipandang dengan pandangan hina. Jasadnya mati, dan ruhnya pun mati secara maknawi dalam kehinaan. Mereka yang menghukum mereka tak merasakan belas kasih di kalbunya. Karena mereka berkata: "Selama mereka ini berkhianat kepada ustaz mereka yang setia dan penuh kasih; tentu mereka amat hina, layak dihina, bukan dikasihani."
Selama hakikatnya demikian. Dan selama seorang zalim tak berhati nurani melemparkan seseorang ke tanah dan bertindak hendak memastikan menginjak kepalanya dengan kaki, jika orang di tanah itu mencium kaki si zalim liar itu; dengan kehinaan itu kalbunya hancur sebelum kepalanya, ruhnya mati sebelum jasadnya. Kepalanya hilang, kemuliaan dan kehormatannya pun musnah. Dan dengan menunjukkan kelemahan menghadapi zalim buas tak berhati nurani itu, ia justru mendorongnya untuk menghancurkan dirinya. Adapun jika orang teraniaya di bawah kaki itu meludahi wajah si zalim; ia menyelamatkan kalbu dan ruhnya, jasadnya menjadi seorang syahid teraniaya. Ya, ludahilah wajah para zalim yang tak tahu malu!..
Pada suatu masa, tatkala Negara Inggris menghancurkan meriam-meriam Selat Istanbul dan menduduki Istanbul; oleh pendeta kepala Gereja Anglikan — lembaga keagamaan terbesar negara itu — diajukan enam pertanyaan agama kepada Masyihat Islamiyah. Aku saat itu adalah anggota Dârul Hikmah al-Islâmiyah. Mereka berkata kepadaku: "Berilah jawaban." Mereka meminta jawaban atas enam pertanyaan mereka dengan enam ratus kata. Aku berkata: "Bukan dengan enam ratus kata, bukan pula dengan enam kata, bahkan tidak dengan satu kata pun; melainkan dengan satu ludahan aku menjawab! Karena negara itu — lihatlah — pada saat menginjakkan kakinya di tenggorokan kami, menghadapi pendetanya yang dengan sombong mengajukan pertanyaan atas kami, wajahnya harus diludahi. Ludahilah wajah tak berbelas kasih dari ahli kezaliman itu!.." demikian kataku. Kini aku berkata:
Wahai saudara-saudaraku! Pada suatu masa tatkala pemerintahan lalim seperti Inggris menduduki, membalas mereka dengan cara lisan percetakan seperti ini — sementara bahayanya seratus persen — pemeliharaan Al-Qur'an memadai bagiku; maka bagi kalian pun, menghadapi kerugian dari tangan para zalim tak berarti dengan satu kemungkinan dari seratus, tentu ia seratus derajat lebih memadai.
Dan wahai saudara-saudaraku! Kebanyakan kalian pernah menjalani wajib militer. Yang belum pun tentu telah mendengar. Yang belum mendengar, dengarlah dariku bahwa: "Yang paling banyak terluka adalah mereka yang meninggalkan parit pertahanannya lalu lari. Yang paling sedikit terluka adalah mereka yang teguh di paritnya!" Ayat قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذ۪ى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَاِنَّهُ مُلاَق۪يكُمْ dengan makna isyarinya menunjukkan bahwa: "Mereka yang lari, dengan lari itu justru lebih menghadapi kematian!"