Dari Kumpulan Risale-i Nur
Zühretü'n-Nur (Bunga Cahaya)
Penulis
Bedîüzzaman Said Nursî
Lem'a Kedua Puluh Lima
Berisi dua puluh lima penawar.
(Ditulis sebagai salep, penghibur, resep batin, kunjungan kepada orang sakit, dan ucapan semoga lekas sembuh.)
Peringatan dan Permohonan Maaf
Resep batin ini ditulis dengan kecepatan yang melampaui seluruh tulisan kami. {(Catatan kaki): Risalah ini ditulis dalam waktu empat setengah jam.
Ya, Rüşdü. Ya, Re'fet. Ya, Hüsrev. Ya, Said.} Berbeda dari kebiasaan, karena tidak mendapat waktu untuk memperbaiki dan memeriksa dengan teliti, tulisan ini hanya sekali dibaca kembali dengan sangat cepat, seperti saat ditulis. Berarti, tulisan ini tetap kurang teratur, seperti draf pertama. Agar tidak merusak dengan seni dan ketelitian gagasan yang datang secara fitrah ke dalam hati, kami tidak merasa perlu memeriksanya kembali. Para pembaca, terutama orang-orang sakit, hendaknya tidak merasa jengkel dan tersinggung oleh beberapa ungkapan yang kurang nyaman atau kata-kata serta ungkapan yang berat. Hendaknya mereka juga mendoakanku.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺻَﺎﺑَﺘْﻬُﻢْ ﻣُﺼ۪ﻴﺒَﺔٌ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ ٭ ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻫُﻮَ ﻳُﻄْﻌِﻤُﻨ۪ﻰ ﻭَﻳَﺴْﻘ۪ﻴﻦِ ﻭَﺍِﺫَﺍ ﻣَﺮِﺿْﺖُ ﻓَﻬُﻮَ ﻳَﺸْﻔ۪ﻴﻦِ
Dalam Lem'a ini, kami menjelaskan secara ringkas dua puluh lima penawar yang dapat menjadi penghibur yang sejati dan salep yang bermanfaat bagi orang-orang yang tertimpa musibah serta sakit, yang merupakan sepersepuluh umat manusia.
PENAWAR PERTAMA
Wahai orang sakit yang malang! Jangan cemas, bersabarlah. Penyakitmu bukan penderitaan bagimu, melainkan semacam obat. Sebab, umur adalah modal yang terus berlalu. Jika tidak menghasilkan buah, modal itu akan sia-sia. Jika dilalui dengan nyaman dan lalai, umur juga berlalu sangat cepat. Penyakit menjadikan modalmu itu berbuah dengan keuntungan besar. Penyakit juga tidak membiarkan umur berlalu cepat; ia menahannya dan membuatnya panjang, agar baru melepaskannya setelah menghasilkan buah.
Sebagai isyarat bahwa umur menjadi panjang melalui penyakit, peribahasa ini terkenal di mana-mana, “Waktu musibah sangat panjang, sedangkan waktu bahagia sangat singkat.”
PENAWAR KEDUA
Wahai orang sakit yang tidak sabar! Bersabarlah, bahkan bersyukurlah. Penyakitmu dapat menjadikan setiap menit umurmu setara dengan satu jam ibadah.
Sebab, ibadah terbagi dua. Yang pertama ialah ibadah positif, berupa ibadah-ibadah yang telah dikenal, seperti salat dan doa. Yang kedua ialah ibadah negatif: melalui penyakit dan musibah, orang yang tertimpa musibah merasakan dirinya tak berdaya dan lemah. Ia berlindung kepada Sang Khâliq Yang Rahîm dan memohon kepada-Nya. Ia memperoleh ibadah batin yang murni dan tanpa riya.
Ya, terdapat riwayat-riwayat sahih bahwa umur yang dilalui dengan penyakit dianggap sebagai ibadah bagi seorang mukmin, dengan syarat tidak mengeluhkan Allah سُبْحَانَهُ. Bahkan, satu menit penyakit sebagian orang sakit yang sabar dan bersyukur menjadi setara dengan satu jam ibadah,
sedangkan satu menit sebagian orang yang telah sempurna menjadi setara dengan satu hari ibadah. Hal ini ditetapkan melalui riwayat sahih dan penglihatan batin yang benar.
Jangan mengeluh, tetapi bersyukurlah atas penyakit yang menjadikan satu menit umurmu setara dengan seribu menit dan memberimu umur yang panjang.
PENAWAR KETIGA
Wahai orang sakit yang tidak tahan! Mereka yang terus datang lalu pergi, para pemuda yang menjadi tua, serta manusia yang terus bergulir menuju lenyap dan perpisahan menjadi saksi bahwa manusia tidak datang ke dunia ini untuk bersenang-senang dan menikmati kenikmatan.
Selain itu, meskipun manusia adalah makhluk hidup yang paling sempurna, paling tinggi, dan paling kaya perlengkapannya, bahkan seperti sultan seluruh makhluk hidup, karena memikirkan kenikmatan masa lalu dan bencana yang akan datang, dibandingkan hewan ia justru menjalani kehidupan penuh kesedihan serta kesulitan pada tingkat paling rendah.
Berarti, manusia tidak datang ke dunia ini hanya untuk hidup dengan baik dan melewatkan umur dalam kenyamanan serta kesenangan. Sebaliknya, dengan modal besar yang ada di tangannya, manusia datang untuk berusaha memperoleh kebahagiaan kehidupan yang kekal dan abadi melalui perdagangan di sini. Modal yang diberikan kepadanya ialah umur. Jika tidak ada penyakit, kesehatan dan keadaan sejahtera menimbulkan kelalaian, membuat dunia tampak menyenangkan, dan membuat akhirat terlupakan. Manusia tidak ingin mengingat kubur serta kematian, dan kesehatan membuatnya menghabiskan modal umur dengan sia-sia. Sebaliknya, penyakit tiba-tiba membuka matanya. Penyakit berkata kepada tubuh dan raganya, “Engkau tidak kebal dari kematian, tidak dibiarkan tanpa arah, dan memiliki tugas. Tinggalkan kesombongan, pikirkan Dia Yang Menciptakanmu, ketahuilah bahwa engkau akan menuju kubur, dan bersiaplah untuk itu.”
Dari sudut pandang ini, penyakit merupakan penasihat yang tidak pernah menipu dan pembimbing yang memberi peringatan. Hendaknya tidak mengeluh tentangnya, tetapi berterima kasih kepadanya dari segi tersebut. Jika terasa terlalu berat, hendaknya memohon kesabaran.
PENAWAR KEEMPAT
Wahai orang sakit yang mengeluh! Yang patut engkau lakukan bukan mengeluh, melainkan bersyukur dan bersabar. Sebab, tubuh, anggota badan, dan perlengkapanmu bukan milikmu. Engkau tidak membuatnya dan tidak membelinya dari bengkel-bengkel lain. Berarti, semua itu milik Yang Lain. Sang Pemiliknya mengatur milik-Nya sesuai dengan Kehendak-Nya.
Seperti dikatakan dalam Kalimat Kedua Puluh Enam, misalnya, seorang seniman yang sangat kaya dan sangat terampil ingin memperlihatkan seninya yang indah serta kekayaannya yang berharga. Untuk mempekerjakan seorang miskin sebagai model, dengan suatu upah, selama satu jam singkat ia mengenakan pada orang miskin itu sebuah kemeja dan pakaian yang dijahit dengan sangat terampil serta bertatahkan permata. Ia mengerjakan pakaian tersebut pada tubuh orang itu dan menempatkannya dalam berbagai posisi. Demi menunjukkan berbagai jenis seninya yang luar biasa, ia memotong, mengubah, memanjangkan, dan memendekkannya. Apakah orang miskin yang mendapat upah itu berhak berkata kepadanya, “Engkau menyusahkanku. Posisi yang engkau berikan, dengan membungkuk dan berdiri, membuatku tidak nyaman. Dengan memotong dan memendekkan kemeja yang memperindah diriku ini, engkau merusak keindahanku”? Dapatkah ia berkata, engkau tidak berbelas kasih dan tidak adil?
Persis seperti contoh ini, wahai orang sakit, Sang Pembuat Dzul-Jalâl mengenakan kepadamu kemeja tubuh yang bertatahkan indra serta daya bercahaya, seperti mata, telinga, akal, dan hati. Untuk menunjukkan ukiran Asma-Nya Yang Indah, Dia membawamu melalui banyak keadaan dan mengubahmu dalam berbagai kondisi. Sebagaimana melalui rasa lapar engkau mengenal Asma-Nya Ar-Razzâq, melalui penyakitmu kenalilah pula Asma-Nya Asy-Syâfî. Karena penderitaan dan musibah menunjukkan ketentuan sebagian Asma-Nya, di dalamnya terdapat kilau-kilau Hikmah dan sinar-sinar Rahmat, serta banyak keindahan di dalam sinar-sinar itu.
Jika tabir terbuka, engkau akan menemukan makna-makna yang indah dan menyenangkan di balik tabir penyakit yang engkau takuti serta benci.
PENAWAR KELIMA
Wahai orang sakit yang ditimpa penyakit! Melalui pengalamanku pada zaman ini, aku telah yakin bahwa bagi sebagian orang, penyakit merupakan anugerah Ilahi dan hadiah dari Ar-Rahmân. Selama delapan atau sembilan tahun ini, meskipun aku tidak layak, beberapa pemuda menemuiku untuk meminta doa karena penyakit mereka. Aku memperhatikan bahwa setiap pemuda sakit yang kutemui mulai memikirkan akhiratnya, dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain. Tidak ada mabuk masa muda. Sampai tingkat tertentu, ia menyelamatkan diri dari keinginan hewani dalam kelalaian. Aku pun memperhatikannya dan mengingatkan bahwa penyakit mereka yang masih dapat ditanggung merupakan anugerah Ilahi. Aku berkata, “Saudaraku, aku tidak menentang penyakitmu ini. Aku tidak merasa kasihan dan iba kepadamu karena penyakit itu sehingga aku akan
mendoakanmu. Berusahalah bersabar sampai penyakit membangunkanmu sepenuhnya. Setelah penyakit menyelesaikan tugasnya, Sang Khâliq Yang Rahîm, inşâallah, memberimu kesembuhan.”
