Yang Pertama
Al-Maktubat · hlm. 21
Karena rahasia usia senja — dan hampir secara mutlak — aku tertinggal seorang diri lagi terasing dari kawan-kawan sebaya, para sahabat, serta kaum kerabatku. Aku merasakan suatu keterasingan yang pilu, yang timbul karena mereka telah meninggalkanku dan pergi ke alam barzakh. Maka di dalam keterasingan ini terbukalah pula lingkaran keterasingan lain yang tersendiri. Yaitu, aku merasakan suatu keterasingan penuh perpisahan yang timbul karena kebanyakan makhluk yang kepadanya aku terikat — sebagaimana musim semi yang telah lalu — telah meninggalkanku dan pergi. Dan di dalam keterasingan ini terbuka lagi satu lingkaran keterasingan: aku merasakan keterasingan penuh perpisahan yang lahir karena aku terpisah dari kampung halaman dan kaum kerabatku, lalu tinggal seorang diri. Dan di dalam keterasingan ini, keadaan malam serta pegunungan yang sunyi terasing menimbulkan padaku lagi suatu keterasingan yang mengharukan hati. Dan dari keterasingan ini pun, aku menyaksikan ruhku — yang telah bersiap bergerak dari rumah tamu yang fana ini menuju arah keabadian yang kekal selama-lamanya — berada dalam suatu keterasingan yang luar biasa. Tiba-tiba aku pun mengucapkan: Subhânallâh; lalu aku berpikir, bagaimanakah mungkin bertahan menghadapi keterasingan-keterasingan dan kegelapan-kegelapan ini. Hatiku pun berkata dengan rintihan:
Wahai Rabb! Aku terasing, aku tiada berpenolong, aku lemah, aku tak bertenaga, aku sakit, aku tak berdaya, aku tua renta, aku tanpa daya ikhtiar; aku berseru memohon perlindungan, aku memohon ampunan, aku mengharap pertolongan dari haribaan-Mu, wahai Ilahi!
Tiba-tiba cahaya iman, limpahan faidh Al-Qur'an, dan kelembutan Sang Rahmân datang menolongku. Kelima keterasingan yang gelap itu mereka ubah menjadi lima lingkaran keakraban yang bercahaya. Lisanku mengucapkan حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ. Hatiku membaca ayat فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِىَ اللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظ۪يمِ. Dan akalku pun berkata kepada nafsuku yang menjerit karena kepedihan dan kengeriannya:
Wahai yang tiada berdaya, tinggalkanlah jeritan; terhadap bala, bertawakallah. Sebab jeritan itu — ketahuilah — adalah bala di dalam bala, dan kesalahan di dalam bala. Jika engkau telah menemukan Zat yang mendatangkan bala itu, ketahuilah, ia adalah bala yang mengandung kejernihan, kesetiaan, dan anugerah. Karena demikian, tinggalkanlah keluh-kesah dan bersyukurlah; bersyukurlah bagaikan bulbul, agar dari kegembiraan itu senantiasa tersenyum bunga mawar dan anggur. Namun jika engkau tak menemukan-Nya, ketahuilah, seluruh dunia adalah bala yang mengandung derita, kefanaan, dan kesia-siaan. Padahal di atas kepalamu ada bala sepenuh dunia, mengapa engkau menjerit hanya karena bala yang kecil mungil? Marilah, bertawakallah. Dengan tawakal, tersenyumlah di hadapan wajah bala, agar ia pun tersenyum; semakin ia tersenyum, semakin ia mengecil, lalu berganti rupa.
Dan aku pun berkata, sebagaimana yang dikatakan salah seorang guruku, Maulana Jalaluddin, kepada nafsunya: اُوگُفْتْ اَلَسْتُ و تُو گُفْت۪ى بَلٰى شُكْرِ بَلٰى چ۪يسْتْ كَش۪يدَنْ بَلاَ سِرِّ بَلاَ چ۪يسْتْ كِه يَعْن۪ى مَنَمْ حَلْقَه زَنِ دَرْگَهِ فَقْر و فَنَا
Pada saat itu nafsuku pun berkata: "Ya, benar.. dengan kelemahan dan tawakal, dengan kefakiran dan berlindung diri, terbukalah pintu cahaya, dan sirnalah segala kegelapan. Alhamdulillâhi 'alâ nûril îmâni wal-Islâm." Ungkapan masyhur dari al-Hikam al-Atâ'iyyah ini: مَاذَا وَجَدَ مَنْ فَقَدَهُ ❊ وَ مَاذَا فَقَدَ مَنْ وَجَدَهُ Yakni: "Siapa yang menemukan Allah, apakah yang ia kehilangan? Dan siapa yang kehilangan Dia, apakah yang ia peroleh?"
Yakni: "Siapa yang menemukan-Nya, ia menemukan segala sesuatu; dan siapa yang tidak menemukan-Nya, ia tidak menemukan apa pun — seandainya pun ia menemukan sesuatu, ia hanya mendapati bala menimpa dirinya." Aku menyaksikan betapa luhur hakikat ini, dan aku pun memahami rahasia hadis طُوبٰى لِلْغُرَبَٓاءِ, lalu aku bersyukur.
Maka wahai saudara-saudaraku, keterasingan-keterasingan yang gelap ini, meskipun telah diterangi oleh cahaya iman, namun tetap saja ia menjalankan sebagian pengaruhnya atas diriku, serta menimbulkan pikiran berikut dalam benakku: "Karena aku ini orang asing, dan aku berada dalam keterasingan, dan aku akan pergi ke negeri keterasingan; gerangan apakah tugasku di rumah tamu ini telah usai? Sehingga aku dapat menjadikan kalian dan Kelimat sebagai wakil, lalu memutuskan seluruh keterikatanku sama sekali." Karena itu, aku pernah bertanya kepada kalian: "Gerangan apakah Kelimat yang telah ditulis itu telah mencukupi, ataukah masih ada kekurangannya? Yakni: apakah tugasku telah usai? Sehingga, dengan hati yang tenang, aku dapat melemparkan diriku ke dalam suatu keterasingan yang bercahaya, penuh kenikmatan, lagi hakiki; melupakan dunia; dan — sebagaimana yang diucapkan Maulana Jalaluddin — mengucapkan دَان۪ى سَمَاعِ چِه بُوَدْ ب۪ى خُودْ شُدَنْ زِهَسْت۪ى اَنْدَرْ فَنَاىِ مُطْلَقْ ذَوْقِ بَقَا چَش۪يدَنْ; lalu dapatkah aku mencari suatu keterasingan yang luhur?" — demikianlah aku telah merepotkan kalian dengan pertanyaan-pertanyaan itu. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى
Said Nursî