Tipu Daya Setan Ketiga
Al-Maktubat · hlm. 484
Mereka memburu banyak orang karena ketamakan. Dengan dalil-dalil pasti yang kami limpahi dari ayat dan bukti terang Al-Qur'an al-Hakîm, telah kami buktikan di banyak risalah bahwa: "Rezeki yang sah datang bukan menurut derajat kekuasaan dan ikhtiar; melainkan menurut nisbah ketakberdayaan dan kefakiran." Ada tanda, isyarat, dan bukti tak terhingga yang menunjukkan hakikat ini. Antara lain:
Pepohonan — semacam yang bernyawa dan membutuhkan rezeki — diam di tempatnya, dan rezeki mereka datang berlari kepada mereka. Karena hewan berlari mengejar rezekinya dengan tamak, mereka tak diberi makan sesempurna pepohonan.
Dan bahwa ikan — yang paling dungu, tak berdaya, dan berada di dalam pasir — dari jenis hewan diberi makan dengan sempurna dan pada umumnya tampak gemuk; sementara hewan cerdas dan berdaya seperti kera dan rubah, karena buruk penghidupannya menjadi kurus dan lemah, menunjukkan bahwa: sarana rezeki adalah kefakiran, bukan kekuasaan.
Dan baiknya penghidupan seluruh bayi — baik manusia maupun hewan — dan bahwa suatu hadiah terlembut dari perbendaharaan rahmat seperti air susu dianugerahkan kepada mereka dengan cara tak terduga, sebagai belas kasih atas kelemahan dan ketakberdayaan mereka, serta sempitnya penghidupan hewan-hewan buas pun menunjukkan bahwa: sarana rezeki halal adalah ketakberdayaan dan kefakiran, bukan kecerdasan dan kekuasaan.
Dan di dunia, di antara bangsa-bangsa, tak ada yang lebih mengejar rezeki daripada bangsa Yahudi yang masyhur dengan ketamakan yang sengit. Padahal merekalah yang paling terpapar penghidupan buruk dalam kehinaan dan kesengsaraan. Orang-orang kaya mereka pun hidup rendah. Lagi pula harta yang mereka peroleh dengan jalan tak sah seperti riba bukanlah rezeki halal yang dapat menyanggah persoalan kami.
Dan keadaan fakir banyak sastrawan dan banyak ulama, serta kekayaan dan kecukupan banyak orang dungu, pun menunjukkan bahwa: sandaran datangnya rezeki bukanlah kecerdasan dan kekuasaan; melainkan ketakberdayaan dan kefakiran, suatu penyerahan yang bersifat tawakal, dan suatu doa dengan lisan ucapan, lisan keadaan, dan lisan perbuatan.
Maka ayat اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَت۪ينُ yang memaklumkan hakikat ini adalah suatu dalil yang demikian kuat dan kukuh bagi klaim kami sehingga; ia dibaca dengan lisan seluruh tumbuhan, hewan, dan bayi. Dan setiap golongan yang meminta rezeki membaca ayat ini dengan lisan keadaan.
Selama rezeki telah ditakdirkan dan dianugerahkan, dan yang memberi pun adalah Allah; Ia Maha Pengasih dan Maha Pemurah. Maka hendaklah orang yang — sampai derajat menuduh rahmat-Nya dan dengan cara meremehkan kemurahan-Nya — menumpahkan air muka (harga diri) dengan cara tak sah, lalu menyuap dengan hati nuraninya bahkan sebagian kesuciannya, dan menerima harta haram yang celaka dan tak berkah, memikirkan betapa berlipat kegilaan itu.
Ya, ahli dunia, terutama ahli kesesatan; tak memberikan uangnya dengan murah, ia menjualnya amat mahal. Sebagai ganti harta yang akan menolong kehidupan dunia setahun sampai derajat tertentu, kadang ia menjadi sarana untuk merusak kehidupan abadi yang tak terhingga. Dengan ketamakan yang kotor itu ia menarik murka Ilahi kepada dirinya dan berupaya menarik rida ahli kesesatan.
Wahai saudara-saudaraku! Jika para penjilat ahli dunia dan orang-orang munafik ahli kesesatan menangkap kalian karena ketamakan — urat lemah kemanusiaan ini — pikirkanlah hakikat yang lalu, dan jadikanlah saudara kalian yang fakir ini sebagai teladan. Aku menjamin kalian dengan segenap kekuatanku bahwa: kanaah (rasa cukup) dan hemat, lebih dari gaji, akan menopang kehidupan kalian dan menjamin rezeki kalian. Terutama uang tak sah yang diberikan kepada kalian itu akan meminta harga seribu kali lipat dari kalian sebagai gantinya. Dan ia dapat menghalangi atau melemahkan khidmat Al-Qur'an yang setiap saatnya dapat membuka bagi kalian suatu perbendaharaan abadi. Ini adalah suatu kerugian dan kekosongan sedemikian sehingga; sekalipun setiap bulan diberikan ribuan gaji, tempatnya tak dapat terisi.