Yang Kedua
Al-Maktubat · hlm. 50
Yaitu dengan melepaskan diri dari selubung jasad materi yang terikat oleh waktu, lalu naik secara ruhani dengan tajarrud (pelepasan diri), sehingga menyaksikan Lailatul Qadar malam kemarin bersama malam Idul Fitri lusa seakan hadir seperti hari ini. Sebab ruh tidaklah terikat oleh waktu. Ketika perasaan-perasaan insani naik hingga ke derajat ruh, maka waktu yang hadir itu meluas. Waktu-waktu yang bagi orang lain merupakan masa lampau dan masa mendatang, bagi ruh itu berkedudukan sebagai masa yang hadir.
Nah, menurut perumpamaan ini, untuk beralih ke Lailatul Qadar malam kemarin, seseorang harus naik ke derajat ruh dan melihat masa lampau sebagai sesuatu yang hadir. Dasar rahasia yang pelik ini adalah tersingkapnya kedekatan Ilahiah. Misalnya: Matahari itu dekat kepada kita, sebab cahaya, panas, dan bayangannya berada di cermin dan di tangan kita. Namun kita jauh darinya. Seandainya dari sisi cahaya (nuraniyah) kita merasakan kedekatannya, memahami hubungan kita dengan bayangannya yang tergambar di cermin kita, dan mengenalnya melalui perantaraan itu; seandainya kita mengetahui apa itu cahaya, panas, dan wujudnya, niscaya kedekatannya tersingkap bagi kita, dan kita pun mengenalnya di dekat kita serta menjalin hubungan dengannya. Namun seandainya kita hendak mendekat dan mengenalnya dari sudut pandang kejauhan kita, niscaya kita terpaksa menempuh banyak sekali pengembaraan pikiran dan perjalanan akal; yakni setelah dengan hukum-hukum sains naik secara pikiran ke langit, membayangkan matahari di langit, lalu memahami cahaya dan panas pada hakikatnya serta tujuh warna dalam cahayanya melalui penelitian ilmiah yang panjang lebar, barulah kita dapat meraih kedekatan maknawi yang telah diperoleh orang pertama tadi hanya dengan sedikit perenungan pada cerminnya sendiri.
Nah, seperti perumpamaan ini, wilâyah dalam nubuwwah dan warisan nubuwwah memandang kepada tersingkapnya rahasia kedekatan (akrabiyat). Adapun wilâyah lainnya, umumnya berjalan di atas dasar pendekatan (kurbiyat), sehingga terpaksa menempuh perjalanan ruhani melalui banyak tingkatan.