mustahil dibagi.
Bumi, bersama seluruh penghuninya, melalui lisan-lisan tak terbatas yang lebih jelas daripada bahasa ucapan, menyatakan Khâliq-nya Mahasuci serta bertasbih kepada-Nya, dan melalui bahasa keadaan dari nikmat-nikmat tak berhingga-Nya, memuji serta menyanjung Razzâq Dzul-Jalâl mereka.
Wahai Zat Yang Mahasuci, yang tersembunyi karena begitu nyata dan tertutup karena Keagungan Kebesaran-Mu!
Melalui seluruh ungkapan bumi yang menyatakan Engkau Suci serta tasbihnya, aku menyatakan Engkau Mahasuci dari kekurangan, keadaan tak berdaya, dan sekutu; melalui seluruh pujian serta sanjungannya, aku memuji dan bersyukur kepada-Mu.
WAHAI RABBÜ'L-BERRİ VE'L-BAHR!
Melalui pelajaran Al-Qur'an serta pengajaran Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, aku memahami: sebagaimana langit, ruang langit, dan bumi bersaksi atas Ketunggalan serta Wujud-Mu, demikian pula laut, sungai, mata air, serta aliran air bersaksi dengan jelas bahwa Wujud-Mu niscaya dan bersaksi atas Keesaan-Mu.
Ya, di dalam laut-laut yang menjadi periuk uap sumber keajaiban dunia kita, tidak ada satu wujud pun, bahkan satu tetes air, yang tidak memperkenalkan Khâliq-nya melalui wujud, keteraturan, manfaat, serta keadaannya.
Tidak ada satu pun makhluk menakjubkan yang rezekinya diberikan secara sempurna dalam pasir dan air yang sederhana, ataupun hewan laut yang penciptaannya sangat teratur, terutama ikan yang satu ekor darinya meramaikan laut melalui sejuta telur kecil, yang tidak mengisyaratkan Sang Penciptanya dan bersaksi atas Razzâq-nya melalui penciptaan, tugas, pengelolaan, pemberian makanan, pengaturan, serta pemeliharaannya.
Tidak ada satu pun batu permata di laut yang berharga, mempunyai ciri istimewa, serta berhias, yang tidak mengenal dan memperkenalkan-Mu melalui penciptaan yang indah, fitrah yang menarik, serta sifat yang bermanfaat.
Ya, sebagaimana semuanya bersaksi sendiri-sendiri, keseluruhannya pun bersaksi atas Keesaan-Mu melalui kebersamaan, percampuran satu dengan yang lain, kesatuan cap penciptaan, kemudahan yang amat besar dalam pengadaan, serta kelimpahan individu. Samudra-samudra yang mengelilingi bumi ini pun, melalui tetap tergantungnya bersama tanah bumi dan diedarkannya mengelilingi matahari tanpa tumpah,
tanpa tercerai, dan tanpa dibiarkan menyerbu daratan; melalui diciptakannya hewan-hewan serta permata yang beragam dan teratur dari pasir serta airnya yang sederhana; melalui pengelolaan bekal serta urusan lainnya secara menyeluruh dan sempurna, serta diperhatikannya pengaturan mereka; dan melalui tidak adanya satu pun jenazah tak terbatas yang seharusnya terdapat pada permukaannya, memberikan isyarat serta kesaksian sebanyak segala yang ada di dalamnya atas Wujud-Mu dan bahwa Engkau adalah Wâjibul Wujûd.
Sebagaimana semuanya dengan sangat jelas menunjukkan Kemegahan Kerajaan Rububiyah-Mu serta Keagungan Kudrat-Mu yang meliputi setiap hal, semuanya menunjukkan keluasan tak terbatas dari Rahmat serta Kekuasaan-Mu, yang menjangkau dan berkuasa atas setiap hal, dari bintang-bintang yang sangat besar serta teratur di atas langit hingga ikan-ikan yang sangat kecil dan diberi makanan dengan teratur di dasar laut; melalui keteraturan, manfaat, hikmah, keseimbangan, serta ukuran mereka, semuanya mengisyaratkan Ilmu-Mu yang meliputi setiap hal dan Hikmah-Mu yang mencakup semuanya.
Adanya kolam-kolam Rahmat-Mu demikian bagi para pengembara di rumah tamu dunia ini, serta ditundukkannya untuk perjalanan, pelayaran, kapal, dan pemanfaatan manusia, menunjukkan bahwa Zat yang memuliakan tamu-tamu satu malam dengan begitu banyak hadiah laut di penginapan yang dibangun di tepi jalan, tentu menyediakan lautan-lautan Rahmat yang kekal demikian di pusat Kerajaan-Nya yang abadi; laut-laut di sini merupakan contoh-contohnya yang fana dan kecil.
Keadaan laut yang sangat luar biasa serta menakjubkan di sekeliling bumi, dan pengelolaan serta pemeliharaan makhluk-makhluknya yang sangat teratur, dengan jelas menunjukkan bahwa hanya melalui Kekuatan dan Kudrat-Mu, Kehendak serta Pengaturan-Mu, semuanya ditundukkan kepada Perintah-Mu dalam Kerajaan-Mu. Melalui bahasa keadaan, semuanya menyatakan Khâliq-nya Mahasuci serta mengucapkan, "Allahu Ekber".
WAHAI SANG QADÎR DZUL-JALÂL YANG MENJADIKAN GUNUNG SEBAGAI TIANG-TIANG DENGAN PERBENDAHARAAN BAGI KAPAL BUMI!
Melalui pengajaran Rasul Yang Paling Mulia ﷺ serta pelajaran Al-Qur'an Al-Hakîm milik-Mu, aku memahami: sebagaimana laut mengenal dan memperkenalkan-Mu melalui keajaiban-keajaibannya, demikian pula gunung mengenal serta memperkenalkan-Mu melalui khidmah dan hikmahnya bagi ketenangan bumi dari pengaruh gempa, diamnya dari badai perubahan dalam perutnya, keselamatannya dari serbuan laut, dan pembersihan udara dari gas-gas
berbahaya, serta bagi penjagaan dan penyimpanan air, dan penyediaan perbendaharaan mineral yang diperlukan makhluk bernyawa.
Ya, tidak ada satu pun jenis batu di gunung, golongan bahan yang menjadi obat berbagai penyakit, jenis mineral yang sangat beragam serta amat diperlukan makhluk bernyawa, terutama manusia, ataupun golongan tumbuhan yang menghias gunung dan dataran dengan bunganya serta menghidupkannya dengan buahnya, yang tidak bersaksi dengan jelas bahwa Wujud Sang Pembuat Yang Qadîr tanpa batas, Hakîm tanpa batas, serta Rahîm dan Karîm tanpa batas itu niscaya, melalui hikmah yang tidak mungkin diserahkan kepada kebetulan, keteraturan, keindahan penciptaan, serta manfaatnya; terutama melalui rasa mineral seperti garam, asam sitrat, kina sulfat, dan tawas yang sangat berbeda, meskipun rupanya saling mirip, serta melalui berbagai jenis tumbuhan, dengan bunga dan buahnya yang berbeda-beda, dari tanah yang sederhana. Keseluruhan semuanya pun bersaksi atas Keesaan serta Ahadiyah Sang Pembuat itu, melalui kesatuan Pengelolaan dan Pengaturan, kesamaan serta kesatuan sumber, tempat tinggal, penciptaan, dan seni, serta murahnya, mudahnya, banyaknya, dan cepatnya pembuatan.
Sebagaimana dibuatnya ciptaan-ciptaan di wajah serta perut gunung pada segala penjuru bumi, setiap jenis pada waktu dan dengan cara yang sama, tanpa salah, dengan sangat sempurna serta cepat, dan diadakannya tanpa tertukar ketika bercampur dengan jenis-jenis lain, tanpa satu pekerjaan menghalangi pekerjaan yang lain, menunjukkan Kemegahan Rububiyah-Mu serta Keagungan Kudrat-Mu yang tidak diberatkan oleh suatu apa pun;
demikian pula, diisinya wajah serta perut gunung dengan pohon, tumbuhan, dan mineral yang teratur, serta ditundukkannya bagi yang membutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan tak terbatas seluruh makhluk bernyawa di permukaan bumi, bahkan keperluan mereka menghadapi penyakit yang beragam, serta memuaskan selera yang berbeda dan nafsu makan yang berlainan, menunjukkan keluasan tak terbatas Rahmat-Mu dan keluasan tak berhingga Kekuasaan-Mu. Meskipun tersembunyi, gelap, dan bercampur dalam lapisan tanah, semuanya disiapkan dengan Ilmu, Penglihatan, tanpa keliru, secara teratur, serta sesuai dengan kebutuhan; hal itu dengan sangat jelas mengisyaratkan dan menunjukkan Cakupan Ilmu-Mu yang berkaitan dengan setiap hal, Jangkauan Hikmah-Mu yang menata semuanya, dan, melalui penyiapan obat serta penyimpanan bahan mineral, Keindahan Pengaturan Rububiyah-Mu yang penuh Rahmat serta Kemuliaan, serta kelembutan Pertolongan-Mu yang menyediakan cadangan.
Gunung-gunung yang besar pun, sebagai gudang cadangan yang teratur untuk bekal dan kebutuhan masa depan tamu-tamu pengembara di penginapan dunia ini, tempat penyimpanan perangkat, serta gudang sempurna bagi banyak khazanah yang diperlukan kehidupan, mengisyaratkan, bahkan menunjukkan, bahkan bersaksi bahwa Sang Pembuat yang begitu Karîm dan Memuliakan tamu, begitu Hakîm dan Memelihara kasih, serta begitu Qadîr dan Menjalankan Rububiyah, tentu dan dalam keadaan apa pun mempunyai khazanah-khazanah abadi dari anugerah-Nya yang abadi dalam alam yang abadi, bagi tamu-tamu yang sangat Dia Cintai. Di sana, bintang-bintang menjalankan tugas tersebut sebagai ganti gunung-gunung di sini.
WAHAI SANG QADÎR ATAS SEGALA SESUATU!
Gunung dan makhluk-makhluk di dalamnya ditundukkan serta disimpan dalam Kerajaan-Mu, melalui Kekuatan dan Kudrat-Mu, serta Ilmu dan Hikmah-Mu. Semuanya menyatakan Khâliq-nya Mahasuci dan bertasbih kepada-Nya, yang memberi tugas serta menundukkan mereka dengan cara demikian.