Aku juga berkata, “Sebagian orang seusiamu jatuh dalam kelalaian akibat bencana kesehatan, meninggalkan salat, tidak memikirkan kubur, dan melupakan Allah سُبْحَانَهُ. Melalui kesenangan lahir kehidupan duniawi selama satu jam, mereka mengguncangkan, merusak, bahkan mungkin menghancurkan kehidupan kekal mereka yang tak terbatas. Dengan mata penyakit, engkau melihat kuburmu, suatu tempat singgah yang pasti akan engkau datangi, serta tempat-tempat singgah akhirat di belakangnya. Engkau bertindak sesuai dengan semuanya itu. Berarti, bagimu penyakit adalah kesehatan. Kesehatan pada sebagian orang seusiamu adalah penyakit.”
PENAWAR KEENAM
Wahai orang sakit yang mengeluh tentang penderitaan! Aku bertanya kepadamu: pikirkanlah umurmu yang telah berlalu dan ingatlah hari-hari menyenangkan penuh kenikmatan serta waktu-waktu bencana dan penderitaan dalam umur itu. Tentu engkau akan berkata oh atau ah. Artinya, hati atau lisanmu akan berkata elhamdülillah dan syukur, atau “vâ-hasretâ, vâ-esefâ”.
Perhatikanlah, yang membuatmu berkata oh, elhamdülillah, dan syukur ialah mengingat penderitaan serta musibah yang telah engkau lalui. Hal itu membangkitkan kenikmatan batin, sehingga hatimu bersyukur. Sebab, berakhirnya penderitaan adalah kenikmatan. Ketika berakhir, penderitaan dan musibah tersebut meninggalkan warisan kenikmatan dalam ruh. Jika dibangkitkan melalui ingatan, kenikmatan mengalir dari ruh dan rasa syukur menetes.
Yang membuatmu berkata “vâ-esefâ, vâ-hasretâ” ialah keadaan-keadaan penuh kenikmatan dan kesenangan yang engkau lalui dahulu. Ketika lenyap, semuanya meninggalkan warisan penderitaan yang terus bertahan dalam ruhmu. Kapan pun engkau mengingatnya, penderitaan itu kembali terusik dan mengalirkan sesal serta kerinduan.
Sebab, kenikmatan yang tidak halal selama satu hari terkadang menyebabkan penderitaan batin selama satu tahun. Adapun penderitaan yang datang melalui penyakit sementara selama satu hari membawa kenikmatan batin dari pahala selama banyak hari, beserta kenikmatan batin yang berasal dari terbebas dan selamat ketika penyakit itu berakhir.
Pikirkanlah hasil penyakit sementara yang kini menimpamu serta pahala yang terdapat di dalamnya. Katakan, “Ini pun akan berlalu!” Bersyukurlah sebagai ganti mengeluh.
PENAWAR KEENAM
{(Catatan kaki): Karena Lem'a ini terlintas secara fitrah, pada urutan keenam ditulis dua penawar. Agar tidak mengganggu sifat fitrahnya, kami membiarkannya demikian dan tidak mengubahnya, dengan pikiran mungkin ada suatu rahasia.}
Wahai saudaraku yang memikirkan kesenangan dunia dan menderita karena penyakit! Jika dunia ini kekal, tidak ada kematian di jalan kita, angin perpisahan dan lenyap tidak bertiup, serta tidak ada musim-musim dingin batin dalam masa depan yang penuh musibah dan badai, aku pun akan mengasihani keadaanmu bersamamu. Namun, karena suatu hari dunia akan berkata kepada kita, ayo keluar, dan menutup telinganya terhadap jeritan kita, sebelum dunia mengusir kita, melalui peringatan penyakit-penyakit ini kita harus meninggalkan cinta kepadanya sejak sekarang. Sebelum ia meninggalkan kita, kita harus berusaha meninggalkannya dalam hati.
Ya, penyakit mengingatkan makna ini kepada kita dan berkata, “Tubuhmu tidak terbuat dari batu atau besi. Sebaliknya, tubuhmu tersusun dari berbagai bahan yang selalu dapat terpisah. Tinggalkan kesombongan, pahamilah bahwa engkau tak berdaya, kenalilah Sang Pemilikmu, ketahuilah tugasmu, dan pelajarilah untuk apa engkau datang ke dunia!” Penyakit memberikan peringatan tersembunyi kepada telinga hati.
Selain itu, karena kesenangan dan kenikmatan dunia tidak bertahan, terlebih jika tidak halal, keduanya tidak bertahan sekaligus menyakitkan serta berdosa. Jangan menangis karena kehilangan kesenangan itu dengan menjadikan penyakit sebagai alasan. Sebaliknya, pikirkanlah segi ibadah batin dan pahala akhirat dalam penyakit, lalu berusahalah memperoleh kenikmatan.
PENAWAR KETUJUH
Wahai orang sakit yang kehilangan nikmat kesehatan! Penyakitmu tidak menghilangkan kenikmatan dari nikmat Ilahi dalam kesehatan. Sebaliknya, penyakit membuatmu merasakannya dan menambahnya. Sebab, jika sesuatu berlangsung terus, pengaruhnya menghilang. Bahkan, para ahli hakikat sepakat mengatakan,
ﺍِﻧَّﻤَﺎ الْاَشْيَٓاءُ ﺗُﻌْﺮَﻑُ ﺑِﺎَﺿْﺪَﺍﺩِﻫَﺎ
, yaitu, “Segala sesuatu dikenal melalui lawannya.” Misalnya, jika tidak ada gelap, cahaya tidak dikenal dan tidak memberi kenikmatan. Jika tidak ada dingin, panas tidak dipahami dan tidak memberi kesenangan. Jika tidak ada lapar, makanan tidak memberi kenikmatan. Jika tidak ada panas di perut, minum air tidak memberi kesenangan. Jika tidak ada penyakit, keadaan sejahtera tidak menyenangkan. Jika tidak ada sakit, kesehatan tidak memberi kenikmatan.
Sang Fâthir Yang Hakîm melengkapi manusia dengan begitu banyak perlengkapan sehingga dapat merasakan dan mengenal berbagai jenis nikmat yang tak terbatas dalam kainat ini. Hal itu menunjukkan bahwa Dia ingin membuat manusia merasakan setiap jenis anugerah-Nya, mengecap setiap jenis nikmat-Nya, dan terus bersyukur. Karena demikian, sebagaimana Dia memberikan kesehatan dan keadaan sejahtera, tentu Dia juga memberikan penyakit, gangguan, serta penderitaan.
Aku bertanya kepadamu, “Jika penyakit ini tidak ada di kepala, tangan, atau perutmu, apakah engkau akan merasakan nikmat Ilahi yang lezat dan menyenangkan dalam kesehatan kepala, tangan, atau perutmu, lalu bersyukur? Tentu bukan hanya tidak bersyukur, engkau bahkan tidak akan memikirkannya. Tanpa menyadarinya, engkau akan menggunakan kesehatan itu dalam kelalaian, bahkan mungkin dalam perilaku mengumbar hawa nafsu.”
PENAWAR KEDELAPAN
Wahai orang sakit yang memikirkan akhiratnya! Penyakit mencuci dan membersihkan kotoran dosa seperti sabun. Bahwa penyakit-penyakit menjadi penghapus dosa ditetapkan melalui hadis sahih. Dalam hadis juga disebutkan, “Sebagaimana buah-buah jatuh ketika pohon yang buahnya telah matang diguncangkan, demikian pula gemetar seorang sakit yang beriman menggugurkan dosa-dosanya.”
Dalam kehidupan yang kekal, dosa-dosa merupakan penyakit yang terus berlangsung. Dalam kehidupan dunia ini pun, dosa adalah penyakit batin bagi hati, nurani, dan ruh. Jika engkau bersabar dan tidak mengeluh, melalui satu penyakit sementara ini engkau terbebas dari begitu banyak penyakit yang terus berlangsung.
Jika engkau tidak memikirkan dosa-dosa, tidak mengetahui akhirat, atau tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ, dalam dirimu terdapat suatu penyakit mengerikan yang sejuta kali lebih besar daripada penyakit kecilmu ini. Jeritkanlah penderitaan akibat penyakit itu.
Sebab, hati, ruh, dan nafsumu terhubung dengan seluruh makhluk dunia. Melalui perpisahan dan lenyap yang terus berlangsung, hubungan-hubungan itu terputus dan membuka luka-luka tak terbatas dalam dirimu. Terlebih lagi, karena tidak mengetahui akhirat, engkau membayangkan kematian sebagai lenyap untuk selama-lamanya. Seolah-olah engkau memiliki tubuh sebesar dunia yang penuh penyakit, luka, dan memar.
Pertama-tama, hendaknya mencari obat iman dan memperbaiki keyakinan. Obat itu merupakan penawar yang secara pasti mengobati dan menyembuhkan bagi penyakit-penyakit tak terbatas dalam tubuh batin besar yang penuh luka tak terhitung dan penyakit tersebut. Jalan terpendek untuk menemukan obat itu ialah mengenal Kudrat serta Rahmat Sang Qadîr Dzul-Jalâl melalui jendela keadaan tak berdaya serta kelemahan yang ditunjukkan kepadamu oleh penyakit fisik ini di balik tabir kelalaian yang dirobeknya.
Ya, orang yang tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ menanggung bencana sebanyak isi dunia. Dunia orang yang mengenal Allah سُبْحَانَهُ penuh cahaya dan kegembiraan batin. Ia merasakannya melalui kekuatan iman sesuai dengan tingkatnya. Di bawah kegembiraan batin, kesembuhan, dan kenikmatan yang berasal dari iman ini, penderitaan penyakit-penyakit fisik yang kecil meleleh dan luluh.
PENAWAR KESEMBILAN
Wahai orang sakit yang mengenal Sang Khâliq-nya! Penderitaan, rasa ngeri, dan takut dalam penyakit berasal dari kenyataan bahwa penyakit terkadang menjadi perantara menuju kematian. Karena kematian mengerikan dalam pandangan yang lalai dan dari segi lahir, penyakit yang dapat menjadi perantaranya menakutkan serta menimbulkan kecemasan.
