Yang Kelima
Al-Maktubat · hlm. 11
Sejak satu-dua tahun ini, melalui berbagai tanda dan pengalaman, timbullah dalam diriku keyakinan yang pasti bahwa aku tidak diizinkan untuk menerima harta orang banyak, teristimewa hadiah dari orang-orang kaya dan para pegawai. Sebagian di antaranya memudaratkan diriku.. bahkan boleh jadi sengaja dijadikan memudaratkan, sehingga tidak dibiarkan termakan olehku. Adakalanya ia berubah menjadi sesuatu yang membahayakan diriku. Ini berarti, secara maknawi, terdapat sebuah perintah untuk tidak mengambil harta orang lain, dan sebuah larangan dari mengambilnya. Lagi pula, ada semacam rasa enggan bergaul di dalam diriku; aku tidak dapat menerima setiap orang pada setiap waktu. Menerima hadiah orang banyak mengharuskan aku menjaga hati mereka dan menemui mereka pada saat yang tiada kuinginkan.. dan hal itu pun tidak menyenangkan hatiku. Lagi pula, memakan sepotong roti kering dan mengenakan pakaian bertambal seratus — yang menyelamatkanku dari kepura-puraan (tasannu') dan penjilatan (temelluk) — terasa lebih menyenangkan bagiku. Sedangkan memakan baklava yang termewah milik orang lain, mengenakan pakaian mereka yang paling bertatahkan permata, serta terpaksa harus menjaga hati mereka, terasa tidak menyenangkan bagiku.