WAHAI SANG KHÂLIQ YANG RAHMÂN! DAN WAHAI RABB YANG RAHÎM!
Melalui pengajaran Rasul Yang Paling Mulia ﷺ serta pelajaran Al-Qur'an Al-Hakîm, aku memahami: sebagaimana langit, ruang langit, bumi, laut, serta gunung, bersama seluruh isi dan makhluknya, mengenal serta memperkenalkan-Mu, demikian pula seluruh pohon dan tumbuhan di bumi, bersama daun, bunga, serta buahnya, memperkenalkan-Mu dengan jelas dan mengenal-Mu.
Setiap daun dari seluruh pohon serta tumbuhan, yang bergerak dengan menarik dalam zikir; setiap bunga yang melalui perhiasannya menggambarkan serta memperkenalkan Asma Sang Pembuatnya; dan setiap buah yang tersenyum melalui kelembutan serta manifestasi Kasih, memberikan kesaksian yang jelas bahwa Wujud Sang Pembuat Yang Rahîm serta Karîm tanpa batas itu niscaya, melalui keteraturan dalam seni menakjubkan, keseimbangan dalam keteraturan, perhiasan dalam keseimbangan, ukiran dalam perhiasan, aroma-aroma indah serta berbeda dalam ukiran, dan rasa buah yang beragam dalam aroma-aroma itu, yang sama sekali tidak mungkin diserahkan kepada kebetulan. Keseluruhannya pun bersaksi dengan jelas atas Keesaan serta Ahadiyah Sang Pembuat Yang Wâjibul Wujûd, melalui kesatuan dan kebersamaan pada seluruh permukaan bumi, kemiripan satu dengan yang lain, kesamaan cap penciptaan, hubungan Pengaturan serta Pengelolaan, kesesuaian Perbuatan penciptaan dan Asma Rabb yang berkaitan dengan mereka, serta pengelolaan individu-individu tak terbatas dari seratus ribu jenis itu sekaligus di tengah satu sama lain, tanpa keliru.
Sebagaimana semuanya bersaksi bahwa Wujud-Mu niscaya serta bersaksi atas Keesaan-Mu, demikian pula, melalui pemberian makanan serta pengelolaan individu-individu tak terbatas dalam pasukan makhluk bernyawa yang tersusun dari empat ratus ribu bangsa di wajah bumi, dalam ratusan ribu cara, secara sempurna, tanpa keliru atau tertukar, semuanya menunjukkan Kemegahan Rububiyah-Mu dalam Keesaan, Keagungan Kudrat-Mu yang mengadakan satu musim semi semudah sekuntum bunga, serta Kaitan Kudrat-Mu dengan setiap hal. Semuanya menunjukkan keluasan tak terbatas Rahmat-Mu yang menyediakan beragam jenis makanan tak terbatas bagi hewan-hewan serta manusia yang tak terbatas di setiap penjuru bumi yang besar; bersamaan dengan itu, karena Pekerjaan, Pemberian, Pengelolaan, Pemberian makanan, serta Pelaksanaan tak terbatas itu berjalan dengan keteraturan sempurna, dan karena setiap hal, bahkan zarah, menaati serta tunduk kepada Perintah dan Pelaksanaan itu, semuanya dengan pasti menunjukkan keluasan tak terbatas Kekuasaan-Mu. Setiap sesuatu serta setiap pekerjaan dari masing-masing pohon, tumbuhan, daun, bunga, buah, akar, cabang, dan ranting itu dibuat dengan Ilmu serta Penglihatan, sesuai dengan manfaat, kebaikan, dan hikmah; melalui semua itu, semuanya dengan sangat jelas menunjukkan serta dengan jari-jari tak terbatas mengisyaratkan bahwa Ilmu-Mu meliputi setiap hal dan Hikmah-Mu mencakup semuanya. Dengan lisan-lisan tak terbatas, semuanya menyanjung serta memuji Keindahan Seni-Mu yang sangat sempurna dan Kesempurnaan Nikmat-Mu yang sangat indah.
Anugerah serta nikmat yang begitu berharga, biaya serta jamuan yang begitu luar biasa, melalui tangan-tangan pohon dan tumbuhan, di penginapan sementara serta rumah tamu fana ini, dalam waktu singkat dan umur yang sedikit, mengisyaratkan, bahkan bersaksi bahwa:
Zat Yang Rahîm, Berkuasa, serta Dermawan, yang memberikan Rahmat demikian kepada tamu-tamu-Nya di sini, tentu dan dalam keadaan apa pun telah menyediakan pohon-pohon berbuah serta tumbuhan-tumbuhan berbunga, dalam alam yang abadi dan negeri yang abadi, dari khazanah Rahmat-Nya yang abadi, dalam surga-surga-Nya yang abadi, bagi hamba-hamba-Nya yang akan Dia Biarkan tetap ada untuk selamanya, dengan cara yang abadi dan layak bagi surga. Sebab, Dia tidak menjadikan seluruh biaya serta anugerah-Nya berlawanan dengan hasil berupa membuat Diri-Nya dicintai dan dikenal, yakni agar seluruh makhluk tidak berkata atau dibuat berkata, "Dia memberi kami cicipan, tetapi membinasakan kami tanpa memberi kami makan"; Dia tidak menjatuhkan Kerajaan Keilahian-Nya, tidak mengingkari atau membuat orang mengingkari Rahmat-Nya yang tak berhingga, dan tidak mengubah seluruh sahabat yang merindukan-Nya menjadi musuh karena mereka tidak memperoleh bagiannya. Yang terdapat di sini hanya contoh-contoh untuk diperlihatkan kepada para pembeli.
Sebagaimana pohon serta tumbuhan secara keseluruhan menyatakan Engkau Mahasuci, bertasbih, dan memuji-Mu melalui kata-kata daun, bunga, serta buahnya,
setiap kata itu pun menyatakan Engkau Mahasuci secara tersendiri. Terutama, melalui dibuatnya buah dalam bentuk yang menakjubkan, dengan daging yang sangat beragam, seni yang sangat luar biasa, serta biji-biji yang sangat menakjubkan; lalu melalui diberikannya nampan-nampan makanan itu ke tangan pohon dan ditempatkannya di kepala tumbuhan, untuk dikirimkan kepada tamu-tamu bernyawa, tasbih mereka yang berupa bahasa keadaan mencapai tingkat bahasa ucapan dari segi jelasnya. Seluruhnya ditundukkan dalam Kerajaan-Mu, melalui Kekuatan dan Kudrat-Mu, Kehendak serta anugerah-Mu, dan Rahmat serta Hikmah-Mu; semuanya menaati setiap Perintah-Mu.
Wahai Sang Pembuat Yang Hakîm dan Sang Khâliq Yang Rahîm, yang tersembunyi karena begitu nyata serta tertutup karena Kebesaran Keagungan-Mu!
Melalui lisan serta jumlah seluruh pohon dan tumbuhan, seluruh daun, bunga, serta buah, aku memuji dan menyanjung-Mu dengan menyatakan Engkau Mahasuci dari kekurangan, keadaan tak berdaya, serta sekutu.
WAHAI SANG FÂTHIR YANG QADÎR! WAHAI SANG MUDABBIR YANG HAKÎM! WAHAI SANG MURABBÎ YANG RAHÎM!
Melalui pengajaran Rasul Yang Paling Mulia ﷺ serta pelajaran Al-Qur'an Al-Hakîm, aku memahami dan beriman: sebagaimana tumbuhan serta pohon mengenal-Mu dan memperkenalkan Sifat-Sifat Suci serta Asmaulhusna-Mu, demikian pula, di antara makhluk bernyawa yang mempunyai ruh, tidak ada satu manusia atau hewan pun yang tidak bersaksi bahwa Wujud-Mu niscaya serta Sifat-Sifat-Mu nyata, melalui organ-organ dalam dan luarnya, yang bekerja serta dijalankan seperti jam-jam yang sangat teratur; melalui alat serta perasaan yang ditempatkan dalam tubuhnya dengan susunan yang sangat halus, keseimbangan yang sangat teliti, serta manfaat yang sangat penting; dan melalui perangkat-perangkat tubuh yang dipasang dalam dirinya dengan pembuatan yang sangat penuh seni, penataan yang sangat penuh Hikmah, serta keseimbangan yang sangat cermat.
Sebab, kekuatan yang buta, tabiat yang tidak sadar, serta kebetulan yang liar tentu tidak dapat turut campur dalam seni halus yang dilakukan dengan Penglihatan, Hikmah lembut yang dilakukan dengan Kesadaran, serta keseimbangan sempurna yang dilakukan dengan Pengaturan demikian; semuanya tidak dapat menjadi pekerjaan mereka dan tidak mungkin demikian. Terbentuk dengan sendirinya dan menjadi demikian pun seratus derajat mustahil di dalam hal yang mustahil. Sebab, dalam keadaan itu, setiap zarah pada tubuh makhluk tersebut harus mengetahui dan melihat segala hal pada makhluk itu serta bagaimana tubuhnya terbentuk, bahkan segala hal di dunia yang berkaitan dengan makhluk itu; zarah tersebut juga harus mampu membuat semuanya. Ia harus mempunyai ilmu serta kuasa yang meliputi semuanya, seolah-olah sesembahan. Barulah tugas membentuk tubuh dapat diserahkan kepadanya dan dikatakan, "Terjadi dengan sendirinya."
Tidak ada satu pun di antara keadaan-keadaan pada keseluruhannya, berupa kesatuan Pengaturan, kesatuan Pengelolaan, kesatuan jenis, kesatuan golongan, kesatuan cap fitrah yang disaksikan melalui kesamaan titik-titik seperti mata, telinga, serta mulut pada seluruh wajah, kesatuan cap Hikmah yang terlihat pada wajah individu-individu setiap jenis, kebersamaan dalam pemberian makanan serta pengadaan, dan saling berada di dalam yang lain, yang tidak memberikan kesaksian pasti atas Keesaan-Mu. Pada setiap individunya juga terdapat manifestasi seluruh Asma yang menghadap kepada kainat; melalui hal itu, dalam Wâhidiyah, semuanya mengisyaratkan Ahadiyah-Mu.