Pertama: Ketahuilah dan berimanlah dengan pasti bahwa, “Ajal telah ditakdirkan dan tidak berubah.” Orang-orang yang menangis di sisi pasien yang sangat sakit dan orang-orang yang sehat telah meninggal, sedangkan pasien-pasien yang sangat sakit itu sembuh dan hidup.
Kedua: Kematian tidak mengerikan seperti tampaknya dari luar. Dalam banyak risalah, dengan cahaya yang diberikan Al-Qur'an Al-Hakîm, kami telah membuktikan dengan sangat pasti, tanpa sangsi dan tanpa ragu, bahwa bagi ahli iman, kematian:
Merupakan pembebasan dari beban tugas kehidupan.
Juga merupakan saat berhenti dari ubudiyah yang berupa latihan dan pengajaran dalam ujian di medan dunia.
Juga merupakan perantara untuk bertemu dengan sembilan puluh sembilan persen sahabat dan kerabatnya yang telah menuju alam lain.
Juga merupakan sarana untuk memasuki tanah airnya yang sejati dan tempat kebahagiaannya untuk selama-lamanya.
Juga merupakan undangan dari penjara dunia menuju taman-taman surga.
Juga merupakan giliran untuk menerima upah atas khidmahnya dari Kemurahan Sang Khâliq-nya Yang Rahîm.
Karena dari segi hakikat, inti kematian demikian, hendaknya tidak memandangnya sebagai sesuatu yang mengerikan. Sebaliknya, hendaknya memandangnya sebagai awal Rahmat dan kebahagiaan. Selain itu, sebagian orang yang dekat kepada Allah سُبْحَانَهُ takut kepada kematian bukan karena kematian mengerikan. Melainkan, karena amal-amal baik yang akan mereka peroleh dengan melanjutkan tugas kehidupan, dengan pikiran bahwa mereka akan mendapatkan lebih banyak kebaikan.
Ya, bagi ahli iman, kematian adalah pintu Rahmat. Bagi orang-orang yang sesat, kematian merupakan sumur gelap untuk selama-lamanya.
PENAWAR KESEPULUH
Wahai orang sakit yang cemas tanpa perlu! Engkau cemas karena beratnya penyakitmu. Kecemasan itu memperberat penyakitmu. Jika ingin penyakit menjadi lebih ringan, berusahalah tidak cemas. Artinya, pikirkanlah manfaat penyakit, pahalanya, dan bahwa ia akan segera berlalu. Hilangkan kecemasan, potonglah akar penyakit.
Ya, kecemasan menggandakan penyakit. Di bawah penyakit fisik, melalui kecemasan, ia memberikan penyakit batin kepada hatimu. Penyakit fisik bersandar kepadanya dan terus berlangsung. Jika kecemasan itu hilang melalui berserah diri, rela, dan memikirkan hikmah penyakit, satu akar penting penyakit fisik tersebut terpotong; penyakit menjadi ringan dan sebagian hilang. Terutama melalui sangkaan keliru, penyakit fisik sebesar satu dirham terkadang membesar hingga sepuluh dirham karena kecemasan. Dengan berakhirnya kecemasan, sembilan persepuluh penyakit itu hilang.
Selain menambah penyakit, kecemasan dianggap menuduh Hikmah Ilahi, mengkritik Rahmat Ilahi, dan mengeluhkan Sang Khâliq-nya Yang Rahîm. Karena itu, ia mendapat tamparan yang berlawanan dengan tujuannya dan memperbesar penyakit. Ya, sebagaimana syukur menambah nikmat, demikian pula keluhan menambah penyakit serta musibah.
Kecemasan itu sendiri juga merupakan penyakit. Obatnya ialah mengetahui hikmah penyakit. Karena engkau telah mengetahui hikmah dan manfaatnya, oleskanlah salep itu pada kecemasan dan terbebaslah. Katakan “Oh!” sebagai ganti “Âh!” dan ucapkan "Elhamdülillahi alâküllihal" sebagai ganti “Vâ-esefâ!”.
PENAWAR KESEBELAS
Wahai saudaraku yang sakit dan tidak sabar! Bersamaan dengan memberimu penderitaan saat ini, penyakit juga memberimu kenikmatan batin dari berakhirnya penyakit yang dahulu engkau alami sampai hari ini, serta kenikmatan ruh dari pahalanya. Penyakit pada waktu setelah hari ini, bahkan setelah jam ini, belum ada. Tentu, dari yang tidak ada, tidak ada penderitaan. Jika tidak ada penderitaan, tidak mungkin ada rasa terluka. Karena engkau membayangkannya secara keliru, muncul sikap tidak sabar.
Sebab, wujud fisik seluruh waktu penyakit sebelum hari ini telah berlalu, dan penderitaannya pun berlalu bersamanya. Yang tinggal ialah pahala dalam penyakit itu dan kenikmatan ketika berakhir. Padahal, semua itu seharusnya memberimu keuntungan dan kegembiraan. Memikirkannya lalu merasa sakit dan tidak sabar adalah kegilaan. Hari-hari yang akan datang belum tiba. Memikirkannya sejak sekarang, pada hari yang belum ada,
memikirkan melalui sangkaan keliru penyakit yang belum ada dan penderitaan yang belum ada, lalu merasa sakit dan tidak sabar, berarti memberi warna wujud pada tiga lapis yang belum ada. Jika ini bukan kegilaan, apa lagi?
Karena waktu-waktu penyakit sebelum jam ini memberikan kegembiraan, sedangkan waktu setelah jam ini belum ada, penyakitnya belum ada, dan penderitaannya belum ada, jangan menyebarkan seluruh kekuatan sabar yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq berikan kepadamu ke kanan dan ke kiri. Pusatkanlah kekuatan itu untuk menghadapi penderitaan pada jam ini. Katakan, “Yâ Sabûr!” dan bertahanlah.
PENAWAR KEDUA BELAS
Wahai orang sakit yang terhalang dari ibadah serta wirid karena penyakit dan merasa sedih karena terhalang itu! Ketahuilah, telah ditetapkan melalui hadis bahwa seorang mukmin yang bertakwa tetap memperoleh pahala wiridnya yang biasa dilakukan, yang tidak dapat ia kerjakan karena penyakit, selama masa sakit. Seorang sakit yang menunaikan kewajiban fardu semampunya, melalui kesabaran, tawakal, dan menunaikan kewajiban-kewajiban fardunya, memperoleh pengganti ibadah-ibadah sunah yang lain melalui penyakit selama masa sakit yang berat tersebut, bahkan secara murni.
Penyakit juga membuat manusia merasakan dirinya tak berdaya dan lemah. Dengan lisan keadaan tak berdaya dan bahasa kelemahan itu, penyakit membuatnya berdoa melalui keadaan serta ucapan. Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq memberikan keadaan tak berdaya yang tak terbatas dan kelemahan yang tiada akhir kepada manusia, agar ia terus berlindung ke Hadirat Ilahi, memohon, dan berdoa. Melalui rahasia ayat
ﻗُﻞْ ﻣَﺎ ﻳَﻌْﺒَﺆُﺍ ﺑِﻜُﻢْ ﺭَﺑّ۪ﻰ لَوْلَا ﺩُﻋَٓﺎﺅُﻛُﻢْ
, yaitu, “Jika doa kalian tidak ada, apa arti penting kalian?”, penyakit merupakan salah satu sebab doa dan permohonan yang tulus, yang menjadi hikmah manusia diciptakan serta sebab nilainya. Karena itu, dari sudut pandang ini, hendaknya tidak mengeluh, tetapi bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ, serta tidak menutup keran doa yang dibuka penyakit dengan memperoleh kesehatan.
PENAWAR KETIGA BELAS
Wahai orang malang yang mengeluh tentang penyakit! Bagi sebagian orang, penyakit merupakan harta terpendam yang penting dan hadiah Ilahi yang sangat berharga. Setiap orang sakit dapat membayangkan penyakitnya sebagai jenis penyakit tersebut.
Karena waktu ajal tidak diketahui, melalui Hikmah-Nya Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menyembunyikan ajal untuk menyelamatkan manusia dari putus asa mutlak dan kelalaian mutlak, agar menjaganya di antara rasa takut dan harapan, serta
agar tetap menjaga dunia maupun akhirat. Karena ajal dapat datang setiap saat, jika ajal menangkap manusia dalam kelalaian, hal itu dapat sangat merusak kehidupan kekalnya. Penyakit mengusir kelalaian, membuatnya memikirkan akhirat dan mengingat kematian, sehingga ia bersiap. Terkadang ia memperoleh keuntungan demikian besar sehingga dalam dua puluh hari mencapai suatu tingkatan yang tidak dapat dicapainya dalam dua puluh tahun.
Di antaranya: Terdapat dua pemuda di antara sahabat-sahabat kami—semoga Allah سُبْحَانَهُ merahmati mereka. Yang satu ialah Sabri dari İlama, yang lain Vezirzade Mustafa dari İslâmköy. Aku melihat dengan heran bahwa meskipun keduanya tidak menulis, di antara murid-muridku mereka berada di barisan terdepan dalam ketulusan serta khidmah iman. Aku tidak mengetahui hikmahnya. Setelah mereka wafat, aku memahami bahwa keduanya memiliki penyakit yang serius. Melalui bimbingan penyakit itu, berbeda dari para pemuda lain yang lalai dan meninggalkan kewajiban-kewajiban fardu, keduanya berada dalam takwa yang sangat penting, khidmah yang sangat berharga, serta keadaan yang bermanfaat bagi akhirat. İnşâallah, penderitaan penyakit selama dua tahun menjadi sarana bagi kebahagiaan kehidupan yang kekal selama jutaan tahun. Kini aku memahami bahwa sebagian doa yang kupanjatkan demi kesehatan mereka ternyata menjadi doa buruk dari segi dunia. İnşâallah, doaku itu diterima bagi kesehatan akhirat.
Menurut keyakinanku, kedua orang ini memperoleh keuntungan sebesar perolehan yang dicapai melalui takwa selama sepuluh tahun. Jika seperti sebagian pemuda, keduanya mengandalkan kesehatan dan masa muda lalu terjerumus dalam kelalaian serta perilaku mengumbar hawa nafsu, dan kematian mengintai serta menangkap mereka tepat di tengah kotoran dosa-dosa, mereka akan menjadikan kubur mereka sarang kalajengking dan ular sebagai ganti khazanah cahaya tersebut.
