Risale-i NurAl-Maktubat

Titik Kedua

Al-Maktubat · hlm. 525

Asas terpenting jalan-jalan wilayah dan cabang-cabang tarekat adalah ikhlas. Karena dengan ikhlas orang terbebas dari syirik tersembunyi. Yang tak meraih ikhlas, tak dapat mengembara di jalan-jalan itu. Dan kekuatan paling tajam jalan-jalan itu adalah cinta. Ya, cinta tak mencari-cari dalih pada kekasihnya dan tak ingin melihat celanya. Dan tanda-tanda lemah yang menunjukkan kesempurnaannya, ia pandang berkedudukan sebagai hujah yang kuat. Ia senantiasa berpihak pada kekasihnya.

Maka karena rahasia inilah, tokoh-tokoh yang menghadap makrifatullah dengan kaki cinta; tak menghiraukan syubhat dan keberatan, mereka terselamatkan dengan mudah. Sekalipun ribuan setan berkumpul, mereka tak dapat membatalkan — dalam pandangan tokoh-tokoh itu — satu tanda pun yang menunjukkan kesempurnaan kekasih hakiki mereka. Jika tak ada cinta, ketika itu ia akan banyak menggelepar di tengah keberatan yang dilontarkan nafsu, setannya, dan setan-setan luar. Dibutuhkan suatu keteguhan bagai pahlawan, kekuatan iman, dan ketelitian pandangan agar ia dapat menyelamatkan dirinya.

Maka karena rahasia inilah; pada seluruh tingkatan wilayah, cinta yang datang dari makrifatullah adalah ragi dan iksir terpenting. Tetapi cinta memiliki suatu jurang: ia melompat dari niaz (permohonan) dan kerendahan diri yang merupakan rahasia ubudiyah, ke sikap manja dan tuntutan (naz wa dava), lalu bergerak tanpa timbangan. Pada saat menghadap selain-Allah, dengan berpindah dari makna harfi ke makna ismi; ia berubah dari penawar menjadi racun. Yakni; tatkala ia mencintai selain Allah, semestinya ia mengikatkan kalbunya atas nama Allah dan atas nama-Nya, dari sisi bahwa yang dicintai itu adalah cermin nama-nama-Nya; namun kadang ia memikirkan tokoh itu atas nama tokoh itu sendiri, atas nama kesempurnaan pribadi dan keindahan zatinya, lalu mencintainya dengan makna ismi. Ia dapat mencintai mereka tanpa memikirkan Allah dan Nabi. Cinta ini bukan menjadi sarana bagi cinta kepada Allah, melainkan menjadi tabir. Jika dengan makna harfi, ia menjadi sarana bagi cinta kepada Allah, bahkan dapat dikatakan ia adalah manifestasinya.