Sebagaimana seratus ribu jenis hewan, bersama manusia, tersebar di seluruh permukaan bumi, dilengkapi seperti pasukan yang teratur, diberi petunjuk, taat, serta ditundukkan; dan Perintah Rububiyah terlaksana secara teratur pada mereka, dari yang terkecil sampai yang terbesar, semuanya menunjukkan betapa Megah Rububiyah-Mu. Meskipun sangat banyak, mereka sangat berharga; meskipun sangat sempurna, mereka dibuat sangat cepat; meskipun penuh seni, mereka dibuat dengan sangat mudah. Semua itu menunjukkan betapa Agung Kudrat-Mu. Demikian pula, mereka menunjukkan dengan pasti betapa luas Rahmat-Mu yang tiada batas, yang menyampaikan rezeki kepada semuanya: dari mikroba sampai badak, dari lalat terkecil sampai burung terbesar, yang tersebar dari timur sampai barat dan dari utara sampai selatan. Setiap hewan menjalankan tugas fitrinya seperti prajurit yang menaati perintah; dan setiap musim semi, permukaan bumi menjadi perkemahan suatu pasukan yang baru dipanggil untuk bertugas, menggantikan mereka yang dibebastugaskan pada musim gugur. Melalui hal ini, mereka menunjukkan dengan pasti betapa luas Kekuasaan-Mu yang tiada akhir.
Sebagaimana setiap hewan, yang merupakan salinan kecil serta contoh mini kainat, dibuat dengan Ilmu yang sangat mendalam dan Hikmah yang sangat teliti—tanpa mencampuradukkan bagian-bagian yang beragam, tanpa tertukar dalam membentuk rupa setiap hewan, tanpa kesalahan, kekeliruan, maupun kekurangan—mereka memberikan isyarat sebanyak jumlah mereka bahwa Ilmu-Mu meliputi setiap hal dan Hikmah-Mu mencakup setiap hal.
Demikian pula, setiap hewan dibuat begitu indah dan penuh seni sehingga menjadi mukjizat seni serta keajaiban Hikmah. Dengan itu, mereka mengisyaratkan indahnya Seni Rabb yang sempurna, yang sangat Engkau cintai serta ingin Engkau tampilkan. Setiap hewan, terutama anak-anaknya, diberi makan dengan begitu lembut serta penuh kasih, dan keinginan serta hasrat mereka dipenuhi. Melalui hal ini, mereka memberikan isyarat tak terbatas kepada Keindahan Pertolongan-Mu yang sangat manis.
WAHAI RAHMANU'R-RAHÎM! WAHAI SADIKU'L-VA'Dİ'L-EMİN! WAHAI MÂLİK-İ YEVMİ'D-DİN!
Melalui pengajaran Rasul Yang Paling Mulia-Mu ﷺ serta bimbingan Al-Qur'an Al-Hakîm milik-Mu, aku memahami: karena hasil paling terpilih dari kainat ialah kehidupan; inti paling terpilih dari kehidupan ialah ruh; bagian paling terpilih dari makhluk berjiwa ialah makhluk yang memiliki kesadaran; dan yang paling lengkap di antara makhluk yang memiliki kesadaran ialah manusia. Seluruh kainat ditundukkan bagi kehidupan serta bekerja untuknya. Makhluk hidup ditundukkan bagi makhluk berjiwa dan dikirim ke dunia untuk mereka. Makhluk berjiwa ditundukkan bagi manusia serta membantu mereka. Secara fitri, manusia sangat sungguh-sungguh mencintai Khâliq-nya; Khâliq mereka pun mencintai mereka serta membuat Diri-Nya dicintai oleh mereka melalui setiap sarana. Potensi serta perangkat maknawi manusia mengarah kepada alam lain yang kekal dan kehidupan abadi. Hati serta kesadaran manusia, dengan seluruh dayanya, menginginkan hidup kekal. Lidahnya, melalui doa-doa yang tak terbatas, memohon kepada Khâliq-nya agar dapat hidup kekal.
Maka, tentu dan dalam keadaan apa pun, tidak mungkin serta tidak dapat terjadi bahwa manusia yang begitu mencintai serta dicintai, yang menjadi kekasih serta pencinta, dimatikan tanpa dihidupkan kembali; lalu, meskipun diciptakan untuk cinta yang abadi, dibuat kecewa melalui permusuhan yang abadi. Sebaliknya, manusia dikirim ke dunia ini untuk bekerja serta memperoleh kehidupan bahagia di alam lain yang abadi. Asma yang menampakkan Tajalli pada manusia mengisyaratkan, melalui manifestasinya dalam kehidupan yang fana serta singkat ini, bahwa manusia, yang menjadi cermin Asma itu, akan menerima manifestasinya yang abadi di alam yang kekal.
Ya, sahabat setia Zat Yang Abadi akan hidup abadi. Cermin yang memiliki kesadaran dari Sang Bâqî pun harus tetap ada.
Riwayat-riwayat sahih menunjukkan bahwa ruh hewan akan tetap ada; beberapa hewan tertentu, seperti burung hudhud serta semut Nabi Sulaiman (A.S.), unta Nabi Salih (A.S.), dan anjing Ashabulkahfi, akan pergi ke alam yang kekal dengan ruh serta jasadnya. Setiap jenis hewan juga akan memiliki satu jasad untuk digunakan dari waktu ke waktu. Selain ditunjukkan oleh riwayat-riwayat sahih, hal ini dituntut oleh Hikmah serta hakikat, juga Rahmat serta Rububiyah.
WAHAI SANG QADÎR YANG QAYYÛM!
Seluruh makhluk hidup, makhluk berjiwa, serta makhluk yang memiliki kesadaran berada dalam Kerajaan-Mu. Hanya dengan Daya serta Kudrat-Mu, dan hanya dengan Kehendak serta Pengaturan-Mu, juga Rahmat serta Hikmah-Mu, mereka ditundukkan kepada Perintah Rububiyah-Mu serta diberi tugas-tugas fitri. Sebagian dari mereka ditundukkan kepada manusia oleh Rahmat, karena secara fitri manusia
lemah serta tidak berdaya, bukan karena kekuatan maupun keunggulannya. Melalui bahasa keadaan serta bahasa ucapan, mereka menyatakan Sang Pembuat serta Ma'bûd mereka Mahasuci dari kekurangan dan sekutu, bersyukur serta memuji atas nikmat-nikmat-Nya, dan masing-masing menjalankan ibadah khususnya.
Wahai Zat Yang Mahasuci, yang tersembunyi karena begitu nyata dan tertutup karena Keagungan Kebesaran-Mu!
Dengan niat menyatakan Engkau Mahasuci melalui tasbih seluruh makhluk berjiwa, aku mengucapkan
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﺟَﻌَﻞَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَٓﺎﺀِ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺣَﻰٍّ
.
Yâ Rabbe'l-Âlemîn! Yâ İlahe'l-Evvelîne Ve'l-Âhirîn! Yâ Rabbe's-Semavat-ı Ve'l-Aradîn!
Melalui pengajaran Rasul Yang Paling Mulia ﷺ serta pelajaran Al-Qur'an Al-Hakîm, aku memahami dan beriman: sebagaimana langit, ruang langit, bumi, daratan, lautan, pepohonan, tumbuhan, serta hewan, melalui individu, bagian, serta zarah mereka, mengetahui serta mengenal-Mu, dan bersaksi, menunjukkan, serta mengisyaratkan Wujud dan Keesaan-Mu; demikian pula, makhluk hidup merupakan inti kainat, manusia merupakan inti makhluk hidup, dan hati serta akal merupakan inti para nabi, wali, serta orang-orang suci pilihan, yang menjadi inti manusia. Melalui apa yang mereka saksikan, apa yang tersingkap bagi mereka, ilham, serta kesimpulan yang mereka tarik, hati serta akal mereka bersaksi dan memberitakan bahwa Wujud-Mu niscaya, serta bersaksi atas Keesaan dan Ahadiyah-Mu, dengan kepastian sekuat ratusan ijmak dan ratusan tawatur. Melalui mukjizat, karamah, serta bukti yang pasti, mereka membuktikan berita mereka.
Ya, tidak ada satu pun dari semua hal berikut yang tidak memberikan kesaksian, petunjuk, serta isyarat tentang Wujud-Mu yang niscaya, Sifat-Sifat Suci-Mu, Keesaan dan Ahadiyah-Mu, serta Asmaulhusna-Mu: lintasan gaib dalam hati yang mengarah kepada Zat Yang memberi peringatan di balik tabir gaib; ilham yang benar yang mengarahkan pandangan kepada Zat Yang memberi ilham; keyakinan pasti yang menyingkap Sifat-Sifat Suci serta Asmaulhusna-Mu dengan haqqulyaqin; hati bercahaya dalam diri para nabi serta wali yang menyaksikan Cahaya Wâjibul Wujûd dengan ainulyaqin; ataupun akal yang terang dalam diri orang-orang suci pilihan serta siddiqin yang membenarkan dan membuktikan dengan ilmulyaqin tanda-tanda bahwa Wujud Khâliq segala sesuatu niscaya serta bukti-bukti Keesaan-Nya.
Terutama, tidak ada mukjizat yang terang yang membenarkan berita Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, imam, pemimpin, serta inti seluruh nabi, wali, orang-orang suci pilihan, dan siddiqin; tidak ada hakikat luhur yang menunjukkan
kebenarannya; dan tidak ada ayat tauhid yang pasti ataupun persoalan suci mengenai iman dalam Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, inti dari segala inti kitab yang suci serta benar; melainkan semuanya bersaksi, menunjukkan, serta mengisyaratkan bahwa Wujud-Mu niscaya, serta bersaksi atas Sifat-Sifat Suci-Mu, Keesaan dan Ahadiyah-Mu, juga Asma serta Sifat-Mu.