Karena penyakit memiliki manfaat seperti ini, hendaknya tidak mengeluh tentangnya, melainkan bertawakal, bersabar, bahkan bersyukur dan percaya kepada Rahmat Ilahi.
PENAWAR KEEMPAT BELAS
Wahai orang sakit yang matanya tertutup tabir! Jika engkau mengetahui cahaya dan mata batin yang terdapat di bawah tabir pada mata ahli iman, engkau akan berkata, “Seratus ribu syukur kepada Rabb-ku Yang Rahîm!” Untuk menjelaskan salep ini, aku akan menceritakan suatu peristiwa. Demikianlah:
Pada suatu waktu, mata bibi dari pihak ayah Süleyman dari Barla, yang selama delapan tahun memberikan khidmah kepadaku dengan kesetiaan penuh tanpa pernah membuatku tersinggung, tertutup. Perempuan salehah itu berprasangka baik kepadaku seratus kali melampaui kelayakanku. Dengan berkata, “Berdoalah agar mataku terbuka,” ia menahanku di pintu
masjid. Aku pun menjadikan kesalehan perempuan yang diberkahi dan larut dalam penghayatan batin itu sebagai perantara syafaat bagi doaku, lalu memohon, “Yâ Rabbi, demi kehormatan kesalehannya, bukalah matanya.” Pada hari kedua, seorang dokter mata dari Burdur datang dan membuka matanya. Empat puluh hari kemudian, matanya tertutup lagi. Aku sangat sedih dan banyak berdoa. İnşâallah, doa itu diterima bagi akhiratnya. Jika tidak, doaku tersebut akan menjadi doa buruk yang sangat keliru baginya. Sebab, ajalnya tinggal empat puluh hari. Empat puluh hari kemudian, ia wafat—semoga Allah سُبْحَانَهُ merahmatinya.
Sebagai ganti memandang kebun-kebun Barla yang muram selama empat puluh hari dengan mata tuanya yang mudah tersentuh, mendiang perempuan itu memperoleh kesempatan menyaksikan taman-taman surga selama empat puluh ribu hari di dalam kuburnya. Sebab, imannya kuat dan kesalehannya mendalam.
Ya, jika mata seorang mukmin tertutup tabir dan ia memasuki kubur dengan mata tertutup, sesuai dengan tingkatannya ia dapat menyaksikan alam cahaya itu jauh lebih banyak daripada para penghuni kubur. Sebagaimana di dunia ini kita melihat banyak hal yang tidak dilihat oleh mukmin yang buta, di dalam kubur orang-orang buta itu akan melihat lebih banyak daripada para penghuni kubur sampai tingkat tersebut, jika mereka pergi dengan iman. Seperti memandang melalui teropong yang menjangkau paling jauh, sesuai dengan tingkatan mereka, di dalam kubur mereka melihat dan menyaksikan taman-taman surga seperti tontonan di layar.
Melalui syukur dan sabar, di bawah tabir pada matamu ini engkau dapat menemukan mata yang sangat bercahaya seperti itu, yang melihat dan menyaksikan surga di atas langit meskipun berada di bawah tanah. Dokter mata yang akan mengangkat tabir itu dari matamu dan membuatmu melihat dengan mata tersebut ialah Al-Qur'an Al-Hakîm.
PENAWAR KELIMA BELAS
Wahai orang sakit yang merintih dan mengerang! Jangan memandang rupa penyakit lalu mengeluh âh. Pandanglah maknanya dan katakan oh! Jika makna penyakit bukan sesuatu yang indah, Sang Khâliq Yang Rahîm tidak akan memberikan penyakit kepada hamba-hamba yang paling Dia cintai. Padahal, dalam hadis sahih terdapat:
ﺍَﺷَﺪُّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ بَلَٓاءً اَلْاَنْبِيَٓاءُ ﺛُﻢَّ الْاَوْلِيَٓاءُ اَلْاَمْثَلُ فَالْاَمْثَلُ
—ev kema kal—, yaitu, “Yang paling banyak ditimpa musibah dan kesulitan ialah manusia-manusia yang paling baik dan paling sempurna.” Terutama Nabi Ayyub aleyhisselâm, para nabi, kemudian para wali, lalu orang-orang saleh memandang penyakit yang mereka derita sebagai ibadah yang murni dan hadiah dari Ar-Rahmân;
mereka bersyukur dalam kesabaran. Mereka memandangnya sebagai semacam operasi bedah yang datang dari Rahmat Sang Khâliq Yang Rahîm.
Wahai orang sakit yang merintih dan menjerit! Jika ingin bergabung dengan rombongan yang bercahaya ini, bersyukurlah dalam kesabaran. Jika justru mengeluh, mereka tidak akan menerimamu dalam rombongannya. Engkau jatuh ke lubang-lubang orang yang lalai! Engkau akan menempuh jalan yang gelap.
Ya, terdapat sebagian penyakit yang, jika berakhir dengan kematian, menyebabkan tercapainya suatu tingkatan kewalian, seperti syahid, dengan dianggap sebagai syahid secara batin. Di antaranya, sebagaimana orang yang wafat akibat penyakit yang berasal dari melahirkan anak {(Catatan kaki): Penyakit ini membuat seseorang memperoleh syahid secara batin selama masa nifas, sampai empat puluh hari.}, nyeri perut, tenggelam, terbakar, atau wabah taun (pes) dianggap syahid secara batin, terdapat banyak penyakit yang diberkahi, yang melalui kematian memberikan tingkatan kewalian.
Penyakit juga meringankan cinta dan ikatan terhadap dunia. Karena itu, melalui wafat ia meringankan perpisahan dari dunia yang sangat menyakitkan dan pahit bagi orang-orang yang mencintai dunia; terkadang bahkan membuat perpisahan itu dicintai.
PENAWAR KEENAM BELAS
Wahai orang sakit yang mengeluh tentang kesusahan! Penyakit menanamkan rasa hormat dan belas kasih, yang sangat penting serta sangat indah dalam kehidupan masyarakat manusia. Sebab, penyakit membebaskan manusia dari merasa tidak membutuhkan siapa pun, yang mendorongnya kepada sifat liar dan tidak berbelas kasih.
Melalui rahasia
ﺍِﻥَّ الْاِنْسَانَ ﻟَﻴَﻄْﻐٰﻰ ٭ ﺍَﻥْ ﺭَﺍٰﻩُ ﺍﺳْﺘَﻐْﻨٰﻰ
, nafsu ammarah yang merasa tidak membutuhkan siapa pun akibat kesehatan dan keadaan sejahtera tidak merasakan hormat terhadap banyak ikatan persaudaraan yang patut dihormati. Ia juga tidak merasakan belas kasih terhadap orang-orang yang tertimpa musibah dan sakit, yang patut mendapat belas kasih serta kasih sayang.
Ketika sakit, melalui penyakit itu ia memahami dirinya tak berdaya dan membutuhkan. Ia menghormati saudara-saudaranya yang layak dihormati. Ia merasakan hormat terhadap saudara-saudara mukmin yang mengunjunginya atau membantunya. Ia juga merasakan kasih sayang manusia yang berasal dari rasa iba terhadap sesama manusia, serta belas kasih kepada orang-orang yang tertimpa musibah, salah satu sifat Islam yang paling penting. Dengan membandingkan mereka dengan dirinya, ia sungguh-sungguh merasa iba dan mengasihi mereka. Jika mampu,
ia membantu. Setidaknya, ia berdoa. Setidaknya, ia mengunjungi mereka untuk menanyakan keadaan, yang menurut syariat merupakan sunah, dan memperoleh pahala.
PENAWAR KETUJUH BELAS
Wahai orang sakit yang mengeluh karena tidak dapat melakukan amal-amal baik akibat penyakit! Bersyukurlah; penyakitlah yang membuka pintu amal baik paling murni bagimu. Bersamaan dengan terus memberikan pahala kepada orang sakit dan orang-orang yang merawatnya Lillah, penyakit merupakan salah satu sarana terpenting bagi diterimanya doa.
Ya, merawat orang-orang sakit memiliki pahala yang besar bagi ahli iman. Mengunjungi mereka untuk menanyakan keadaan, dengan syarat tidak membuat orang sakit tidak nyaman, merupakan sunah yang luhur dan menjadi penghapus dosa. Dalam hadis terdapat, “Mintalah doa orang-orang sakit; doa mereka diterima.” Terlebih jika orang sakit itu seorang kerabat, terutama ayah dan ibu, memberikan khidmah kepada mereka merupakan ibadah yang penting dan pahala yang besar. Menyenangkan hati orang sakit dan menghiburnya menjadi sedekah yang penting.
Berbahagialah anak yang selama ayah dan ibunya sakit menyenangkan hati mereka yang mudah tersentuh serta memperoleh doa kebaikan mereka. Ya, bahkan para malaikat bertepuk tangan dan berkata “Mâşâallah, Bârekellah” terhadap gambaran kesetiaan yang memperlihatkan kemuliaan sifat manusia dan keadaan anak baik itu: ia membalas kasih sayang ayah dan ibunya, suatu hakikat yang paling dihormati dalam kehidupan masyarakat, dengan rasa hormat penuh serta kasih sayang seorang anak ketika mereka sakit.
Ya, selama sakit, terdapat kenikmatan yang sangat menyenangkan dan melegakan dari kasih sayang, rasa iba, dan belas kasih yang tampak di sekelilingnya, yang membuat penderitaan penyakit tidak berarti.
Diterimanya doa orang sakit merupakan persoalan yang penting. Selama tiga puluh atau empat puluh tahun, aku berdoa untuk sembuh dari suatu penyakit yang disebut kulunç. Aku memahami bahwa penyakit diberikan untuk doa. Karena doa tidak menghilangkan doa, yaitu tidak menghilangkan dirinya sendiri, aku memahami bahwa hasil doa bersifat ukhrawi. {(Catatan kaki): Ya, sementara sebagian penyakit merupakan sebab adanya doa, jika doa menjadi sebab tidak adanya penyakit, adanya doa akan menyebabkan tidak adanya dirinya sendiri. Ini tidak mungkin.} Doa itu sendiri juga merupakan semacam ibadah. Melalui penyakit, manusia memahami dirinya tak berdaya dan berlindung ke Hadirat Ilahi. Karena itu, meskipun selama tiga puluh
tahun aku berdoa untuk kesembuhan dan secara lahir doaku tidak diterima, tidak terlintas dalam hatiku untuk meninggalkan doa.
