Risale-i NurAl-Maktubat

Yang Ketiga

Al-Maktubat · hlm. 19

Ialah berupaya menghilangkan penyakit-penyakit kalbu melalui jalan tasawuf, dan menempuh sulûk dengan kaki kalbu. Yang pertama berkedudukan sebagai fardhu, yang kedua sebagai wâjib, sedangkan yang ketiga ini sebagai sunnah.

Karena hakikatnya memang demikian, aku menduga: seandainya pribadi-pribadi seperti Syaikh Abdul Qâdir al-Jîlânî (R.A.), Syah Naqsyaband (R.A.), dan Imam Rabbani (R.A.) hidup pada masa ini, niscaya seluruh himmah mereka akan mereka curahkan untuk mengukuhkan hakikat-hakikat keimanan dan akidah-akidah keislaman. Sebab, poros kebahagiaan abadi terletak pada keduanya. Jika terjadi kelalaian pada keduanya, hal itu menimbulkan kesengsaraan abadi. Tanpa iman, seseorang tak dapat memasuki surga; tetapi orang yang memasuki surga tanpa tasawuf amatlah banyak. Manusia tak dapat hidup tanpa roti, tetapi ia dapat hidup tanpa buah. Tasawuf adalah buah, sedangkan hakikat-hakikat keislaman adalah makanan pokok. Dahulu, melalui suatu perjalanan sulûk yang berlangsung dari empat puluh hari hingga empat puluh tahun, barulah sebagian hakikat keimanan dapat dicapai. Namun kini, dengan rahmat Allah, seandainya ditemukan suatu jalan yang dengannya hakikat-hakikat itu dapat dicapai dalam empat puluh menit, maka bersikap acuh terhadap jalan itu sudah barang tentu bukanlah perbuatan orang yang berakal...

Lihatlah — mereka yang membaca dengan saksama pun memutuskan bahwa ketiga puluh tiga Kelimat itu telah membuka suatu jalan Qur'ânî yang demikian. Karena hakikatnya memang demikian, aku berkeyakinan bahwa Kelimat-Kelimat yang ditulis mengenai rahasia-rahasia Al-Qur'an itu adalah obat dan salep yang paling tepat bagi luka-luka zaman ini, nur yang paling bermanfaat bagi tubuh umat Islam yang tengah menghadapi serbuan kegelapan, serta penuntun yang paling benar bagi mereka yang jatuh dalam kebingungan di lembah-lembah kesesatan. Kalian mengetahui bahwa: jika kesesatan datang dari kebodohan, menghilangkannya mudah. Tetapi jika kesesatan datang dari sains dan ilmu, menghilangkannya sukar. Pada zaman dahulu, jenis yang kedua ini hanya terdapat satu di antara seribu; dan dari mereka yang ada itu pun hanya satu di antara seribu yang dapat kembali ke jalan yang benar melalui irsyâd. Sebab, orang-orang semacam itu mengagumi diri mereka sendiri; mereka tidak tahu, sementara mereka menyangka diri mereka tahu. Aku berkeyakinan bahwa pada masa ini Allah telah menganugerahkan kepada Kelimat yang termasyhur itu — yang merupakan pancaran maknawi dari kemukjizatan Al-Qur'an — khasiat sebuah penawar bagi kesesatan zindik ini. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى

Said Nursî