Sebagaimana seluruh ratusan ribu pembawa berita yang benar itu bersaksi atas Wujud serta Keesaan-Mu dengan bersandar pada mukjizat, karamah, dan hujah mereka; demikian pula, melalui ijmak serta kesepakatan, mereka mengumumkan, memberitakan, serta membuktikan betapa Megah Rububiyah-Mu. Rububiyah itu berlangsung dari pengelolaan urusan-urusan menyeluruh Arasy Agung yang meliputi setiap hal, sampai mengetahui, mendengar, serta mengelola lintasan pikiran, keinginan, dan doa yang sangat tersembunyi serta kecil dalam hati. Mereka juga mengumumkan, memberitakan, serta membuktikan betapa Agung Kudrat-Mu, yang menciptakan sekaligus berbagai benda tak terbatas di depan mata kita—tanpa satu Perbuatan menghalangi Perbuatan lain, maupun satu Pekerjaan menghalangi Pekerjaan lain—dan yang membuat sesuatu yang paling besar semudah membuat lalat terkecil.
Sebagaimana mereka memberitakan, lalu membuktikan melalui mukjizat serta hujah, betapa luas Rahmat-Mu yang tiada batas: Rahmat yang menjadikan kainat ini seperti istana sempurna bagi makhluk berjiwa, terutama manusia; menyiapkan surga serta kebahagiaan abadi bagi jin dan manusia; tidak melupakan makhluk hidup terkecil; serta berusaha memuaskan dan menyenangkan hati yang paling tidak berdaya. Mereka juga memberitakan serta membuktikan betapa luas Kekuasaan-Mu yang tiada akhir, yang membuat seluruh jenis makhluk—dari zarah sampai planet—menaati Perintah-Mu, menundukkan mereka, serta memberi mereka tugas. Demikian pula, mereka bersaksi, menunjukkan, dan mengisyaratkan, melalui ijmak serta kesepakatan, bahwa Ilmu-Mu meliputi setiap hal. Ilmu itu menjadikan kainat seperti kitab besar yang memuat risalah sebanyak bagian-bagiannya; mencatat serta menulis seluruh perjalanan segala yang ada dalam Imâm Mubîn dan Kitâb Mubîn, buku-buku catatan Lauh Mahfuz; menuliskan dengan teratur serta tanpa kesalahan daftar dan tata kerja setiap pohon dalam benihnya, juga riwayat hidup para pemiliknya dalam seluruh daya ingat pada kepala makhluk yang memiliki kesadaran.
Mereka juga bersaksi bahwa Hikmah Suci-Mu mencakup setiap hal: Hikmah yang memasangkan banyak tujuan pada setiap wujud, bahkan memberikan hasil pada setiap pohon sebanyak buahnya; mengejar manfaat dalam setiap makhluk hidup sebanyak anggota tubuhnya, bahkan sebanyak bagian serta selnya; dan, sambil memberi banyak tugas kepada lidah manusia, melengkapinya dengan timbangan-timbangan kecil perasa sebanyak cita rasa makanan. Mereka pun bersaksi bahwa Tajalli Asma Jalal serta Jamal-Mu, yang contohnya terlihat di dunia ini, akan terus berlangsung selama-lamanya dengan lebih terang; anugerah-anugerah-Mu, yang contohnya disaksikan di alam fana ini, akan terus ada dalam negeri kebahagiaan dengan lebih
gemilang serta tetap kekal; dan mereka yang penuh kerinduan, yang menyaksikannya di dunia ini, akan menyertainya serta berada bersamanya untuk selama-lamanya.
Seluruh nabi yang memiliki ruh gemilang, para wali yang menjadi kutub hati bercahaya, serta orang-orang suci pilihan yang memiliki akal terang—dengan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ dan Al-Qur'an Al-Hakîm di barisan terdepan—memberikan kabar gembira tentang kebahagiaan abadi kepada jin dan manusia dengan bersandar pada ratusan mukjizat yang terang serta ayat-ayat yang pasti. Mereka bersandar pada Janji serta Ancaman yang berulang kali Engkau sampaikan dalam seluruh suhuf dan kitab suci; percaya kepada Sifat-Sifat Suci serta Keadaan-Keadaan-Mu, seperti Kudrat, Rahmat, Pertolongan, Hikmah, Jalal, dan Jamal-Mu, juga Kemuliaan Jalal-Mu serta Kerajaan Rububiyah-Mu; dan berpegang pada apa yang tersingkap bagi mereka, apa yang mereka saksikan, serta keyakinan ilmulyaqin mereka. Mereka memberitakan dan mengumumkan bahwa neraka tersedia bagi orang-orang yang sesat; mereka beriman serta memberikan kesaksian.
WAHAI SANG QADÎR YANG HAKÎM! WAHAI AR-RAHMÂN YANG RAHÎM! WAHAI SADIKU'L-VA'Dİ'L-KERÎM! WAHAI SANG QAHHÂR DZUL-JALÂL, PEMILIK KEMULIAAN, KEAGUNGAN, DAN JALAL!
Engkau Mahasuci seratus ribu tingkat, Mahabersih serta Mahaluhur dengan tingkat yang tiada batas, dari membenarkan orang-orang sesat serta kafir dalam penolakan mereka terhadap kebangkitan. Mereka menyentuh Keagungan Kebesaran-Mu, melukai Kemuliaan Jalal-Mu, mengusik Martabat Ilahi-Mu, serta menyinggung Kasih Sayang Rububiyah-Mu melalui kekufuran, kedurhakaan, dan tuduhan bahwa Janji-Mu dusta. Membenarkan mereka akan berarti mendustakan begitu banyak sahabat-Mu yang setia, begitu banyak Janji-Mu, serta begitu banyak Sifat dan Syuunat-Mu; menolak tuntutan pasti Kerajaan Rububiyah-Mu, juga doa-doa dan permohonan-permohonan tak terbatas dari hamba-hamba-Mu yang diterima, yang Engkau cintai serta yang membuat diri mereka dicintai oleh-Mu dengan membenarkan dan menaati-Mu!
Aku menyatakan Keadilan, Keindahan, serta Rahmat-Mu yang tiada batas suci dari kezaliman dan keburukan yang tiada akhir seperti itu! Aku ingin mengucapkan ayat
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺗَﻌَﺎﻟٰﻰ ﻋَﻤَّﺎ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻋُﻠُﻮًّﺍ ﻛَﺒ۪ﻴﺮًﺍ
sebanyak seluruh zarah dalam tubuhku!
Sebaliknya, para utusan-Mu yang setia serta para penyeru Kerajaan-Mu yang benar itu bersaksi, memberikan isyarat, serta membawa kabar gembira—dengan haqqulyaqin, ainulyaqin, dan ilmulyaqin—tentang khazanah Rahmat akhirat-Mu, harta terpendam anugerah-Mu dalam alam yang kekal, serta manifestasi indah dan menakjubkan dari Asma-Mu yang indah, yang muncul sepenuhnya dalam negeri kebahagiaan. Dengan beriman bahwa salah satu sinar terbesar dari Nama "Al-Haqq", tempat kembali, matahari, serta pelindung seluruh hakikat, ialah
hakikat kebangkitan yang paling agung ini, mereka mengajarkannya kepada hamba-hamba-Mu.
WAHAI RABBÜ'L-ENBİYA VE'S-SIDDIKÎN!
Mereka semua berada dalam Kerajaan-Mu, ditundukkan serta diberi tugas melalui Perintah dan Kudrat-Mu, Kehendak dan Pengaturan-Mu, juga Ilmu dan Hikmah-Mu. Dengan takdis (menyatakan Allah سُبْحَانَهُ Mahasuci), takbir, tahmid, dan tahlil, mereka memperlihatkan bola bumi seperti tempat zikir yang sangat agung, serta kainat ini seperti masjid yang sangat besar.
Yâ Rabbî ve yâ Rabbe's-Semavatı Ve'l-Aradîn! Yâ Hâlıkî ve yâ Hâlık-ı Külli Şey!
Demi Kudrat, Kehendak, Hikmah, Kekuasaan, serta Rahmat-Mu yang menundukkan langit bersama bintang-bintangnya, bumi bersama seluruh isinya, dan semua makhluk dengan segala keadaannya, tundukkanlah nafsuku kepadaku! Tundukkanlah apa yang kuinginkan kepadaku! Demi khidmah kepada Al-Qur'an serta iman, tundukkanlah hati manusia kepada Risale-i Nur! Berikanlah iman yang sempurna serta husnul khatimah kepadaku dan saudara-saudaraku. Sebagaimana Engkau menundukkan laut kepada Nabi Musa Aleyhisselâm, api kepada Nabi Ibrahim Aleyhisselâm, gunung serta besi kepada Nabi Dawud Aleyhisselâm, jin serta manusia kepada Nabi Sulaiman Aleyhisselâm, dan matahari serta bulan kepada Nabi Muhammad ﷺ, tundukkanlah hati serta akal kepada Risale-i Nur! Lindungilah aku serta para murid Risale-i Nur dari keburukan nafsu dan setan, azab kubur, serta api neraka; dan bahagiakanlah kami dalam surga Firdaus, Âmîn, âmîn, âmîn!..
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﻭَ ﺍٰﺧِﺮُ ﺩَﻋْﻮٰﻳﻬُﻢْ ﺍَﻥِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ
Jika aku memiliki kekurangan dalam mempersembahkan pelajaran yang kuambil dari Al-Qur'an serta Cevşenü'l-Kebir (Zirah Besar), munajat Nabi ﷺ, ke hadirat Rabbku Yang Rahîm sebagai ibadah tafakur, maka dengan menjadikan Al-Qur'an serta Cevşenü'l-Kebir sebagai pemberi syafaat bagi pengampunan kesalahanku, aku memohon ampunan dari Rahmat-Nya.
--
Lem'a Kedua Puluh Enam
Kilau tentang Orang-Orang Lanjut Usia
Memuat dua puluh enam harapan dan cahaya penghiburan.
Peringatan:
Alasan aku menulis penderitaan batinku dengan sangat menyakitkan sampai membuat kalian sedih pada awal setiap “harapan” ialah untuk menunjukkan pengaruh luar biasa obat yang datang dari Al-Qur'an Al-Hakîm.
Lem'a tentang orang lanjut usia ini tidak dapat menjaga keindahan ungkapan dari tiga atau empat segi.
Pertama: Karena berkaitan dengan perjalanan hidupku, aku kembali dalam bayangan kepada masa-masa itu dan menulis dalam keadaan tersebut, sehingga ungkapannya menjadi tidak teratur.