Sebab, penyakit adalah waktu untuk berdoa; kesembuhan bukan hasil doa. Jika Sang Hakîm Yang Rahîm memberikan kesembuhan, Dia memberikannya dari Kemurahan-Nya.
Jika doa tidak diterima dengan cara yang kita inginkan, tidak dapat dikatakan bahwa doa itu tidak diterima. Sang Khâliq Yang Hakîm mengetahui dengan lebih baik dan memberikan apa yang baik bagi kepentingan kita. Terkadang, demi manfaat kita, Dia mengalihkan doa-doa kita yang berkaitan dengan dunia kepada akhirat kita dan menerimanya dengan cara itu. Bagaimanapun...
Doa yang memperoleh ketulusan melalui rahasia penyakit, terutama yang berasal dari kelemahan, keadaan tak berdaya, sikap merendahkan diri, dan kebutuhan, sangat dekat untuk diterima. Penyakit merupakan sarana doa yang murni seperti ini. Orang sakit yang taat beragama maupun para mukmin yang merawatnya hendaknya mengambil manfaat dari doa ini.
PENAWAR KEDELAPAN BELAS
Wahai orang sakit yang meninggalkan syukur dan mulai mengeluh! Keluhan berasal dari suatu hak. Tidak ada hakmu yang hilang sehingga engkau mengeluh. Sebaliknya, banyak syukur menjadi kewajibanmu, tetapi tidak engkau lakukan. Tanpa menunaikan Hak Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, engkau mengeluh seolah-olah menuntut hak secara tidak adil. Engkau tidak dapat memandang orang-orang sehat yang tingkatannya lebih tinggi darimu lalu mengeluh. Sebaliknya, engkau wajib memandang orang-orang sakit yang malang, yang tingkat kesehatannya lebih rendah darimu, lalu bersyukur. Jika tanganmu patah, lihatlah tangan-tangan yang terpotong! Jika satu matamu tidak ada, lihatlah orang-orang buta yang kedua matanya tidak ada! Bersyukurlah kepada Allah سُبْحَانَهُ.
Ya, tidak seorang pun berhak memandang orang yang nikmatnya lebih tinggi daripada dirinya lalu mengeluh. Dalam musibah, yang patut dilakukan setiap orang ialah memandang mereka yang musibahnya lebih berat daripada dirinya, agar bersyukur. Rahasia ini telah dijelaskan melalui sebuah perumpamaan dalam beberapa risalah. Ringkasnya ialah:
Seseorang membawa seorang malang ke puncak sebuah menara. Pada setiap anak tangga menara, ia memberikan anugerah dan hadiah yang berbeda. Tepat di puncak menara, ia juga memberikan hadiah terbesar. Ia meminta terima kasih dan rasa berutang budi atas berbagai hadiah itu. Namun, orang yang kasar tersebut melupakan atau menganggap tidak berarti seluruh hadiah yang diperolehnya pada anak-anak tangga itu. Tanpa bersyukur, ia memandang ke atas dan mulai mengeluh dengan berkata, seandainya menara ini lebih tinggi dan aku naik lebih jauh; mengapa menara ini tidak setinggi gunung itu atau menara yang lain? Betapa hal ini merupakan sikap tidak mensyukuri nikmat dan ketidakadilan.
Demikian pula, seseorang berasal dari tidak ada lalu menjadi ada, bukan batu, bukan pohon, tidak tetap sebagai hewan, melainkan menjadi manusia dan Muslim. Ia menikmati kesehatan serta keadaan sejahtera selama banyak waktu dan memperoleh nikmat pada tingkat yang tinggi. Namun, akibat beberapa gangguan, karena tidak layak menerima beberapa nikmat seperti kesehatan dan keadaan sejahtera, karena kehilangan nikmat-nikmat itu melalui pilihan yang buruk atau penyalahgunaan, atau karena tidak dapat menjangkaunya, ia mengeluh dan tidak sabar. Dengan berkata, “Aduh, apa yang telah kulakukan sehingga ini menimpaku?”, ia berada dalam keadaan seperti mengkritik Rububiyah Ilahi. Keadaan itu merupakan penyakit batin yang lebih penuh musibah daripada penyakit fisik. Seperti berkelahi dengan tangan yang patah, melalui keluhannya ia memperberat penyakit.
Orang yang berakal ialah yang berserah diri dan bersabar melalui rahasia
ﻟِﻜُﻞِّ ﻣُﺼ۪ﻴﺒَﺔٍ ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ
, agar penyakit itu menyelesaikan tugasnya lalu pergi.
PENAWAR KESEMBILAN BELAS
Seluruh Asma Sang Jamîl Dzul-Jalâl, melalui ungkapan Asmaulhusna yang berasal dari Sang Shamad, menunjukkan bahwa Asma itu indah. Di antara makhluk, cermin Sifat Shamad yang paling halus, paling indah, dan paling lengkap ialah kehidupan. Cermin Yang Indah itu indah. Cermin yang menunjukkan Keindahan Yang Indah menjadi indah. Sebagaimana apa pun yang datang dari Yang Indah kepada cermin itu indah, apa pun yang menimpa kehidupan juga indah dari segi hakikat. Sebab, kehidupan menunjukkan ukiran-ukiran indah Asma Yang Indah itu.
Jika kehidupan terus berlangsung secara seragam dalam kesehatan dan keadaan sejahtera, kehidupan menjadi cermin yang tidak sempurna. Bahkan, dari satu segi, hal itu membuatnya merasakan tiada, tanpa wujud, dan hampa, lalu menimbulkan kesusahan. Hal itu menurunkan nilai kehidupan dan mengubah kenikmatan umur menjadi kesusahan. Dengan pikiran ingin segera melewatkan waktuku, karena merasa susah, ia terjerumus dalam perilaku mengumbar hawa nafsu atau hiburan. Ia memusuhi umurnya yang berharga seperti masa penjara dan ingin segera membunuh serta melewatkannya.
Namun, kehidupan yang bergulir dalam perubahan, gerak, dan berbagai keadaan membuat manusia merasakan nilainya serta mengetahui arti penting dan kenikmatan umur. Meskipun dalam kesulitan serta musibah, ia tidak ingin umur berlalu. Karena kesusahannya, ia tidak mengeluh berulang kali dengan berkata, “Aduh, matahari belum terbenam,” atau, “Malam belum berakhir.”
Ya, tanyakanlah kepada seorang tuan yang sangat kaya, tidak bekerja, dan memiliki segala sesuatu yang sempurna di pembaringan tempat beristirahat, “Bagaimana keadaanmu?” Tentu engkau akan mendengar perkataan penuh penderitaan seperti, “Aduh, waktu tidak berlalu. Mari kita bermain backgammon,” atau, “Mari mencari hiburan untuk melewatkan
waktu.” Atau, engkau akan mendengar keluhan dari angan-angan panjang, seperti, “Aku kekurangan hal ini; seandainya aku melakukan pekerjaan itu.”
Tanyakanlah kepada seorang yang tertimpa musibah, seorang pekerja, atau seorang miskin dalam keadaan sulit, “Bagaimana keadaanmu?” Jika berakal sehat, ia akan berkata, “Syukur kepada Rabb-ku, aku baik, aku bekerja. Seandainya matahari tidak segera terbenam dan aku dapat menyelesaikan pekerjaan ini juga. Waktu cepat berlalu; umur tidak berhenti, terus pergi. Memang aku menanggung kesulitan, tetapi ini pun akan berlalu; segala sesuatu berlalu secepat ini.” Melalui kesedihannya karena umur berlalu, secara makna ia menjelaskan betapa berharga umur.
Berarti, melalui kesulitan dan bekerja, ia memahami kenikmatan umur serta nilai kehidupan. Sebaliknya, istirahat dan kesehatan membuat umur terasa pahit, sehingga ia menginginkannya berlalu.
Wahai saudaraku yang sakit! Ketahuilah, sebagaimana telah dibuktikan dengan pasti dan terperinci dalam risalah-risalah lain, asal serta bahan dasar musibah, keburukan, bahkan dosa ialah tiada. Tiada adalah keburukan dan gelap. Keadaan seperti istirahat yang seragam, diam, tenang, dan berhenti mendekati tiada serta hampa, sehingga membuat manusia merasakan gelap yang terdapat dalam tiada dan menimbulkan kesusahan. Sebaliknya, gerak dan perubahan adalah wujud serta membuat manusia merasakan wujud. Wujud adalah kebaikan yang murni dan cahaya.
Karena hakikat demikian, penyakit dalam dirimu dikirimkan sebagai tamu ke tubuhmu untuk banyak tugas: memurnikan, menguatkan, dan memajukan kehidupan yang berharga; mengarahkan perlengkapan manusia yang lain dalam tubuhmu kepada anggota yang sakit untuk membantunya; serta menunjukkan ukiran berbagai Asma Sang Pembuat Yang Hakîm. İnşâallah, penyakit segera menyelesaikan tugasnya lalu pergi. Ia berkata kepada kesehatan, datanglah engkau, tinggallah terus di tempatku, jalankan tugasmu; rumah ini milikmu, tinggallah dengan sejahtera.
PENAWAR KEDUA PULUH
Wahai orang sakit yang mencari obat bagi penyakitnya! Penyakit terbagi dua: sebagian nyata, sebagian berasal dari sangkaan. Adapun yang nyata, Sang Syâfî Yang Hakîm Dzul-Jalâl telah menyimpan penawar bagi setiap penyakit di apotek besar-Nya, yaitu bumi. Penawar-penawar itu menghendaki penyakit. Dia menciptakan obat bagi setiap penyakit. Mengambil dan menggunakan obat untuk berobat diperbolehkan. Namun,
hendaknya mengetahui bahwa pengaruh dan kesembuhan berasal dari Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Sebagaimana Dia memberikan obat, Dia pula memberikan kesembuhan.
