Risale-i NurAl-Maktubat

Yang Ketiga

Al-Maktubat · hlm. 252

Sosok itu صلى الله عليه وسلم tampil dengan suatu syariat, keislaman, ubudiyah, doa, seruan, dan iman sedemikian rupa, sehingga tiada bandingannya dan tak akan ada. Dan tak ditemukan serta tak akan ditemukan yang lebih sempurna darinya. Sebab syariat yang muncul pada sosok ummi itu, mengurus empat belas abad dan seperlima jenis manusia dengan kebenaran yang adil, secara cermat, dengan hukum-hukumnya yang tak terhingga — hal ini tak menerima tandingan. Dan keislaman yang lahir dari perbuatan, ucapan, dan keadaan sosok ummi itu — dari sisi menjadi pembimbing, rujukan, guru dan pembimbing akal, penerang dan penjernih kalbu, pendidik dan penyuci jiwa, serta poros penyingkapan dan tambang kemajuan ruh bagi tiga ratus juta manusia pada setiap abad — tiada bandingannya dan tak pernah ada.

Dan menjadi yang paling terdepan dalam seluruh macam ibadah yang ada dalam agamanya.. berada dalam ketakwaan melebihi siapa pun.. takut kepada Allah.. dan menjaga ubudiyah hingga rahasianya yang paling halus secara sempurna di tengah jihad serta gejolak yang luar biasa lagi terus-menerus.. serta melakukannya tanpa meniru siapa pun, dalam makna yang sepenuhnya sebagai perintis, namun sempurna, dengan menyatukan awal dan akhir — sudah pasti tak terlihat dan tak pernah terlihat bandingannya.

Lagi pula, dari ribuan doa dan munajatnya, hanya melalui Jausyan al-Kabîr saja, ia mensifati Rabb-nya dengan makrifat Rabbâniyah sedemikian rupa dan pada derajat pensifatan sedemikian tinggi, sehingga para ahli makrifat dan ahli wilâyah yang datang sejak masa itu — sekalipun disertai berpadunya buah pikiran dari masa ke masa (telâhuq-u efkâr) — tidak sanggup mencapai martabat makrifat itu dan tidak pula derajat pensifatan itu; hal ini menunjukkan bahwa dalam berdoa pun tiada bandingannya. Barangsiapa menelaah bagian pada permulaan Risalah Munajat, tempat dipaparkannya makna ringkas dari salah satu dari sembilan puluh sembilan fikrah Jausyan al-Kabîr, niscaya akan berkata: Jausyan pun tiada bandingannya.

Lagi pula, dalam menyampaikan risalah dan menyeru manusia kepada kebenaran, ia memperlihatkan keteguhan, ketabahan, dan keberanian sedemikian rupa sehingga — meskipun negara-negara besar, agama-agama besar, bahkan kaum, kabilah, serta pamannya sendiri memusuhinya dengan sengit — ia tak memperlihatkan setitik pun bekas keraguan, kegugupan, ataupun kegentaran; ia seorang diri menantang seluruh dunia, bahkan berhasil mengatasinya, serta menempatkan Islam di puncak dunia. Semua ini membuktikan bahwa dalam penyampaian dan seruan pun tiada bandingannya, dan takkan mungkin ada.

Lagi pula, dalam iman ia mengemban suatu kekuatan yang luar biasa, suatu keyakinan yang menakjubkan, suatu penyingkapan yang bersifat mukjizat, dan suatu iktikad luhur yang menyinari seluruh alam — sedemikian rupa sehingga, meskipun segenap pemikiran dan akidah yang berkuasa pada zaman itu, hikmah para filosof, serta ilmu para pemimpin ruhani menentang, memusuhi, dan mengingkarinya, tiada satu keraguan, satu kebimbangan, satu kelemahan, ataupun satu waswas pun yang menodai keyakinannya (yakîn), iktikadnya, kepercayaannya, dan ketenteramannya (itmi'nân); dan bahwa para sahabat — yang terdepan di antara mereka yang menanjak dalam maknawiyat dan pada tingkatan-tingkatan keimanan — bersama seluruh ahli wilâyah senantiasa menimba faidh dari martabat imannya dan mendapatinya pada derajat yang tertinggi — semua ini menunjukkan secara nyata (badîhî) bahwa imannya pun tiada tara. Demikianlah ia memahami bahwa pada pemilik syariat yang tiada tara, Islam yang tiada banding, ubudiyah yang menakjubkan, doa yang luar biasa, seruan yang memikat seluruh dunia, serta iman yang bersifat mukjizat semacam ini, mustahil terdapat kedustaan dari sisi mana pun dan mustahil ia menipu; dan akalnya pun membenarkannya.