Kedua: Karena ditulis ketika aku merasa sangat lelah setelah salat Subuh, sekaligus harus terburu-buru, ungkapan menjadi kurang teratur.
Ketiga: Karena tidak selalu ada orang yang menulis di sisiku, dan penulis yang ada juga memiliki empat atau lima tugas tentang Risale-i Nur, kami tidak mendapat waktu penuh untuk memperbaikinya, sehingga tulisan tetap tidak teratur.
Keempat: Karena segera setelah menulis kami berdua lelah, tidak dapat memikirkan maknanya dengan teliti, dan mencukupkan diri dengan perbaikan yang sangat sepintas, tentu akan terdapat kekurangan dalam cara mengungkapkan. Kami memohon orang-orang lanjut usia yang berjiwa besar memandang kekurangan ungkapanku dengan toleransi. Semoga orang-orang lanjut usia yang diberkahi, yang tidak dipulangkan dengan tangan kosong oleh Rahmat Ilahi, menyertakan kami dalam doa ketika mengangkat tangan ke Hadirat Ilahi.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻛٓﻬٰﻴٰﻌٓﺺٓ ﺫِﻛْﺮُ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺭَﺑِّﻚَ ﻋَﺒْﺪَﻩُ ﺯَﻛَﺮِﻳَّﺎ ٭ ﺍِﺫْ ﻧَﺎﺩٰﻯ ﺭَﺑَّﻪُ ﻧِﺪَٓﺍﺀً ﺧَﻔِﻴًّﺎ ٭ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺏِّ ﺍِﻧّ۪ﻰ ﻭَﻫَﻦَ ﺍﻟْﻌَﻈْﻢُ ﻣِﻨّ۪ﻰ ﻭَﺍﺷْﺘَﻌَﻞَ ﺍﻟﺮَّﺍْﺱُ ﺷَﻴْﺒًﺎ ﻭَﻟَﻢْ ﺍَﻛُﻦْ ﺑِﺪُﻋَٓﺎﺋِﻚَ ﺭَﺏِّ ﺷَﻘِﻴًّﺎ
Lem'a ini terdiri atas dua puluh enam harapan.
HARAPAN PERTAMA
Wahai saudara dan saudari lanjut usia yang dihormati, yang telah mencapai usia matang! Aku pun lanjut usia seperti kalian. Dengan keinginan agar kalian turut memperoleh harapan-harapan yang sesekali kutemukan pada masa tua serta cahaya penghiburan dalam harapan itu, aku akan menulis beberapa keadaan yang kualami. Cahaya yang kulihat dan pintu harapan yang kutemui tentu terlihat serta terbuka sesuai dengan bakatku yang tidak sempurna dan kurang teratur. İnşâallah, bakat kalian yang murni dan tulus akan memperterang cahaya yang kulihat serta semakin menguatkan harapan yang kutemukan.
Sumber, tambang, dan pancuran harapan serta cahaya yang akan datang itu ialah iman.
HARAPAN KEDUA
Ketika memasuki masa tua, pada suatu hari di musim gugur, pada waktu sore, aku memandang dunia dari sebuah gunung yang tinggi. Tiba-tiba, datang kepadaku keadaan yang sangat menyentuh, sedih, dan dari satu segi gelap. Aku melihat bahwa aku telah tua, hari pun telah tua, tahun pun telah tua, dan dunia pun telah tua. Di tengah semua masa tua ini, karena waktu berpisah dari dunia dan meninggalkan orang-orang yang kucintai semakin dekat, masa tua sangat mengguncangkanku. Tiba-tiba, Rahmat Ilahi terbuka demikian rupa sehingga mengubah kesedihan serta perpisahan yang menyentuh itu menjadi harapan yang kuat dan cahaya penghiburan yang terang.
Ya, wahai orang-orang lanjut usia sepertiku! Kita memiliki Sang Khâliq Yang Rahîm, Yang memperkenalkan Diri-Nya kepada kita melalui Sifat “Er-Rahmanu'r-Rahîm” di seratus tempat dalam Al-Qur'an Al-Hakîm. Dia terus mengirimkan Rahmat-Nya untuk menolong makhluk-makhluk hidup yang meminta belas kasih di muka bumi. Setiap tahun, dari alam gaib Dia memenuhi musim semi dengan nikmat serta hadiah yang tak terbatas, lalu mengirimkannya kepada kita yang membutuhkan rezeki. Dia memperlihatkan manifestasi Rahmat-Nya lebih besar sebanding dengan tingkat kelemahan dan keadaan tak berdaya. Rahmat Sang Khâliq kita itu merupakan harapan terbesar dan cahaya terkuat pada masa tua ini.
Menemukan Rahmat ini ialah terhubung kepada Ar-Rahmân melalui iman dan menaati-Nya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban fardu.
HARAPAN KETIGA
Pada suatu waktu, ketika aku bangun dari tidur malam masa muda dengan pagi masa tua, aku memandang diriku. Tubuhku bergerak seolah-olah berlari menuruni sebuah lereng menuju kubur. Seperti perkataan Niyazi-i Mısrî,
Setiap hari satu batu bangunan umurku jatuh ke tanah,
Jiwa terbaring lalai, tak tahu bangunannya telah menjadi puing.
Demikian pula, tubuhku, rumah ruhku, menjadi usang karena satu batunya jatuh setiap hari. Harapan dan cita-cita yang mengikatku kuat kepada dunia mulai terputus. Aku merasakan bahwa waktu berpisah dari sahabat dan orang-orang tercinta yang tak terhitung semakin dekat. Aku mencari salep bagi luka batin yang sangat dalam dan tampak tanpa obat itu, tetapi tidak menemukannya. Seperti Niyazi-i Mısrî lagi, aku berkata:
Hatiku menghendaki kekal; Al-Haqq menghendaki lenyapnya kerajaan tubuhku.
Aku jatuh dalam penyakit tanpa obat; âh, Luqman pun tidak tahu.
{(Catatan kaki): Artinya, meskipun hatiku menghendaki kekal dengan seluruh kekuatannya, Hikmah Ilahi menuntut tubuhku rusak. Aku jatuh dalam penyakit tanpa obat, yang bahkan Tabib Luqman tidak dapat menemukan penawarnya.}
Saat itu, tiba-tiba cahaya, syafaat, dan hadiah hidayah yang dibawa kepada manusia oleh Nabi Yang Agung ﷺ, yang merupakan lisan, contoh, gambaran, penyeru, dan wakil Belas Kasih Ilahi, menjadi salep serta penawar yang indah bagi luka yang kusangka tanpa obat dan tak terbatas. Hal itu mengubah putus asaku yang gelap menjadi harapan yang bercahaya.
Ya, wahai saudara dan saudari lanjut usia yang dihormati, yang merasakan masa tuanya sepertiku! Kita sedang pergi; tidak ada manfaat menipu diri. Sekalipun kita menutup mata, kita tidak akan dibiarkan tinggal di sini; ada keberangkatan. Namun, negeri barzakh yang tampak penuh perpisahan dan gelap bagi kita, akibat sangkaan gelap yang berasal dari kelalaian dan sebagian dari orang-orang yang sesat, merupakan tempat berkumpulnya sahabat-sahabat. Negeri itu adalah alam untuk bertemu dengan seluruh sahabat kita, terutama Habibullah ﷺ, pemberi syafaat kita.
Ya, selama seribu tiga ratus lima puluh tahun, pada setiap tahun Ahmad ﷺ menjadi sultan tiga ratus lima puluh juta manusia, pembimbing ruh, pengajar akal, dan kekasih hati mereka. Setiap hari, melalui rahasia
ﺍَﻟﺴَّﺒَﺐُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺎﻋِﻞِ
, kebaikan yang setara dengan seluruh amal baik umatnya ditambahkan ke lembaran amal baiknya. Beliau merupakan sarana Tujuan-Tujuan Luhur Ilahi dalam kainat ini serta sebab meningkatnya nilai makhluk-makhluk. Sebagaimana pada saat datang ke dunia beliau berkata “ümmetî ümmetî” melalui riwayat sahih dan penglihatan batin yang benar, ketika setiap orang berkata “nefsî nefsî” di padang mahsyar, beliau kembali berkata “ümmetî ümmetî”. Dengan pengorbanan yang paling suci dan paling luhur, beliau kembali bergegas menolong umatnya melalui syafaatnya. Kita sedang menuju alam tempat pribadi itu pergi. Kita menuju suatu alam yang diterangi bintang-bintang orang-orang suci pilihan serta wali yang tak terbatas di sekeliling matahari tersebut.
Cara untuk berada di bawah syafaat pribadi itu, mengambil manfaat dari cahayanya, dan terbebas dari gelap alam barzakh ialah mengikuti sunah yang luhur.
HARAPAN KEEMPAT
Pada suatu waktu, karena aku telah memasuki masa tua, kesehatan tubuhku yang mempertahankan kelalaian juga rusak. Masa tua dan penyakit menyerangku bersama-sama. Dengan memukul kepalaku berulang kali, keduanya mengusir tidurku. Aku juga tidak memiliki ikatan seperti istri, anak-anak, atau harta yang akan mengikatku kepada dunia. Aku melihat bahwa buah-buah modal umur yang kusia-siakan dalam mabuk masa muda semuanya berupa dosa dan kesalahan. Dengan menjerit seperti Niyazi-i Mısrî, aku berkata:
Aku tak melakukan perdagangan; modal umur menjadi sia-sia,
Aku tiba di jalan, tetapi seluruh kafilah telah berangkat tanpa kuketahui.
Menangis dan meratap, aku menempuh jalan sendirian dan terasing,
Mata menangis, dada terbakar, akal bingung dan tak tahu.
Saat itu aku jauh dari kampung halaman. Aku merasakan kesedihan penuh putus asa, duka penuh penyesalan, dan kerinduan yang memohon pertolongan. Tiba-tiba, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya datang menolong. Ia membuka pintu harapan yang begitu kuat kepadaku dan memberikan cahaya penghiburan yang demikian sejati sehingga dapat menghilangkan putus asa seratus kali lebih besar daripada keadaanku itu dan mengusir gelap tersebut.