Mengikuti anjuran dokter yang ahli dan taat beragama merupakan obat yang penting. Sebab, kebanyakan penyakit berasal dari penyalahgunaan, tidak menjaga pantangan, berlebihan, kesalahan-kesalahan, perilaku mengumbar hawa nafsu, dan kurang berhati-hati. Tentu, dokter yang taat beragama memberikan nasihat serta anjuran dalam batas yang halal. Ia melarang penyalahgunaan dan tindakan berlebihan serta memberikan penghiburan. Pasien mempercayai anjuran dan penghiburan itu, sehingga penyakitnya menjadi ringan dan rasa lapang menggantikan kesusahan.
Adapun penyakit yang berasal dari sangkaan, obatnya yang paling ampuh ialah tidak memberikan perhatian kepadanya. Semakin diperhatikan, penyakit itu membesar dan membengkak. Jika tidak diperhatikan, penyakit itu mengecil dan buyar. Seperti lebah-lebah yang mengerumuni kepala manusia jika terus diganggu, tetapi berpencar jika tidak dipedulikan. Begitu pula, semakin seseorang memperhatikan bayangan yang berasal dari seutas tali yang tampak bergoyang di depan matanya dalam gelap, semakin besar bayangan itu. Terkadang, bayangan tersebut bahkan membuatnya lari seperti orang gila. Jika tidak dipedulikan, ia melihat bahwa itu seutas tali biasa, bukan ular, dan menertawakan kecemasan yang dialaminya.
Jika penyakit yang berasal dari sangkaan ini berlangsung sangat lama, ia berubah menjadi nyata. Penyakit ini buruk pada orang yang sering menyangka dan mudah gelisah. Ia membesar-besarkan hal sekecil biji menjadi sebesar kubah; kekuatan batinnya patah. Terutama jika bertemu tabib yang ilmunya setengah-setengah dan tidak berbelas kasih, atau dokter yang tidak adil, sangkaan kelirunya semakin dibangkitkan. Jika kaya, hartanya habis; jika tidak, akal atau kesehatannya hilang.
PENAWAR KEDUA PULUH SATU
Wahai saudaraku yang sakit! Dalam penyakitmu terdapat penderitaan fisik. Namun, kenikmatan batin yang penting, yang akan menghilangkan pengaruh penderitaan fisik itu, meliputimu. Sebab, jika engkau memiliki ayah, ibu, dan kerabat, kasih sayang lama yang sangat menyenangkan, yang sejak lama engkau lupakan, kembali bangkit di sekelilingmu. Engkau kembali melihat pandangan-pandangan manis yang engkau alami pada masa kecil. Bersamaan dengan itu, persahabatan di sekelilingmu, yang sangat tersembunyi di balik tabir, kembali memandangmu dengan cinta karena tarikan penyakit. Tentu, dibandingkan semuanya, penderitaan fisikmu menjadi sangat ringan.
Orang-orang yang kepadanya engkau memberikan pelayanan dengan bangga dan yang perhatiannya engkau usahakan, melalui ketentuan penyakit, melayanimu dengan belas kasih. Engkau menjadi tuan bagi tuan-tuanmu. Selain itu, karena engkau menarik rasa iba serta kasih sayang dari sesama manusia kepadamu, dari tiada engkau memperoleh banyak sahabat yang membantu serta teman yang mengasihi. Juga, melalui penyakit engkau menerima perintah berhenti dari berbagai pekerjaan yang sangat
berat, dan engkau beristirahat.
Tentu, dibandingkan kenikmatan-kenikmatan batin ini, penderitaanmu yang kecil harus mendorongmu kepada terima kasih, bukan keluhan.
PENAWAR KEDUA PULUH DUA
Wahai saudaraku yang menderita penyakit berat seperti kelumpuhan! Pertama-tama, kuberikan kabar gembira bahwa bagi seorang mukmin, kelumpuhan dianggap diberkahi. Sejak dahulu aku mendengar hal ini dari para wali, tetapi tidak mengetahui rahasianya. Salah satu rahasianya terlintas dalam hatiku demikian:
Orang-orang yang dekat kepada Allah سُبْحَانَهُ atas pilihan mereka sendiri menempuh dua landasan untuk sampai kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, terbebas dari bahaya-bahaya batin dunia yang besar, dan menjamin kebahagiaan yang kekal:
Yang pertama: Mengingat kematian. Artinya, dengan memikirkan bahwa dunia fana dan dirinya pun seorang tamu fana yang bertugas di dalamnya, mereka berusaha bagi kehidupan yang kekal dengan cara tersebut.
Yang kedua: Untuk terbebas dari bahaya-bahaya nafsu ammarah dan perasaan yang buta, mereka berusaha mematikan nafsu ammarah melalui laku berat serta latihan mengekang nafsu.
Wahai saudara-saudaraku yang kehilangan kesehatan separuh tubuh! Tanpa memilih, engkau diberi kedua landasan yang singkat, mudah, dan menjadi sebab kebahagiaan ini. Sebab, keadaan tubuhmu terus mengingatkan bahwa dunia akan lenyap dan manusia fana. Dunia tidak lagi dapat menenggelamkanmu, dan kelalaian tidak dapat menutup matamu. Tentu, nafsu ammarah tidak dapat menipu seseorang yang berada dalam keadaan seperti setengah manusia dengan keinginan yang hina serta nafsu untuk memenuhi selera. Ia segera terbebas dari bencana nafsu itu.
Melalui rahasia iman, berserah diri, dan tawakal, seorang mukmin dapat mengambil manfaat dari penyakit berat seperti kelumpuhan dalam waktu singkat, seperti laku berat para wali. Saat itu, penyakit berat menjadi sangat ringan dibandingkan manfaatnya.
PENAWAR KEDUA PULUH TIGA
Wahai orang sakit yang sendirian, terasing, dan malang! Jika keadaan sendirian dan jauh dari kampung halaman, bersamaan dengan penyakitmu, melembutkan hati-hati yang paling keras kepadamu dan menarik pandangan kasih sayang, bagaimana dengan Dia Yang memperkenalkan Diri-Nya kepada kita dengan Sifat Rahmanu'r-Rahîm di awal seluruh surah Al-Qur'an, dan melalui suatu
kilau Kasih Sayang-Nya membuat seluruh ibu mengasuh semua anak melalui kasih sayang yang luar biasa itu, dan melalui satu manifestasi Rahmat-Nya memenuhi muka bumi dengan nikmat setiap musim semi. Surga dalam kehidupan yang kekal, dengan seluruh keindahannya, merupakan satu manifestasi Rahmat-Nya. Tentu, hubungan imanmu dengan Sang Khâliq-mu Yang Rahîm, mengenal-Nya, dan memohon melalui bahasa tak berdaya dalam penyakit, membuat penyakitmu saat sendirian dan terasing ini menarik Pandangan Rahmat-Nya kepadamu sebagai ganti segala sesuatu. Karena Dia Ada dan memandangmu, segala sesuatu ada bagimu.
Yang sebenarnya terasing dan sendirian ialah orang yang tidak terhubung kepada-Nya melalui iman serta berserah diri, atau tidak memberi arti penting kepada hubungannya.
PENAWAR KEDUA PULUH EMPAT
Wahai para perawat yang memberikan khidmah kepada anak-anak sakit yang tidak berdosa dan orang-orang lanjut usia yang seperti anak-anak tidak berdosa! Di hadapan kalian terdapat perdagangan akhirat yang penting. Raihlah keuntungan perdagangan itu dengan semangat dan kesungguhan.
Penyakit anak-anak yang tidak berdosa memiliki banyak hikmah bagi kehidupan duniawi mereka: sebagai latihan dan penguatan bagi tubuh yang lembut, suntikan untuk membuatnya mampu menghadapi gejolak dunia kelak, serta pemeliharaan dari Rabb. Selain itu, sebagai ganti penghapus dosa pada orang dewasa, penyakit menjadi sarana bagi kehidupan ruh dan murninya kehidupan mereka. Penyakit seperti suntikan batin yang menjadi sarana kemajuan batin mereka kelak atau di akhirat. Para ahli hakikat menetapkan bahwa pahala dari penyakit-penyakit itu masuk ke catatan amal ayah dan ibu, terutama ke lembaran amal baik ibunya, yang melalui rahasia kasih sayang lebih mengutamakan kesehatan anaknya daripada kesehatannya sendiri.
Adapun merawat orang lanjut usia, selain mendapat pahala yang besar, memperoleh doa mereka—terutama jika mereka ayah dan ibu—menyenangkan hati mereka, dan memberikan khidmah dengan setia menjadi sarana kebahagiaan di dunia ini maupun di akhirat. Hal ini ditetapkan melalui riwayat-riwayat sahih dan banyak peristiwa sejarah. Sebagaimana anak berbahagia yang sepenuhnya taat kepada ayah dan ibunya yang telah lanjut usia mengalami sikap yang sama dari anaknya sendiri, melalui banyak peristiwa juga ditetapkan bahwa anak malang yang menyakiti orang tuanya, selain azab akhirat, menerima hukuman melalui banyak bencana di dunia.
Ya, merawat orang lanjut usia dan orang yang tidak berdosa tidak hanya terbatas pada kerabat. Ahli iman—karena melalui rahasia iman terdapat persaudaraan yang sejati—
jika bertemu mereka dan orang lanjut usia yang sakit serta dihormati itu membutuhkan pertolongannya, dituntut oleh Islam untuk memberikan khidmah kepadanya dengan sepenuh jiwa dan raga.
PENAWAR KEDUA PULUH LIMA
Wahai saudara-saudaraku yang sakit! Jika menginginkan penawar suci yang sangat bermanfaat, menjadi obat bagi setiap penyakit, dan benar-benar memberi kenikmatan, kembangkanlah iman kalian. Artinya, melalui tobat, istigfar, salat, dan ubudiyah, gunakanlah iman, penawar suci itu, serta obat yang berasal dari iman.
