Risale-i NurAl-Maktubat

Maqam Kedua

Al-Maktubat · hlm. 51

Pihak yang menyebabkan peristiwa-peristiwa itu dan yang menggerakkan kerusakan bukanlah sekadar beberapa orang Yahudi, sehingga dengan menyingkap mereka kerusakan itu dapat dicegah. Sebab dengan masuknya begitu banyak bangsa yang beragam ke dalam Islam, bercampur-baurlah banyak arus dan pemikiran yang saling bertentangan dan berlawanan. Terlebih lagi kesombongan kebangsaan sebagian mereka telah terluka dahsyat oleh pukulan-pukulan Hazrat Umar (r.a.), sehingga secara tabiat mereka menanti-nanti kesempatan untuk membalas dendam. Sebab agama lama mereka telah dibatalkan, dan pemerintahan serta kesultanan lama mereka yang menjadi sumber kebanggaan pun telah dihancurkan. Maka secara perasaan mereka cenderung untuk melampiaskan dendamnya kepada kekuasaan Islam, entah dengan sadar atau tanpa sadar. Karena itu dikatakan bahwa sebagian kaum munafik yang cerdik dan licik seperti Yahudi telah memanfaatkan keadaan sosial itu. Artinya, mencegah peristiwa-peristiwa itu hanya mungkin dengan memperbaiki kehidupan sosial masa itu beserta beragam pemikirannya, bukan dengan menyingkap satu-dua orang perusak.

Jika dikatakan:

Hazrat Umar (r.a.), ketika berada di atas mimbar, berseru kepada seorang panglima bernama Sâriyah yang berada sejauh perjalanan satu bulan dengan ucapan يَا سَارِيَةُ اَلْجَبَلَ اَلْجَبَلَ, lalu memperdengarkannya kepada Sâriyah, sehingga dari segi strategi perang menjadi sebab kemenangannya — suatu komando yang penuh karâmah yang menunjukkan betapa tajam pandangannya; namun mengapa dengan pandangan wilâyah yang tajam itu ia tidak melihat pembunuhnya sendiri, Fairuz, yang berada di sisinya?