Ya, wahai saudara dan saudari lanjut usia yang dihormati, yang hubungannya dengan dunia mulai terputus dan tali-tali ikatannya dengan dunia mulai putus sepertiku! Sang Pembuat Dzul-Jalâl menciptakan dunia ini seperti sebuah kota dan istana yang paling sempurna serta teratur. Mungkinkah Dia tidak berbicara dan berhubungan dengan tamu serta sahabat-Nya yang paling penting di kota dan istana itu? Karena Dia membangun istana ini dengan mengetahui serta mengatur dan menghiasinya dengan Kehendak dan Pilihan-Nya, tentu, sebagaimana yang membuat mengetahui, yang mengetahui juga berbicara. Karena Dia menjadikan istana dan kota ini tempat bertamu serta berdagang yang indah bagi kita, tentu terdapat suatu catatan dan kitab yang menunjukkan Hubungan-Nya dengan kita serta hal-hal yang Dia kehendaki dari kita.
Catatan suci yang paling sempurna itu ialah Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, yang merupakan mukjizat dari empat puluh segi. Setiap menit, ia beredar setidaknya pada lisan seratus juta orang dan menebarkan cahaya. Setiap hurufnya memberikan sekurang-kurangnya sepuluh pahala dan sepuluh kebaikan, terkadang sepuluh ribu, serta terkadang, melalui rahasia Lailatulqadar, tiga puluh ribu kebaikan, buah surga, dan cahaya barzakh bagi satu hurufnya. Tidak ada kitab dalam kainat yang dapat menandinginya pada kedudukan ini, dan tidak seorang pun dapat menunjukkan kitab seperti itu.
Karena Al-Qur'an yang ada di tangan kita ini merupakan Kalam dan Firman Sang Khâliq Dzul-Jalâl, Pencipta langit serta bumi, dan Kalam itu datang dari Rububiyah-Nya Yang Mutlak, dari Keilahian-Nya Yang Agung, dan dari Rahmat-Nya Yang Meliputi Segala Sesuatu, ia merupakan tambang Rahmat. Berpeganglah kepadanya. Di dalamnya terdapat penawar bagi setiap penyakit, cahaya bagi setiap gelap, dan harapan bagi setiap putus asa.
Kunci khazanah yang kekal ini ialah iman, berserah diri, mendengarkannya, menerimanya, dan membacanya.
HARAPAN KELIMA
Pada suatu waktu di awal masa tuaku, dengan keinginan mengasingkan diri, ruhku mencari istirahat dalam kesendirian di Bukit Yuşa, di sisi selat Istanbul. Pada suatu hari, dari bukit yang tinggi itu aku memandang lingkaran cakrawala dan sekeliling. Melalui peringatan masa tua, aku melihat suatu gambaran lenyap dan perpisahan yang sangat sedih serta menyentuh.
Dari kedudukan yang tinggi pada cabang keempat puluh lima pohon umurku, yaitu tahun keempat puluh lima kehidupanku, aku mengedarkan pandangan sampai ke lapisan-lapisan bawah hidupku. Aku melihat bahwa di bawah sana, pada setiap cabang, dalam setiap tahun, terdapat jenazah yang tak terhitung dari orang-orang yang kucintai, yang terhubung denganku, dan yang kukenal. Dalam rasa sakit batin yang sangat menyentuh akibat perpisahan dan meninggalkan itu, dengan memikirkan sahabat-sahabat yang berpisah seperti Fuzulî-i Bağdadî, aku merintih:
Setiap kali mengingat pertemuan denganmu, aku menangis,
Selama masih ada napas dalam tubuhku yang kering, aku menjerit.
Dengan berkata demikian, aku mencari pintu penghiburan, cahaya, dan harapan. Tiba-tiba, cahaya iman kepada akhirat datang menolong. Ia memberikan cahaya yang tidak pernah padam dan harapan yang tidak pernah patah.
Ya, wahai saudara dan saudari lanjut usia sepertiku! Karena akhirat ada, kekal, dan lebih indah daripada dunia, serta Dia Yang Menciptakan kita adalah Hakîm dan Rahîm, kita tidak boleh mengeluh serta bersedih tentang masa tua. Sebaliknya, masa tua merupakan tanda bahwa melalui iman dan ibadah manusia mencapai usia matang, dibebaskan dari tugas kehidupan, dan menuju alam Rahmat untuk beristirahat. Karena itu, kita harus merasa senang terhadapnya.
Ya, sebagaimana disebutkan dalam teks hadis, seratus dua puluh empat ribu nabi, pribadi-pribadi paling unggul dalam umat manusia, melalui kesepakatan dan berita mutawatir (diberitakan oleh banyak orang), sebagian berdasarkan menyaksikan langsung dan sebagian berdasarkan haqqulyaqin, bersama-sama memberitakan adanya akhirat, bahwa manusia akan dibawa ke sana, serta bahwa Khâliq kainat ini akan mendatangkan akhirat yang telah Dia janjikan dengan pasti. Seratus dua puluh empat juta wali membenarkan berita mereka melalui penglihatan batin dan menyaksikan langsung, dengan ilmulyaqin, serta memberikan kesaksian tentang adanya akhirat itu. Seluruh Asma Sang Pembuat Yang Hakîm yang menciptakan kainat ini, melalui manifestasi yang diperlihatkan di dunia, dengan jelas menuntut adanya alam yang kekal dan juga menunjukkan adanya akhirat. Setiap tahun pada musim semi, suatu Kudrat Azali yang tak terbatas menghidupkan jenazah pohon-pohon mati yang tetap berdiri di muka bumi, yang tak terhitung, melalui “Emr-i kün feyekûn”, dan membuatnya bangkit setelah mati. Kudrat itu menghimpun dan menyebarkan tiga ratus ribu jenis dari kaum tumbuhan dan bangsa hewan sebagai ratusan ribu contoh kebangkitan serta penyebaran. Suatu Hikmah Yang Kekal, yang tak terhitung dan tanpa pemborosan, juga menjadi bukti. Adapun Yang memberi makan seluruh makhluk berjiwa yang membutuhkan rezeki dengan Kasih Sayang Yang Sempurna dan cara yang sangat luar biasa, serta memperlihatkan berbagai jenis hiasan dan keindahan yang tak terhitung dalam waktu singkat setiap musim semi, ialah suatu
Rahmat Yang Kekal dan Pertolongan Yang Terus Berlangsung. Semuanya dengan jelas menuntut adanya akhirat. Manusia, buah kainat yang paling sempurna, ciptaan yang paling dicintai Khâliq kainat, dan yang paling erat terhubung dengan makhluk-makhluk kainat, memiliki cinta untuk kekal, semangat untuk hidup selama-lamanya, serta harapan untuk kekal tanpa akhir, yang kuat, tidak tergoyahkan, dan terus bertahan. Melalui isyarat serta petunjuk yang jelas, semuanya membuktikan dengan demikian pasti bahwa setelah alam yang sementara ini terdapat alam yang kekal, negeri akhirat, dan negeri kebahagiaan, sehingga menuntut manusia menerima adanya akhirat sejelas menerima adanya dunia. {(Catatan kaki): Ya, mudahnya memberitakan adanya sesuatu dan sangat sulitnya mengingkari serta menyatakan bahwa sesuatu itu tidak ada tampak melalui perumpamaan ini. Demikianlah: Seseorang berkata, “Di bumi terdapat sebuah kebun yang sangat luar biasa, yang buah-buahnya berupa susu kaleng.” Orang lain berkata, “Tidak ada.” Orang yang menetapkan adanya kebun itu dengan mudah membuktikan pernyataannya hanya dengan menunjukkan tempatnya atau beberapa buahnya. Untuk membuktikan penyangkalannya, orang yang mengingkari dapat membuktikan pernyataannya dengan melihat dan menunjukkan seluruh bumi.
Demikian pula, terlepas dari ratusan ribu pancaran, buah, dan jejak surga yang ditunjukkan oleh orang-orang yang memberitakannya, kesaksian dua saksi yang benar cukup untuk menetapkan adanya surga. Sebaliknya, orang yang mengingkarinya baru dapat membuktikan penyangkalannya dan menunjukkan bahwa surga tidak ada setelah menyaksikan, melihat, serta memeriksa seluruh kainat yang tak terbatas dan waktu kekal yang tak terbatas.
Wahai saudara-saudaraku yang lanjut usia! Pahamilah betapa kuat iman kepada akhirat.}
Karena salah satu pelajaran terpenting yang diberikan Al-Qur'an Al-Hakîm kepada kita ialah “iman kepada akhirat”, dan iman itu demikian kuat, di dalamnya terdapat harapan serta penghiburan yang dapat mengimbangi bahkan seratus ribu masa tua yang menimpa satu pribadi. Kita yang lanjut usia harus berkata "Elhamdülillahi alâ kemali'l-iman" dan bergembira atas masa tua kita.
HARAPAN KEENAM
Pada suatu masa ketika aku tertawan dengan menyakitkan, aku merasa gentar terhadap manusia dan tinggal sendirian di puncak Gunung Çam, di Dataran Tinggi Barla. Dalam kesendirian aku mencari cahaya. Pada suatu malam, aku berada di sebuah kamar kecil yang terbuka di atas pohon pinus tinggi di puncak yang tinggi itu. Masa tua mengingatkanku akan tiga atau empat keadaan terasing yang berada di dalam satu sama lain.
Seperti dijelaskan dalam Surat Keenam, malam itu sunyi dan senyap. Hanya suara sedih yang berasal dari gemerisik serta gumaman pepohonan semakin menyentuh rasa iba, masa tua, dan keadaanku yang terasing.
Masa tua berkata kepada telinga hatiku: sebagaimana siang berubah menjadi sebuah kubur hitam dan dunia mengenakan kain kafannya yang hitam, demikian pula siang umurmu akan berubah menjadi malam, siang dunia menjadi malam barzakh, dan musim panas kehidupan menjadi malam musim dingin kematian. Nafsuku terpaksa berkata: Ya, sebagaimana aku terasing dari tanah airku, aku juga terpisah dari orang-orang tercinta yang telah berlalu selama lima puluh tahun umurku dan tertinggal di belakang mereka sambil menangis. Keadaan terasing ini lebih sedih dan menyakitkan daripada terasing dari tanah air. Aku mendekati keadaan terasing yang lebih sedih serta menyakitkan daripada keadaanku yang asing dan sedih pada malam serta gunung ini. Sebab, masa tua memberitahuku bahwa waktu berpisah sekaligus dari seluruh dunia semakin dekat.