Ya, karena cinta dan hubungan terhadap dunia, seolah-olah orang yang lalai memiliki suatu tubuh batin yang sakit sebesar dunia. Dalam begitu banyak risalah, kami telah membuktikan dengan pasti bahwa iman tiba-tiba menyembuhkan tubuh batin yang seperti dunia, penuh luka dan memar akibat pukulan lenyap serta perpisahan, membebaskannya dari luka-luka, dan memberikan kesembuhan yang sejati. Agar tidak membuat kalian pusing, aku mengakhirinya dengan singkat.
Obat iman menunjukkan pengaruhnya melalui menunaikan kewajiban-kewajiban fardu semampunya. Kelalaian, perilaku mengumbar hawa nafsu, keinginan nafsu, dan hiburan yang tidak halal menghalangi pengaruh penawar itu. Karena penyakit menghapus kelalaian, menghilangkan selera, dan menghalangi kesenangan yang tidak halal, manfaatkanlah penyakit. Gunakanlah obat-obat suci serta cahaya iman yang sejati melalui tobat, istigfar, doa, dan permohonan.
Semoga Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq memberi kalian kesembuhan dan menjadikan penyakit-penyakit kalian penghapus dosa, Âmîn âmîn âmîn...
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻫَﺪٰﻳﻨَﺎ ﻟِﻬٰﺬَﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻟِﻨَﻬْﺘَﺪِﻯَ لَوْلَٓا ﺍَﻥْ ﻫَﺪٰﻳﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻘَﺪْ ﺟَٓﺎﺀَﺕْ ﺭُﺳُﻞُ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻃِﺐِّ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﻭَ ﺩَﻭَٓﺍﺋِﻬَﺎ ﻭَ ﻋَﺎﻓِﻴَﺔِ الْاَبْدَانِ ﻭَ ﺷِﻔَٓﺎﺋِﻬَﺎ ﻭَ ﻧُﻮﺭِ الْاَبْصَارِ ﻭَ ﺿِﻴَٓﺎﺋِﻬَﺎ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪِ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ
ﻭَﻫُﻮَ ﻟِﻜُﻞِّ ﺩَٓﺍﺀٍ ﺩَﻭَٓﺍﺀٌ
Artinya: “Kitab ini adalah obat bagi setiap penyakit.”
Termasuk tawafuk (kesesuaian tanpa disengaja) yang halus, bersama salinan yang ditulis Re'fet Bey dengan sangat cepat dari draf pertama, pada salinan lain yang ditulis Hüsrev kami menghitung huruf elif yang muncul di awal baris tanpa disengaja dan tanpa dipikirkan sama sekali. Jumlahnya tepat bertepatan dengan kalimat
ﻭَﻫُﻮَ ﻟِﻜُﻞِّ ﺩَٓﺍﺀٍ ﺩَﻭَٓﺍﺀٌ
ini. {(Catatan kaki-1): Dua elif dalam peringatan yang ditulis kemudian tidak dapat dimasukkan dalam perhitungan ini, sehingga tidak dimasukkan.} Jumlahnya juga bertepatan dengan nama Said, penulis risalah ini, dengan selisih satu saja. {(Catatan kaki-2): Karena dalam Keramet-i Aleviye dan Gavsiye (Karamah Ali dan Ghauts Yang Agung) terdapat elif yang diletakkan untuk panggilan di akhir Said, sehingga menjadi (Saidâ), mungkin elif yang lebih ini mengarah kepada elif tersebut.
Re'fet, Hüsrev} Hanya satu elif dalam tulisan yang menjadi judul risalah tidak dimasukkan dalam perhitungan.
Mengherankan bahwa pada salinan yang ditulis Süleyman Rüşdü, tanpa sama sekali mengingat atau memikirkan elif, seratus empat belas elif bertepatan dengan jumlah seratus empat belas surah Al-Qur'an, yang mengandung seratus empat belas penyembuhan suci. Bersamaan dengan itu, jumlah tersebut tepat bertepatan dengan seratus empat belas huruf
ﻭَﻫُﻮَ ﻟِﻜُﻞِّ ﺩَٓﺍﺀٍ ﺩَﻭَٓﺍﺀٌ
, dengan menghitung lâm yang bertasydid sebagai satu huruf.
--
MUNAJAT
Yâ İlahî ve yâ Rabbî!
Melalui mata iman, pengajaran serta cahaya Al-Qur'an, pelajaran Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, dan petunjuk Asma Hakîm, aku melihat: tidak ada perputaran atau gerakan di langit yang, melalui keteraturannya, tidak mengisyaratkan serta menunjukkan Wujud-Mu.
Tidak ada benda langit yang, melalui diamnya, tugas yang dilaksanakannya tanpa suara, serta tetap berdirinya tanpa tiang, tidak bersaksi serta mengisyaratkan Rububiyah dan Keesaan-Mu.
Tidak ada bintang yang, melalui penciptaannya yang seimbang, kedudukannya yang teratur, senyumnya yang bercahaya, serta cap kemiripan dan kesamaan dengan semua bintang, tidak mengisyaratkan serta bersaksi atas Kemegahan Keilahian dan Keesaan-Mu.
Tidak ada satu planet di antara dua belas planet yang, melalui gerakannya yang penuh Hikmah, ketundukannya yang taat, tugasnya yang teratur, serta satelit-satelitnya yang penting, tidak bersaksi bahwa Wujud-Mu niscaya dan tidak mengisyaratkan Kerajaan Keilahian-Mu!
Ya, sebagaimana langit beserta para penghuninya masing-masing bersaksi sendiri-sendiri, keseluruhannya pun bersaksi dengan begitu jelas atas Wujud-Mu yang niscaya—wahai Sang Pencipta bumi dan langit!—dan begitu kuat atas Keesaan serta Ketunggalan-Mu—wahai Zat yang mengatur dan mengelola zarah-zarah bersama susunannya yang teratur, serta mengedarkan planet-planet bersama satelit-satelitnya yang tersusun, dan membuat mereka menaati Perintah-Mu!—sehingga bukti-bukti bercahaya serta dalil-dalil terang sebanyak bintang pada wajah langit membenarkan kesaksian tersebut.
Langit yang murni, bersih, serta indah ini, dari segi menampilkan keadaan pasukan yang teratur dengan benda-bendanya yang luar biasa besar dan cepat, serta keadaan perayaan kerajaan yang dihiasi lampu-lampu listrik, juga dengan jelas menunjukkan Kemegahan Rububiyah-Mu dan Keagungan Kudrat-Mu yang mengadakan setiap hal; mengisyaratkan dengan kuat keluasan tak terbatas dari Kekuasaan-Mu yang meliputi langit-langit tak berhingga dan Rahmat-Mu yang merangkul setiap makhluk bernyawa; serta bersaksi tanpa keraguan bahwa Ilmu-Mu, yang berkaitan dengan seluruh pekerjaan serta keadaan seluruh makhluk langit, menggenggam dan menatanya, meliputi setiap hal, dan bahwa Hikmah-Mu mencakup setiap pekerjaan. Kesaksian serta petunjuk itu begitu jelas, sehingga bintang-bintang seolah-olah merupakan kata-kata kesaksian dari langit yang bersaksi, serta dalil-dalil bercahaya yang mengambil bentuk nyata.
Bintang-bintang di lapangan, lautan, serta ruang langit, melalui keadaan mereka seperti prajurit-prajurit taat, kapal-kapal teratur, pesawat-pesawat luar biasa, dan lampu-lampu
menakjubkan, memperlihatkan cahaya Kerajaan Keilahian-Mu.
Melalui petunjuk dan peringatan dari tugas-tugas matahari kita, yang merupakan satu bintang dalam pasukan itu, pada planet-planetnya serta bumi kita, sebagian bintang yang menjadi kawan-kawan matahari menghadap kepada alam-alam akhirat; mereka bukan tanpa tugas, melainkan matahari-matahari bagi alam-alam yang kekal.
WAHAI WÂJIBUL WUJÛD! WAHAI ZAT YANG WÂHID LAGI AHAD!
Bintang-bintang luar biasa, matahari-matahari serta bulan-bulan menakjubkan ini ditundukkan, ditata, serta diberi tugas dalam Kerajaan-Mu, pada langit-Mu, melalui Perintah, Kekuatan, Kudrat, Pengelolaan, serta Pengaturan-Mu. Seluruh benda luhur itu bertasbih dan bertakbir kepada satu Khâliq yang menciptakan, mengedarkan, serta mengelola mereka; melalui bahasa keadaan, mereka mengucapkan, "Sübhanallah, Allahu Ekber".
Melalui seluruh tasbih mereka, aku pun menyatakan Engkau Mahasuci, wahai Sang Qadîr Dzul-Jalâl, yang tersembunyi karena begitu nyata, dan yang tertutup karena Keagungan Kebesaran-Mu!
WAHAI SANG QADÎR MUTLAK!
Melalui pelajaran Al-Qur'an Al-Hakîm milik-Mu serta pengajaran Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, aku memahami: sebagaimana langit dan bintang-bintang bersaksi atas Wujud serta Keesaan-Mu, demikian pula ruang langit, bersama awan, kilat, guruh, angin, serta hujannya, bersaksi bahwa Wujud-Mu niscaya dan bersaksi atas Keesaan-Mu.
Ya, awan yang tidak bernyawa serta tidak sadar mengirimkan hujan, yang merupakan air kehidupan, untuk menolong makhluk bernyawa yang membutuhkan; hal itu hanya dapat terjadi melalui Rahmat dan Hikmah-Mu, dan kebetulan yang kacau tidak dapat turut campur.
Kilat, yang merupakan bentuk listrik paling besar dan, dengan mengisyaratkan manfaat penerangannya, mendorong orang memanfaatkannya, juga menerangi dengan indah Kudrat-Mu di ruang langit.
Guruh, yang membawa kabar gembira datangnya hujan, membuat ruang langit yang luas berbicara, serta membuat langit bergema melalui gemuruh tasbihnya, juga berbicara melalui bahasa ucapan, menyatakan Engkau Mahasuci, dan bersaksi atas Rububiyah-Mu.
