Yang Ketiga
Al-Maktubat · hlm. 70
Di gunung, selama tiga bulan, satu kıyye mentega — dengan syarat dimakan bersama roti setiap hari — telah mencukupiku dan para tamuku. Bahkan aku memiliki seorang tamu mubarak bernama Süleyman. Rotiku dan rotinya pun hampir habis. Hari itu hari Rabu; kukatakan kepadanya: Pergilah, bawakan roti. Dalam radius dua jam, di sekeliling kami tidak ada seorang pun yang darinya bisa diperoleh roti. Ia berkata, "Aku ingin berdoa bersama-sama denganmu di gunung ini pada malam Jumat." Maka aku pun berkata: "Tawakkalnâ 'alâllâh (kami bertawakal kepada Allah), tinggallah." Kemudian, padahal sama sekali tak ada kaitannya dan tanpa suatu alasan pun, kami berdua berjalan-jalan hingga menaiki puncak sebuah gunung. Di dalam kendi ada sedikit air. Kami punya sedikit gula dan teh. Kukatakan: "Saudaraku, buatlah sedikit teh." Ia mulai mengerjakannya, dan aku duduk di bawah sebatang pohon katran yang menghadap ke sebuah jurang yang dalam. Dengan hati sedih aku berpikir demikian: Kami hanya punya sepotong roti yang telah berjamur; malam ini pun ia hanya cukup untuk kami berdua. Selagi aku berpikir, "Bagaimana kami akan bertahan dua hari, dan apa yang akan kukatakan kepada lelaki berhati bersih ini?" tiba-tiba, seolah kepalaku dipalingkan, aku menolehkan kepalaku; kulihat: sepotong roti yang besar, di atas pohon katran itu, di sela-sela dahannya, memandang ke arah kami. Kukatakan: "Süleyman, kabar gembira! Cenâb-ı Haqq telah memberi kita rezeki." Kami mengambil roti itu; kami melihat bahwa tak seekor pun dari burung-burung dan binatang-binatang liar menyentuhnya. Selama dua puluh hingga tiga puluh hari, tak seorang manusia pun mendaki puncak itu. Roti itu mencukupi kami berdua selama dua hari. Selagi kami memakannya, ketika ia hampir habis, Süleyman yang lurus — seorang shiddiq yang setia kepadaku selama empat tahun — muncul mendaki dari bawah dengan membawa roti.