Dalam keadaan terasing di dalam terasing dan kesedihan di dalam kesedihan ini, aku mencari harapan serta cahaya. Tiba-tiba, iman kepada Allah سُبْحَانَهُ datang menolong. Iman memberikan keakraban demikian besar sehingga sekalipun rasa ngeri berlipat yang kualami menjadi seribu kali lebih besar, penghiburan itu tetap mencukupi.
Ya, wahai saudara dan saudari lanjut usia! Karena kita memiliki Sang Khâliq Yang Rahîm, tidak mungkin ada keadaan terasing bagi kita. Karena Dia Ada, segala sesuatu ada bagi kita. Karena Dia Ada, para malaikat-Nya juga ada. Maka, dunia ini tidak kosong. Gunung-gunung sunyi dan padang-padang kosong dipenuhi hamba-hamba Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Selain hamba-hamba-Nya yang memiliki kesadaran, melalui Cahaya-Nya dan atas Nama-Nya, batu serta pohon pun menjadi sahabat yang akrab. Melalui bahasa keadaan, mereka dapat berbicara dengan kita dan menyenangkan kita.
Ya, bukti dan saksi sebanyak jumlah makhluk kainat ini serta huruf-huruf kitab besar alam ini memberikan kesaksian tentang Wujud-Nya. Bukti dan saksi sebanyak perlengkapan, makanan, serta nikmat bagi makhluk-makhluk berjiwa, yang dapat menjadi sarana Kasih Sayang, Rahmat, dan Pertolongan, menunjukkan Rahmat-Nya. Semuanya menunjukkan Hadirat Sang Khâliq, Sang Pembuat, dan Sang Pelindung kita, Yang Rahîm, Karîm, Anîs, dan Wadûd. Perantara syafaat yang paling diterima di Hadirat itu ialah keadaan tak berdaya dan kelemahan. Masa tua adalah saat keadaan tak berdaya dan kelemahan itu benar-benar nyata. Kita harus mencintai masa tua, perantara syafaat yang diterima di Hadirat seperti itu, bukan merasa kecewa kepadanya.
HARAPAN KETUJUH
Pada suatu waktu di awal masa tua, ketika tawa Said Lama berubah menjadi tangis Said Baru, orang-orang yang mencintai dunia di Ankara menganggapku Said Lama dan memintaku datang ke sana; aku pun pergi. Pada akhir musim gugur, aku naik ke puncak benteng Ankara yang jauh lebih tua, usang, dan lapuk daripada diriku. Benteng itu tampak kepadaku seperti
peristiwa-peristiwa sejarah yang telah membatu. Musim tua tahun itu, masa tuaku, tuanya benteng, tuanya umat manusia, tuanya Negara Utsmani yang mulia, wafatnya kekuasaan khilafah, dan tuanya dunia membuatku, dalam keadaan yang sangat sedih, menyentuh, serta penuh perpisahan, memandang lembah-lembah masa lalu dan gunung-gunung masa depan dari benteng yang tinggi itu. Aku pun memandang. Di tengah gelap empat atau lima masa tua yang meliputiku berlapis-lapis, aku merasakan keadaan ruh yang paling gelap di Ankara, {(Catatan kaki): Saat itu, keadaan ruh ini datang ke hati dalam bentuk munajat bahasa Persia; aku menuliskannya. Tulisan itu dicetak dalam Hubab Risalesi (Risalah Gelembung) di Ankara.} sehingga aku mencari cahaya, penghiburan, dan harapan.
Ketika memandang ke kanan, yaitu masa lalu, sambil mencari penghiburan, masa lalu tampak kepadaku sebagai kuburan terbesar ayah, leluhur, dan umat manusia. Sebagai ganti penghiburan, ia memberikan rasa ngeri.
Aku memandang ke sisi kiri, masa depan, untuk mencari obat. Aku melihatnya tampak sebagai kubur besar dan gelap bagi diriku, orang-orang sepertiku, serta generasi yang akan datang. Sebagai ganti keakraban, ia memberikan kengerian.
Merasa ngeri terhadap kanan dan kiri, aku memandang hariku saat ini. Dalam pandanganku yang lalai serta seperti memandang sejarah, hari itu tampak sebagai peti yang membawa jenazah tubuhku, yang sedang setengah mati dan menderita dalam gerak sekarat.
Kemudian, ketika putus asa juga dari arah itu, aku mengangkat kepala dan memandang puncak pohon umurku. Aku melihat bahwa pohon itu hanya memiliki satu buah, yaitu jenazahku; buah itu berada di atas pohon dan memandangku.
Merasa ngeri juga dari arah tersebut, aku menundukkan kepala dan memandang bagian bawah serta akar pohon umur itu. Aku melihat tanah di bawah sana, tempat tanah tulang-belulangku dan tanah asal penciptaanku bercampur, diinjak-injak di bawah kaki. Hal itu bukan obat, melainkan menambah penderitaanku.
Kemudian aku terpaksa memandang ke belakang. Aku melihat dunia yang sementara dan tidak memiliki landasan bergulir pergi dalam lembah-lembah hampa serta gelap tanpa wujud. Ketika aku mencari salep bagi penderitaanku, dunia menambahkan racun.
Karena tidak menemukan kebaikan juga pada arah tersebut, aku memandang ke depan dan mengarahkan pandangan jauh. Aku melihat pintu kubur terbuka tepat di jalanku, menganga dan memandangku. Di belakangnya, jalan besar menuju masa tanpa akhir
serta rombongan-rombongan yang menempuh jalan itu tampak dari kejauhan.
Untuk menghadapi kengerian yang datang dari keenam arah ini, aku tidak memiliki apa pun selain kehendak bebas manusia yang sangat terbatas, sebagai titik sandaran dan senjata pertahanan. Kehendak bebas itu, satu-satunya senjata manusia terhadap musuh yang tak terbatas serta hal-hal berbahaya yang tak terhitung, tidak sempurna, pendek jangkauannya, tak berdaya, dan tidak dapat menciptakan. Karena itu, ia tidak mampu melakukan sesuatu selain kasb. Ia tidak dapat memasuki masa lalu untuk menghentikan kesedihan yang datang darinya kepadaku, dan tidak dapat memasuki masa depan untuk menghalangi ketakutan yang datang darinya. Aku melihat bahwa ia tidak memberi manfaat bagi harapan dan penderitaanku yang berkaitan dengan masa lalu serta masa depan.
Ketika aku meronta dalam kengerian, rasa ngeri, gelap, dan putus asa yang datang dari keenam arah ini, tiba-tiba cahaya-cahaya iman yang bersinar di langit Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya datang menolong. Cahaya itu menerangi keenam arah demikian besar sehingga sekalipun rasa ngeri serta gelap yang kulihat menjadi seratus kali lebih besar, cahaya itu tetap cukup dan memenuhi kebutuhan untuk menghadapinya. Cahaya itu mengubah satu demi satu seluruh kengerian menjadi penghiburan dan seluruh rasa ngeri menjadi keakraban. Demikianlah:
Iman merobek rupa kuburan terbesar dari masa lalu yang mengerikan itu, lalu menunjukkan dengan ainulyaqin dan haqqulyaqin bahwa masa lalu merupakan majelis yang terang serta akrab dan tempat berkumpulnya sahabat-sahabat.
Iman juga menunjukkan dengan ilmulyaqin bahwa masa depan, yang tampak seperti kubur terbesar dalam pandangan yang lalai, merupakan majelis jamuan Ar-Rahmân di istana-istana kebahagiaan yang menyenangkan.
Iman juga menghancurkan bentuk peti dari masa kini serta hari ini, yang tampak sebagai peti dalam pandangan yang lalai. Melalui apa yang disaksikan, iman menunjukkan bahwa hari ini merupakan toko untuk perdagangan akhirat serta tempat bertamu Ar-Rahmân yang megah.
Iman juga menunjukkan dengan ilmulyaqin bahwa satu-satunya buah pada puncak pohon umur, yang tampak sebagai jenazah melalui pandangan yang lalai, bukan jenazah. Sebaliknya, yang terjadi ialah ruhku, yang memperoleh kehidupan kekal dan menjadi calon penerima kebahagiaan untuk selama-lamanya, keluar dari sarangnya yang usang untuk berjalan-jalan di antara bintang.
Melalui rahasia iman, iman juga menunjukkan bahwa tulang-belulangku serta tanah asal penciptaanku bukan tulang-belulang yang lenyap tanpa arti di bawah kaki. Sebaliknya, tanah itu adalah pintu Rahmat dan tabir ruang surga.
Melalui rahasia Al-Qur'an, iman juga menunjukkan keadaan dunia yang bergulir dalam hampa serta gelap tanpa wujud di belakangku, menurut pandangan yang lalai. Dunia yang bergulir dalam gelap lahir itu sebenarnya merupakan sebagian surat-surat milik Sang Shamad dan lembaran-lembaran ukiran Sang Mahasuci, yang tugasnya telah selesai, maknanya telah dinyatakan, dan telah meninggalkan hasil-hasilnya, yang tetap terwujud, sebagai ganti dirinya. Dengan ilmulyaqin, iman memberitahukan inti dunia.
Melalui cahaya Al-Qur'an, iman juga menunjukkan bahwa kubur di depan, yang membuka mata dan memandangku, bukan pintu sumur, melainkan pintu alam cahaya. Jalan besar di belakang kubur yang menuju masa tanpa akhir itu bukan jalan menuju hampa dan negeri tidak ada, melainkan jalan menuju wujud, negeri cahaya, serta kebahagiaan untuk selama-lamanya. Karena menunjukkan hal ini sampai tingkat yang memberi keyakinan penuh, iman menjadi obat sekaligus salep bagi penderitaanku.
Iman juga memberi kehendak bebas manusia yang sangat terbatas itu sebuah dokumen, sebagai ganti hanya mengandalkan kasbnya yang sangat kecil, agar dapat bersandar kepada Kudrat Yang Tak Terbatas serta terhubung kepada Rahmat Yang Tak Terbatas dalam menghadapi musuh dan gelap yang tak terbatas itu. Bahkan, iman itu sendiri menjadi dokumen dalam tangan kehendak bebas tersebut.