Angin-angin pun diberi banyak tugas, seperti memberikan rezeki yang paling diperlukan bagi kehidupan makhluk bernyawa dan paling mudah dimanfaatkan, memberikan napas, serta menenteramkan jiwa; dengan mengubah udara, seolah-olah melalui suatu Hikmah, menjadi "levh-i mahv ve isbat" serta "papan yang menulis, menyampaikan makna, kemudian menghapus",
angin-angin itu mengisyaratkan Kegiatan Kudrat-Mu dan bersaksi atas Wujud-Mu. Rahmat yang melalui Kasih-Mu diperah dari awan dan dikirimkan kepada makhluk bernyawa pun bersaksi atas luasnya Rahmat serta lapangnya Kasih-Mu melalui kata-kata berupa tetes-tetes yang seimbang dan teratur.
WAHAI SANG PENGATUR YANG SENANTIASA BERBUAT, DAN WAHAI SANG FAYYÂDH YANG MUTA‘ÂL!
Awan, kilat, guruh, angin, dan hujan yang bersaksi bahwa Wujud-Mu niscaya, sebagaimana masing-masing bersaksi sendiri-sendiri, keseluruhannya pun mengisyaratkan Keesaan dan Ketunggalan-Mu dengan sangat kuat; meskipun sifat-sifatnya berjauhan serta hakikatnya saling berlawanan, semuanya menyatu, bekerja bersama, saling masuk ke dalam yang lain, dan membantu tugas satu sama lain.
Sebagaimana semuanya bersaksi atas Kemegahan Rububiyah-Mu yang menjadikan ruang langit yang luas tempat berkumpulnya keajaiban serta mengisinya dan mengosongkannya beberapa kali pada hari-hari tertentu; dan atas Keagungan Kudrat-Mu yang mencakup setiap hal dan mengatur udara luas itu seperti lembaran yang ditulis lalu diubah, serta seperti spons yang diperas untuk menyirami kebun bumi; semuanya juga menunjukkan keluasan tak terbatas dan jangkauan kepada setiap hal dari Rahmat serta Kekuasaan-Mu, yang memandang dan mengelola seluruh bumi beserta makhluk-makhluknya di bawah tirai udara.
Udara di ruang langit juga digunakan dalam tugas-tugas yang begitu penuh Hikmah, dan awan serta hujan dimanfaatkan bagi manfaat-manfaat yang begitu penuh Ilmu, sehingga jika tidak ada Ilmu yang meliputi setiap hal dan Hikmah yang mencakup semuanya, penggunaan serta pemanfaatan demikian tidak dapat ada.
WAHAI FA'ALÜN LİMÂ YÜRÎD!
Kudrat-Mu, yang melalui Kegiatan-Mu di udara ruang langit senantiasa menunjukkan contoh kebangkitan serta kiamat, mengubah musim panas menjadi musim dingin dan musim dingin menjadi musim panas dalam satu jam, mendatangkan suatu alam serta mengirimkan suatu alam ke alam gaib, dan menjalankan Syuunat (keadaan dan kehendak Ilahi) seperti itu, memberikan isyarat bahwa Engkau akan mengubah dunia menjadi akhirat serta memperlihatkan Syuunat yang kekal selamanya di akhirat.
WAHAI SANG QADÎR DZUL-JALÂL!
Udara di ruang langit, awan, hujan, kilat, serta guruh ditundukkan dan diberi tugas dalam Kerajaan-Mu, melalui Perintah serta Daya-Mu, dan dengan Kekuatan serta Kudrat-Mu. Makhluk-makhluk ruang langit yang hakikatnya berjauhan ini menyatakan Sang Pemberi Perintah serta Penguasanya Mahasuci, yang membuat mereka menaati Perintah-Perintah yang sangat cepat dan seketika, serta Komando yang segera dan mendesak, dan memuji serta menyanjung Rahmat-Nya.
WAHAI SANG KHÂLIQ DZUL-JALÂL BUMI DAN LANGIT!
Melalui pengajaran Al-Qur'an Al-Hakîm milik-Mu serta pelajaran Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, aku beriman dan mengetahui: sebagaimana langit bersama bintang-bintangnya dan ruang langit bersama seluruh isinya bersaksi bahwa Wujud-Mu niscaya, serta bersaksi atas Ketunggalan dan Keesaan-Mu, demikian pula bumi, bersama seluruh makhluk serta keadaannya, memberikan kesaksian dan isyarat sebanyak segala yang ada di dalamnya atas Wujud serta Keesaan-Mu.
Ya, tidak ada perubahan di bumi, ataupun pergantian pada pohon dan hewannya, seperti mengganti pakaian setiap tahun, baik yang juz'i (yang sebagian) maupun yang menyeluruh, yang tidak mengisyaratkan Wujud serta Keesaan-Mu melalui keteraturannya.
Tidak ada hewan yang, melalui rezeki penuh Kasih yang diberikan sesuai dengan tingkat kelemahan serta kebutuhannya, dan melalui Pemberian perangkat yang diperlukan bagi kehidupannya dengan Hikmah, tidak bersaksi atas Wujud serta Ketunggalan-Mu.
Tidak ada satu pun tumbuhan atau hewan yang diadakan setiap musim semi di hadapan mata kita, yang tidak memperkenalkan-Mu melalui seni yang menakjubkan, perhiasan yang lembut, ciri pembeda yang sempurna, keteraturan, serta keseimbangannya.
Keajaiban serta mukjizat Kudrat-Mu yang memenuhi wajah bumi dan disebut tumbuhan serta hewan, melalui penciptaannya yang tanpa salah, sempurna, berhias, dan mempunyai ciri pembeda, dari telur, telur kecil, tetes, butir, butir kecil, serta biji yang terbatas, bahannya satu dan saling serupa, memberikan kesaksian yang lebih kuat serta terang daripada kesaksian cahaya atas matahari, tentang Wujud, Keesaan, Hikmah, serta Kudrat tak terbatas Sang Pembuat Yang Hakîm.
Tidak ada satu unsur pun, seperti udara, air, cahaya, api, atau tanah, yang tidak bersaksi atas Ketunggalan serta Wujud-Mu: meskipun tidak sadar, semuanya menjalankan tugas-tugas sempurna seolah-olah sadar; meskipun sederhana, menjangkau semuanya, tidak teratur, dan tersebar ke setiap tempat, semuanya mendatangkan buah serta hasil yang sangat teratur dan beragam dari khazanah gaib.
WAHAI SANG FÂTHIR YANG QADÎR! WAHAI SANG FATTÂH YANG 'ALLÂM! WAHAI SANG FA'ÂL YANG KHALLÂQ!
Sebagaimana bumi, bersama seluruh penghuninya, bersaksi bahwa Khâliq-nya adalah Wâjibul Wujûd, demikian pula ia bersaksi dengan jelas atas Keesaan dan Ahadiyah-Mu—wahai Zat Yang Wâhid lagi Ahad! Wahai Sang Hannân Yang Mannân! Wahai Sang Wahhâb Yang Razzâq!—melalui cap pada wajahnya, cap-cap pada wajah para penghuninya, serta kesatuan, kebersamaan,
saling masuk, saling membantu, dan kesatuan Asma serta Perbuatan Rububiyah yang menghadap kepada mereka; bahkan ia memberikan kesaksian sebanyak segala yang ada.
Sebagaimana bumi, melalui keadaan sebagai perkemahan pasukan, pameran, serta tempat latihan, dan melalui pemberian perangkat-perangkat yang berbeda-beda secara teratur kepada empat ratus ribu bangsa yang beragam dalam kelompok tumbuhan serta hewan, menunjukkan Kemegahan Rububiyah-Mu dan Jangkauan Kudrat-Mu kepada setiap hal; demikian pula, pemberian rezeki yang berbeda-beda kepada seluruh makhluk bernyawa yang tak terbatas, tepat pada waktunya, dari tanah kering serta sederhana, dengan Rahmat dan Kemuliaan, dan ketaatan individu-individu tak terbatas itu dengan ketundukan sempurna kepada Perintah Rabb, menunjukkan luasnya Rahmat-Mu kepada setiap hal dan Cakupan Kekuasaan-Mu atas semuanya.
Pengerahan serta pengelolaan kafilah-kafilah makhluk yang berganti di bumi, pergiliran kematian dan kehidupan, serta pengelolaan dan pengaturan hewan serta tumbuhan pun hanya dapat terjadi melalui Ilmu yang berkaitan dengan setiap hal dan Hikmah tak berhingga yang berkuasa pada semuanya; hal itu menunjukkan Cakupan Ilmu serta Hikmah-Mu.
Bagi manusia yang menjalankan tugas-tugas tak terbatas dalam waktu singkat di bumi, dilengkapi potensi serta perangkat maknawi seolah-olah akan hidup dalam waktu tak terbatas, dan mengatur segala yang ada di bumi; perhatian yang begitu besar, biaya tak terbatas, Tajalli (tampak nyata) Rububiyah tak berhingga, sapaan-sapaan Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci yang tak terbatas, serta anugerah Ilahi tanpa akhir, dalam tempat latihan dunia, perkemahan sementara bumi, serta pameran sementara ini, tentu dan dalam keadaan apa pun tidak dapat termuat dalam umur yang sangat singkat serta menyedihkan ini, kehidupan yang kacau dan penuh duka ini, maupun dunia yang penuh musibah serta fana ini. Semuanya hanya dapat ditujukan bagi umur yang lain dan kekal selamanya, serta negeri kebahagiaan yang kekal; karena itu, semuanya mengisyaratkan, bahkan bersaksi atas anugerah-anugerah akhirat dalam alam yang kekal.
WAHAI SANG KHÂLIQ SEGALA SESUATU!
Seluruh makhluk bumi dikelola dan ditundukkan dalam Kerajaan-Mu, di bumi-Mu, melalui Daya serta Kekuatan-Mu, Kudrat serta Kehendak-Mu, dan Ilmu serta Hikmah-Mu. Rububiyah yang kegiatannya disaksikan pada permukaan bumi menunjukkan Cakupan serta Jangkauan demikian; Pengelolaan, Pengaturan, dan Pemeliharaan-Nya begitu sempurna serta teliti, dan Pelaksanaan-Nya di segala penjuru berada dalam kesatuan, kebersamaan, serta kemiripan demikian, sehingga semuanya menunjukkan Pengaturan dan Rububiyah yang berupa keutuhan yang tidak menerima pemecahan, serta yang bersifat menyeluruh dan