Yang Kelima
Al-Maktubat · hlm. 403
Mimpi yang benar adalah tersingkapnya secara berlebih indra pra-kejadian (hiss qabla al-wuqû'). Adapun indra pra-kejadian, pada setiap orang ada, parsial maupun menyeluruh. Bahkan pada hewan pun ada. Bahkan suatu ketika aku secara ilmiah menemukan indra pra-kejadian ini — sebagai tambahan atas indra lahir dan batin yang masyhur — pada manusia dan hewan, dua indra lain dengan nama "sâiqah" dan "syâiqah" seperti "sâmi'ah" (pendengaran) dan "bâshirah" (penglihatan). Ahli kesesatan dan ahli filsafat — dengan keliru — secara dungu menyebut indra yang tak masyhur itu "dorongan alamiah". Sekali-kali bukan dorongan alamiah, melainkan sebagai semacam ilham fitri, takdir Ilahi menggiring manusia dan hewan. Misalnya: sebagian hewan seperti kucing, tatkala matanya buta, dengan giringan takdir itu pergi, menemukan suatu rumput yang menjadi obat matanya, mengusapkannya ke matanya, lalu sembuh.
Lagi pula kepada burung pemakan bangkai seperti elang — yang berkedudukan sebagai petugas kesehatan muka bumi dan bertugas mengangkat bangkai hewan liar — keberadaan bangkai seekor hewan dari jarak sehari perjalanan diberitahukan dengan giringan takdir itu, dengan ilham indra pra-kejadian itu, dan dengan giringan Ilahi itu, lalu mereka menemukannya.
Lagi pula seekor anak lebah yang baru datang ke dunia; tatkala usianya sehari, pergi ke jarak sehari perjalanan di udara, tanpa kehilangan jejaknya di udara, dengan giringan takdir dan ilham giringan itu kembali, masuk ke sarangnya. Bahkan sering berulang di kepala setiap orang bahwa tatkala seseorang sedang membicarakan orang lain, tiba-tiba pintu terbuka dan orang yang sama itu datang di luar dugaan. Bahkan di antara peribahasa Kurdi: نَاڤِ گُرْب۪ينَه پَالاَنْدَارْ ل۪ى وَر۪ينَه Yakni: "Tatkala engkau membicarakan serigala, siapkan gada, pukullah; karena serigala datang." Artinya, dengan suatu indra pra-kejadian, latifah rabbani merasakan secara ringkas kedatangan orang itu. Namun karena kesadaran akal tak meliputinya; ia mendorong untuk membicarakannya bukan dengan sengaja, melainkan tanpa ikhtiar. Ahli firasat kadang menerangkan bahwa ia datang bagai karamah. Bahkan suatu ketika kepekaan jenis ini padaku berlebih. Aku ingin memasukkan keadaan ini ke dalam suatu dustur, tetapi tak dapat menyesuaikannya dan tak dapat melakukannya. Namun pada ahli kesalehan, terutama pada ahli wilayah, indra pra-kejadian ini tersingkap berlebih, menunjukkan jejaknya yang berupa karamah.
Maka bagi seluruh orang awam pun ada semacam pencapaian wilayah, sehingga dalam mimpi yang benar, seperti para wali, mereka melihat hal-hal gaib dan masa depan. Ya, sebagaimana tidur bagi orang awam berkedudukan sebagai suatu martabat wilayah dari segi mimpi yang benar; demikian pula bagi seluruh orang ia adalah panggung tontonan sinema rabbani yang amat indah dan megah. Namun yang baik akhlaknya berpikir baik. Yang berpikir baik melihat panorama yang indah. Yang buruk akhlaknya, karena berpikir buruk, melihat panorama yang buruk. Lagi pula bagi setiap orang, ia adalah jendela yang memandang alam gaib di dalam alam syahadah. Lagi pula bagi manusia yang terikat dan fana, ia adalah suatu medan pelepasan dan semacam pencapaian kekekalan, serta panggung tontonan tempat masa lampau dan masa depan berkedudukan sebagai masa kini. Lagi pula ia adalah tempat istirahat bagi yang berruh yang tergilas dan menanggung kepayahan di bawah beban kehidupan. Maka demi rahasia-rahasia semacam inilah, Al-Qur'an al-Hakîm dengan ayat jenis وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا memberi pelajaran penting tentang hakikat tidur.