Meskipun kehendak bebas manusia, senjata manusia itu, pada dirinya sendiri pendek jangkauannya, tak berdaya, dan tidak sempurna, sebagaimana seorang prajurit yang menggunakan kekuatannya yang kecil atas nama negara melakukan pekerjaan ribuan kali lebih besar daripada kekuatannya, demikian pula melalui rahasia iman, jika kehendak bebas manusia yang terbatas itu digunakan atas Nama Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan di Jalan-Nya, ia bahkan dapat memperoleh surga yang luasnya lima ratus tahun perjalanan.
Iman juga mengambil kendali kehendak bebas manusia, yang tidak dapat menembus masa lalu serta masa depan, dari tangan tubuh, lalu menyerahkannya kepada hati dan ruh. Lingkup kehidupan ruh serta hati tidak terbatas pada masa kini seperti tubuh. Karena begitu banyak tahun dari masa lalu dan begitu banyak tahun dari masa depan masuk ke lingkup kehidupannya, kehendak bebas manusia itu keluar dari sifat juz'i dan memperoleh sifat universal. Sebagaimana melalui kekuatan iman ia dapat memasuki lembah-lembah masa lalu yang paling dalam dan mengusir gelap kesedihan, melalui cahaya iman ia juga naik sampai gunung-gunung masa depan yang paling jauh dan menghilangkan ketakutan.
Wahai saudara dan saudari lanjut usia yang menanggung kesulitan masa tua sepertiku! Karena elhamdülillah kita adalah ahli iman, dan karena dalam iman terdapat khazanah yang begitu bercahaya, nikmat, menyenangkan, dan manis, serta karena masa tua kita semakin mendorong kita ke dalam khazanah itu, tentu kita tidak boleh mengeluh atas masa tua yang beriman. Sebaliknya, kita harus berterima kasih ribuan kali.
HARAPAN KEDELAPAN
Ketika rambut-rambut putih, tanda masa tua, muncul di kepalaku, gejolak Perang Dunia dan kekacauan masa tertawanku semakin memperdalam tidur masa muda. Kemudian, ketika aku datang ke Istanbul, terdapat kedudukan yang membawa kemasyhuran dan kehormatan penting. Bahkan, mulai dari Khalifah, Syekhul Islam, dan Panglima Tertinggi sampai para murid madrasah, mereka menunjukkan perhatian baik serta penghargaan yang jauh melampaui kelayakanku. Karena itu, mabuk masa muda dan keadaan ruh yang berasal dari kedudukan tersebut memperdalam tidur itu demikian rupa sehingga aku hampir melihat dunia sebagai sesuatu yang kekal dan diriku melekat pada dunia dalam keadaan aneh, seolah-olah tidak akan mati.
Pada masa itu, di bulan Ramadan yang mulia, aku pergi ke Masjid Bayezid yang diberkahi di Istanbul untuk mendengarkan para penghafal Al-Qur'an yang ikhlas. Melalui seruan surgawinya yang luhur dan melalui lisan para penghafal, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya mengumumkan dengan sangat kuat Firman
ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَٓﺍﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ
, yang memberitakan bahwa manusia tidak kekal dan makhluk hidup akan wafat. Firman itu masuk ke telingaku, menetap jauh di dalam hati, serta menghancurkan satu demi satu lapisan kelalaian, tidur, dan mabuk yang sangat tebal itu. Aku keluar dari masjid. Dengan rasa pening dari tidur lama yang sejak dahulu menetap di kepalaku, selama beberapa hari aku melihat diriku seperti badai di kepala, api yang berasap, dan kapal yang kompasnya kehilangan arah. Setiap kali memandang rambutku di cermin, rambut-rambut putih berkata kepadaku, “Perhatikan!” Melalui peringatan rambut-rambut putih itu, keadaan menjadi jelas.
Aku melihat masa muda yang sangat kuandalkan dan yang kenikmatannya membuatku terpikat berkata selamat tinggal. Kehidupan duniawi yang sangat kucintai serta mengikatku mulai padam. Dunia yang sangat mengikatku dan hampir kucintai dengan penuh gairah berkata kepadaku, “Semoga perjalananmu baik,” dan mengingatkan bahwa aku akan meninggalkan tempat bertamu. Dunia itu sendiri berkata, “Kutitipkan engkau kepada Allah سُبْحَانَهُ,” dan juga bersiap untuk pergi.
Dalam cakupan menyeluruh ayat
ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَٓﺍﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ
dari Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, melalui isyarat ayat itu makna berikut terbuka dalam hati: “Umat manusia adalah satu jiwa; ia akan mati untuk dibangkitkan kembali. Bumi juga satu jiwa; ia pun akan mati untuk memasuki bentuk yang kekal. Dunia juga satu jiwa; ia pun akan mati untuk memasuki bentuk akhirat!”
Dalam keadaan ini, aku melihat keadaanku: masa muda, sumber kenikmatan, pergi, dan masa tua, sumber kesedihan, datang menggantikannya. Kehidupan yang sangat terang
dan bercahaya pergi; kematian yang dari luar tampak gelap serta mengerikan bersiap datang menggantikannya. Aku melihat dunia yang sangat menyenangkan, yang dianggap kekal dan menjadi kekasih orang-orang lalai, menuju lenyap dengan sangat cepat.
Untuk menipu diri sendiri dan kembali memasukkan kepalaku ke dalam kelalaian, aku memandang kenikmatan kedudukan dalam masyarakat di Istanbul yang kuterima jauh melampaui kelayakanku. Tidak ada manfaatnya. Seluruh perhatian, penghargaan, dan penghiburan mereka hanya dapat sampai ke pintu kubur yang dekat kepadaku, lalu padam di sana. Di bawah tabir indah kemasyhuran serta kehormatan, tujuan khayalan para pemuja kemasyhuran, aku melihat riya yang berat, pamer diri yang dingin, dan rasa pening sementara. Karena itu, aku memahami bahwa perkara-perkara yang selama ini menipuku tidak dapat memberikan penghiburan apa pun dan tidak memiliki cahaya.
Untuk bangun sepenuhnya, aku kembali mendengarkan para penghafal di Masjid Bayezid guna mendengar pelajaran surgawi Al-Qur'an. Saat itu, melalui pelajaran surgawi tersebut, aku mendengar kabar-kabar gembira melalui Firman-Firman Suci seperti
ﻭَ ﺑَﺸِّﺮِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ
ilâ âhir... Dengan limpahan yang kuterima dari Al-Qur'an, aku mencari penghiburan, harapan, dan cahaya di dalam pokok-pokok yang sebelumnya memberiku kengerian, rasa ngeri, serta putus asa, bukan mencari penghiburan dari luar. Seratus ribu syukur kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, karena aku menemukan obat tepat di dalam penderitaan, cahaya tepat di dalam gelap, dan penghiburan tepat di dalam kengerian.
Pertama-tama, aku memandang wajah kematian, yang menakutkan semua orang dan dianggap paling mengerikan. Melalui cahaya Al-Qur'an, aku melihat bahwa meskipun cadar kematian gelap, hitam, dan buruk, wajahnya yang sejati bagi seorang mukmin bercahaya serta indah. Kami telah membuktikan hakikat ini dengan pasti dalam banyak risalah. Seperti dijelaskan dalam banyak risalah, seperti Kalimat Kedelapan dan Surat Kedua Puluh, kematian bukan lenyap atau perpisahan, melainkan awal serta permulaan kehidupan yang kekal, saat berhenti dan dibebaskan dari beban tugas kehidupan, serta berpindah tempat. Kematian adalah bertemu rombongan sahabat yang telah berpindah ke alam barzakh. Melalui hakikat-hakikat seperti ini, aku melihat wajah sejati kematian yang indah. Aku memandang wajah kematian bukan dengan takut, melainkan dari satu segi dengan penuh rindu. Aku memahami salah satu rahasia mengingat kematian menurut para ahli tarekat.
Kemudian, aku memandang masa mudaku yang telah berlalu dalam dosa serta kelalaian, yang ketika lenyap membuat setiap orang menangis dan membuat setiap orang terpikat serta rindu kepadanya. Di dalam pakaian luar yang indah dan berhias itu (pakaiannya), aku melihat wajah yang sangat buruk, mabuk, dan pening. Seandainya aku tidak mengetahui intinya, sebagai ganti membuatku
mabuk dan tertawa selama beberapa tahun, masa muda akan membuatku menangis jika aku tinggal seratus tahun di dunia. Sebagaimana salah seorang dari mereka berkata sambil menangis:
ﻟَﻴْﺖَ ﺍﻟﺸَّﺒَﺎﺏَ ﻳَﻌُﻮﺩُ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻓَﺎُﺧْﺒِﺮَﻩُ ﺑِﻤَﺎ ﻓَﻌَﻞَ ﺍﻟْﻤَﺸ۪ﻴﺐُ
. Artinya, “Seandainya masa mudaku kembali satu hari, aku akan mengadu dan memberitahunya betapa sedih keadaan yang dibawa masa tua kepadaku.” Ya, seperti orang ini, orang-orang lanjut usia yang tidak mengetahui inti masa muda memikirkan masa muda mereka dan menangis dengan sesal serta kerinduan.
Padahal, jika masa muda terdapat pada mukmin yang memiliki hati hidup, rasa hadir di hadapan-Nya, akal yang sehat, dan hati yang baik, serta digunakan untuk ibadah, amal baik, dan perdagangan akhirat, masa muda merupakan sarana perdagangan yang paling kuat serta sarana amal baik yang indah dan manis. Masa muda itu merupakan nikmat Ilahi yang berharga serta menyenangkan bagi orang-orang yang mengetahui tugas agamanya dan tidak menyalahgunakannya. Jika tidak disertai istikamah, menjaga kehormatan diri, dan takwa, masa muda memiliki banyak bahaya. Dengan melampaui batas, seseorang merusak kebahagiaan kekal serta kehidupan akhiratnya, bahkan menghancurkan kehidupan duniawinya. Bahkan, sebagai ganti satu atau dua tahun kesenangan masa muda, ia menanggung duka dan kesedihan selama banyak tahun pada masa tua.