Risale-i NurAl-Maktubat

Titik Pertama

Al-Maktubat · hlm. 418

Hakikat peristiwa itu; suatu tipu daya setani dan serangan munafik — bertentangan dengan hukum, semata sewenang-wenang, dan atas nama kezindikan — untuk memberi kegelisahan ke kalbu kami pada malam Jumat, membawa kelesuan ke jamaah, dan mencegahku berjumpa dengan para tamu. Ajaibnya, pada hari Kamis sebelum malam itu aku pergi ke suatu tempat untuk bertamasya. Dalam perjalanan pulangku, seolah dua ular tersambung satu sama lain, seekor ular hitam yang agak panjang datang dari sisi kiriku, melintas di antara aku dan temanku. Kutanya temanku, apakah engkau bergidik dan takut oleh ular itu: "Kaulihat?" Ia berkata: "Apa?" Kukatakan: "Ular yang mengerikan ini!" Ia berkata: "Tidak, aku tak melihat dan tak dapat melihat." Kukatakan "Fasubhanallah!" "Ular sebesar ini, meski melintas di antara kita berdua, bagaimana engkau tak melihat?"

Saat itu tak terlintas apa-apa di benakku. Namun kemudian terlintas di kalbuku bahwa: "Ini isyarat bagimu, perhatikanlah!" Kupikir ia termasuk jenis ular yang kulihat pada malam-malam. Yakni: ular yang kulihat pada malam-malam adalah; kapan pun seorang pejabat datang kepadaku dengan niat khianat, kulihat ia dalam rupa ular. Bahkan sekali kukatakan kepada seorang direktur: "Tatkala engkau datang dengan niat buruk, kulihat engkau dalam rupa ular, perhatikanlah!" kataku. Memang, sering kali kulihat pendahulunya demikian.

Artinya, ular yang kulihat secara lahir ini adalah isyarat bahwa khianat mereka kali ini tak akan tinggal sekadar niat, melainkan akan mengambil bentuk serangan secara nyata. Serangan kali ini — sekalipun secara lahir kecil dan ingin dikecilkan; namun dengan dorongan dan keikutsertaan seorang guru tak berhati nurani, perintah yang diberikan pejabat itu; tatkala di dalam masjid, dalam tasbih salat, ia memerintahkan para gendarme "Bawa para tamu itu!" Maksudnya juga membuatku marah. Dengan urat Said Lama, menghadapi tindakan sewenang-wenang di luar hukum ini adalah membalas dengan mengusir. Padahal yang malang itu tak tahu bahwa; tatkala ada pedang intan yang datang dari bengkel Al-Qur'an di lisan Said, ia tak akan membela diri dengan potongan kayu patah di tangannya; melainkan akan menggunakan pedang itu demikian. Namun karena akal para gendarme di kepala mereka, karena tak ada negara dan pemerintah mana pun yang mengganggu dalam salat, di masjid, sebelum tugas keagamaan selesai, mereka menunggu hingga usai salat dan tasbih. Pejabat itu marah karenanya; "Para gendarme tak mendengarkanku." lalu ia mengirim penjaga desa di belakang mereka.

Namun Allah tak memaksaku bergulat dengan ular-ular seperti ini. Nasihatku kepada ikhwanku pun adalah ini: tanpa keterpaksaan yang pasti, janganlah bergulat dengan mereka. Dari jenis "jawaban bagi orang dungu adalah diam", janganlah merendah berbicara dengan mereka. Namun perhatikanlah ini: sebagaimana menunjukkan diri lemah terhadap hewan buas mendorongnya menyerang; demikian pula menunjukkan kelemahan dengan menjilat kepada mereka yang berhati nurani buas mendorong mereka menyerang. Jika demikian, para sahabat hendaknya bersikap waspada, supaya para pendukung kezindikan tak memanfaatkan keacuhan dan kelalaian para sahabat.