Titik Ketiga
Al-Maktubat · hlm. 526
Dunia ini adalah negeri hikmah (dârul hikmah), negeri khidmat (dârul hizmat); bukan negeri upah dan ganjaran. Upah amal dan khidmat di sini ada di barzakh dan akhirat. Amal di sini berbuah di barzakh dan akhirat. Selama hakikatnya demikian, seharusnya tak meminta di dunia hasil-hasil yang berkaitan dengan amal ukhrawi. Sekalipun diberikan, seharusnya diterima bukan dengan gembira, melainkan dengan sedih. Karena — dengan rahasia bahwa ia, seperti buah Surga, digantikan yang sama setiap kali dipetik — memakan buah amal ukhrawi yang berkedudukan kekal secara fana di dunia ini bukanlah pekerjaan akal. Ia bagai menukar sebuah lampu kekal dengan sebuah lampu yang akan hidup sesaat lalu padam.
Maka berdasarkan rahasia ini; ahli wilayah memandang baik khidmat, kesukaran, musibah, dan beban, tak bersikap manja, tak mengeluh. Mereka berkata "Alhamdulillâhi 'alâ kulli hâl (segala puji bagi Allah atas segala keadaan)". Tatkala diberikan kasyaf, karamah, cita rasa, dan cahaya, mereka menerimanya sebagai semacam perhatian Ilahi dan berupaya menutupinya. Mereka masuk bukan ke kebanggaan, melainkan lebih dalam ke syukur dan ubudiyah. Banyak dari mereka meminta ditutup dan diputusnya keadaan itu, agar ikhlas dalam amal mereka tak tercederai. Ya, tentang seorang manusia yang diterima, suatu anugerah Ilahi terpenting adalah tak membuatnya merasakan anugerah itu; agar ia tak masuk dari niaz ke manja dan dari syukur ke kebanggaan.
Maka berdasarkan hakikat ini, mereka yang menginginkan wilayah dan tarekat; jika menginginkan cita rasa dan karamah yang merupakan sebagian tetesan wilayah, dan tertuju kepadanya serta menyukainya; selain hal itu termasuk jenis memakan buah ukhrawi yang kekal secara fana di dunia yang fana; ia kehilangan ikhlas yang merupakan ragi wilayah, dan membuka jalan bagi larinya wilayah.