Yang Kelima
Al-Maktubat · hlm. 296
Pada penjelasan terdahulu, kami telah menunjukkan hingga suatu derajat rahasia dan hikmah pengadaan segala sesuatu dengan kemudahan tak terhingga, kecepatan yang teramat tinggi, dan kelancaran perbuatan yang tak terbatas. Nah, wujud segala sesuatu dengan kecepatan tak terhingga dan kemudahan tak terhingga ini memberikan keyakinan pasti kepada ahli hidayah bahwa: dibanding kudrat Zat yang mengadakan makhluk; surga-surga semudah musim-musim semi, musim semi semudah kebun, kebun semudah bunga. Dengan rahasia مَا خَلْقُكُمْ وَلاَ بَعْثُكُمْ اِلاَّ كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ, kebangkitan jenis manusia semudah mematikan dan menghidupkan satu jiwa. Dengan penegasan اِنْ كَانَتْ اِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَاِذَاهُمْ جَم۪يعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ, menghidupkan seluruh manusia pada kebangkitan; semudah mengumpulkan sebuah pasukan yang bertebaran untuk beristirahat dengan satu tiupan sangkakala.
Nah, padahal kecepatan tak terhingga dan kemudahan tak terbatas ini dengan sendirinya adalah dalil pasti lagi bukti yakini atas kesempurnaan kudrat Sang Pembuat dan atas mudahnya segala sesuatu bagi-Nya; namun dalam pandangan ahli kesesatan, pembentukan dan pengadaan segala sesuatu dengan kudrat Sang Pembuat — yang mudah pada derajat kewajiban — telah menjadi sebab kekeliruan dengan pembentukan-diri-sendiri yang seribu derajat mustahil. Yakni, karena mereka memandang terwujudnya sebagian benda yang biasa amat mudah, mereka menyangka pembentukannya sebagai pembentukan-diri-sendiri. Yakni, benda-benda itu tak diadakan, melainkan terwujud dengan sendirinya. Nah, pandanglah derajat kedunguan yang tak terhingga: mereka menjadikan dalil sebuah kudrat tak terhingga sebagai dalil ketiadaannya; mereka membuka pintu kemustahilan tak terhingga. Sebab dalam keadaan itu, sifat kesempurnaan seperti kudrat tak terhingga dan ilmu yang meliputi — yang wajib bagi Sang Pembuat Alam — harus diberikan kepada setiap zarah setiap makhluk; agar ia dapat membentuk dirinya sendiri.