Risale-i NurAl-Maktubat

Titik Ketiga

Al-Maktubat · hlm. 411

Sebelas tahun lalu, tamparan dahsyat menimpa kepala lalai Said Lama, ia memikirkan hukum "al-mautu haqqun" (kematian itu benar). Ia melihat dirinya dalam lumpur rawa. Ia meminta pertolongan, mencari suatu jalan, mencari seorang penyelamat. Ia melihat jalan beragam; ia tinggal dalam keraguan. Ia bertafaul dengan kitab bernama "Futûh al-Ghaib" karya Ghauts A'zham Syaikh Geylani, semoga Allah meridainya. Dalam tafaul keluar ini: اَنْتَ فِى دَارِ الْحِكْمَةِ فَاطْلُبْ طَب۪يبًا يُدَاو۪ى قَلْبَكَ Ajaibnya; saat itu aku anggota Dârul Hikmatil Islâmiyah. Seolah aku seorang tabib yang berupaya mengobati luka umat Islam. Padahal akulah yang paling sakit. Orang sakit hendaknya pertama-tama memandang dirinya, lalu dapat memandang orang sakit.

Maka Hazret Syekh berkata kepadaku: "Engkau sendiri sakit, carilah seorang tabib untuk dirimu!" Aku berkata: "Jadilah engkau tabibku!" Aku pun menganggap diriku mukhatabnya, lalu membaca kitab itu seolah ia berbicara kepadaku. Namun kitab itu amat keras. Ia menghancurkan kesombonganku dengan dahsyat. Ia melakukan operasi bedah yang keras pada nafsuku. Aku tak tahan, kubaca hingga separuh dengan menganggap diriku mukhatabnya; tak ada lagi ketahananku untuk menyelesaikannya. Kuletakkan kitab itu di lemari. Namun kemudian, kepedihan dari operasi penyembuhan itu hilang, kelezatan datang. Kubaca tuntas kitab guru pertamaku itu dan amat kuambil manfaat. Dan kudengar wirid serta munajatnya, amat kuambil limpahan.

Kemudian kulihat kitab Mektubat Imam Rabbani, kuambil ke tanganku. Dengan tafaul yang tulus kubuka. Ajaibnya, dalam seluruh Mektubat-nya hanya di dua tempat ada lafal "Badiuzzaman". Dua surat itu terbuka sekaligus bagiku. Karena nama ayahku Mirza, di awal surat-surat itu kulihat tertulis "Surat kepada Mirza Badiuzzaman". Kukatakan Fasubhanallah, ini berbicara kepadaku. Saat itu salah satu gelar Said Lama adalah "Badiuzzaman". Padahal pada tahun tiga ratus Hijriah, aku tak mengetahui tokoh yang masyhur dengan gelar itu selain Badiuzzaman al-Hamadani. Padahal pada zaman Imam pun ada seseorang yang kepadanya ia menulis dua surat itu. Keadaan tokoh itu menyerupai keadaanku, sehingga dua surat itu kutemukan sebagai obat bagi deritaku sendiri. Hanya saja Imam, sebagaimana ia menasihatkan dalam surat-surat itu, dalam banyak suratnya dengan bersungguh-sungguh menasihatkan ini: "Satukan kiblat." Yakni: jadikan satu orang guru, ikuti di belakangnya, jangan sibuk dengan yang lain. Nasihatnya yang terpenting ini tak sesuai dengan kesiapan dan keadaan ruhaniahku. Betapa pun kupikir: "Di belakang yang ini, atau yang itu, atau yang lebih itu, aku mengikuti?" aku tinggal dalam kebingungan. Pada masing-masing ada kekhususan yang memikat berbeda-beda. Aku tak dapat mencukupkan diri dengan satu saja. Tatkala dalam kebingungan itu, dengan rahmat Allah terlintas di kalbuku bahwa: kepala jalan yang beragam ini, sumber saluran-saluran ini, dan matahari planet-planet ini adalah Al-Qur'an al-Hakîm. Penyatuan kiblat hakiki ada padanya. Jika demikian, mursyid tertinggi dan guru tersuci pun adalah dia. Aku berpegang padanya. Kesiapanku yang cacat dan berantakan tentu tak dapat menyerap dengan layak limpahan Mursyid Hakiki itu yang berkedudukan sebagai air kehidupan; namun sesuai derajat ahli kalbu dan pemilik keadaan, kami dapat menunjukkan limpahan dan air kehidupan itu dengan limpahannya pula. Artinya, Kalimat dan Cahaya yang datang dari Al-Qur'an itu bukan hanya persoalan ilmiah akal; melainkan persoalan imani kalbu, ruh, dan keadaan, serta berkedudukan sebagai pengetahuan Ilahi yang amat tinggi dan berharga.